NEWS UPDATE

Borok Irigasi Bubi SBT Terbongkar

Proyek Dengan Nilai Terbesar Setelah JMP Ini Amburadul

MUNGKIN karena lokasinya yang jauh dari pusat perhatian, banyak yang tidak tahu bahwa ada proyek terbesar kedua di Maluku setelah Jembatan Merah Putih (JMP) yaitu proyek irigasi D.I Bubi, Kecamatan Seram Bagian Timur (SBT) yang saat ini tengah dirundung masalah besar.

Anggaran ratusan milyar rupiah  yang digelontorkan pemerintah pada tahun anggaran 2017 untuk pembangunan sarana penunjang pengarian bagi petani sawah di dua kabupaten, baik SBT maupun Maluku Tengah itu amburadul dan nyaris gagal total.

Bagaimana tidak, nilai proyek sebesar Rp226.904.174.000 yang tendernya dimenangkan oleh Gunakarya-Basuki KSO itu, baru sekitar 40 lebih persen saja yang dikerjakan, sementara anggarannya sudah tidak lagi tersedia alias telah dikuras habis di Bank Mandiri KCP Mid Plaza, Jalan Sudriman, Jakarta oleh calo proyek bernama Emi.

Sadisnya, calo bernama Emi ini berhasil membobol rekening KSO Proyek D. I  Bubi ini dengan memalsukan tandatangan pemegang specimen pryek dengan nomor rekening 122-00-0786775-0 atas nama KSO PT Guna Karya-PT Basuki. Alhasil proyek jadi mandeg di lapangan karena anggaran sudah habis. 

Sumber terpercaya RakyatMaluku.com menyebutkan, pihak PBPK Maluku sudah mengendus borok dalam ketidakberesan pekerjaan mega proyek ini. BPK bahkan telah melakukan audit terhadapnya dan ditemukan selisih pekerjaan yang sangat jauh dengan anggaran yang  telah dicairkan.

”Coba konfirmasi saja ke BPK. Mereka sudah tahu itu. Tapi kelihatan ada sedikit kongkalikong juga sehingga ada kelonggaran dari BPK dengan limit waktu  yang diberikan untuk menyelesaikan mega proyek itu. Selisi pekerjaan fisik dengan nilai proyek sendiri sepertinya sudah diturunkan. Itinya, ada permainan-lah, kalau diinvestigasi, pasti bisa dibongkar juga,” kata sumber yang mengaku mengetahui luar dalam tentang proyek ini.

Sumber juga menuturkan, selain Emi yang namanya cukup tenar di Balai Wilayah Sungai Maluku karena sering sekali menjadi calo proyek di Kementrian PUPR Jakarta, ada satu nama lagi yang disebut ikut membantu Emi untuk menguras dengan membobol anggaran proyek raksasa ini yaitu Ahmad Juned.

Esha Kamara, Direktris Bank Mandiri KCP Mid Plaza di jalan Sudirman Jakarta yang dihubungi Rakyat Maluku via telepon selulernya tadi malam, menolak untuk memberikan keterangan.

”Oh, maaf saya tidak bisa memberikan konfirmasi,” kata perempuan itu dan langsung menutup teleponnya.

Sementara itu, hasil penelusuran koran ini juga menyebutkan, borok proyek raksasa ini sudah diketahui oleh pihak berkompeten, terutama Korps Adhiyaksa di Maluku, tapi hal ini sengaja didiamkan.

”Ya kalau ada yang bilang BPK ”bermain mata”, borok ini ini juga sudah diketahui oleh kejaksaan di Maluku terurtama di SBT. Tapi mungkin karena ada orang kuat di belakangnya, sehingga kasus ini tidak diproses. Tapi entahlah, kita lihet kedepannya, karena yang saya dengar, BPK memberikan  dead line penyelesaian fisik di lapangan sampai bulan Mei 2019 ini,” kata sumber lainnya. 

Toncy, salah satu tokoh masyarakat di sekitar lokasi proyek yang berhasil dihubingi Rakyat Maluku juga meminta agar kasus ini dibuka ke publik karena nasib proyek ini sudah semakin tidak jelas. Selain itu, kehidupan petani sawah di SBT maupun Malteng sangat bergantung pada penyelesaian proyek ini.

”Tolong dikejar pak. Kasihan. Negara sudah menggelontorkan ratusan miliar rupiah, tapi justeru dinikmati oleh oknum-oknum yang  tidak bertanggunjawab. Nasib para petani sawah di Malteng dan SBT sangat tergantung pada kelanjutan proyek yang  terancam gagal ini,” pungkas Toncy. (TIM)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top