NEWS UPDATE

Caleg ‘Impor’ Sulit Dipilih Di Maluku

Ilustrasi

PEMILIHAN legislatif (Pileg) semakin dekat. Ada fenomena ‘lama’ yang kembali terulang, yakni banyaknya orang “luar” yang mengambil daerah pemilihan (Dapil) di daerah ini. 

Mereka sengaja ditempatkan oleh Parpol dengan berbagai pertimbangan, salah satunya pertimbangan modal meteri yang lebih besar. 

Fenomena caleg impor dianggap mengaburkan makna Dapil. Sebab penting bagi para calon mengetahui dengan baik kondisi Dapilnya.

Dan di Maluku juga ada sejumlah calon dari luar Maluku yang ikut meramaikan Pileg mendatang, terutama untuk kursi DPR RI.

Namun sayang, komitmen mereka terutama menyangkut pengembangan kedaerahan, dipertanyakan. Ini karena mereka dianggap tidak pernah bersentuhan langsung dengan masyarakat di Dapil mereka ini (Maluku). Dan tiba-tiba baru muncul saat Pileg.

Menanggapinya,  Abubakar Solissa,  Direktur Executive Partner Politik Indonesia, mengatakan, signifikansi dukungan elektoral dalam sebuah kontestasi politik biasanya ditentukan oleh tiga aspek. 

Pertama, Popularity (terkenal), kedua, akseptability (diterima) dan elektability (dipilih).  Ketiga aspek ini saling berkelindang jadi satu dan tak bisa dipisahkan. 

Problem caleg dari luar Maluku (impor) yang  belum terkenal luas di masyarakat akan sangat kesulitan mendulang suara, karena selain dia diperhadapkan pada ketiga aspek diatas, dia juga akan dibenturkan dengan kultur politik pemilih Maluku yang cenderung memilih calon anggota DPR RI dan DPD RI berdasarkan identitas dia. 

“Karena hetrogenitas pemilih di Maluku itu sudah terfragmentasi berdasarkan suku, agama dan keterwakilan wilayah yang juga turut mempengaruhi preferensi politik masyarakat,” ujar Soulissa, Senin 18 Februari 2019.

Namun demikian, kata Soulissa, jika caleg yang bersangkutan adalah istri atau suami dari salah satu kepala daerah di Maluku, seperti misalnya Rohani Vanath yang  terpilih di pileg 2014 dan Mirati Dewaningsih yang menjadi anggota DPD RI tahun 2004 dan anggota DPR RI tahun 2009, itu menjadi pembeda.

“Untuk itu perlu dilakukan sosialisasi secara masif baik lewat media massa maupun penetrasi langsung ke basis pemilih agar disisa waktu menjelang pencoblosan ini tingkat pengenalan bisa naik signifikan sehingga penerimaan publik terhadap yang bersangkutan juga bisa menentukan tingkat keterpilihan masyarakat di basis pemilih yang ada di akar rumput,” ucapnya.

Selain, ketiga aspek diatas, cara lain yang harus ditempuh untuk menarik para pemilih, lanjut Soulissa  adalah tawaran program yang dianggap kongrit menjawab kebutuhan publik, terutama segmen pemilih yang masuk dalam kategori swing voters dan pemilih yang rasional. 

Pendekatan persuasi dengan menawarkan gagasan yang  produktif untuk kepentingan masyarakat Maluku akan dilihat sebagai sebuah terobosan yang revolusioner dari sang caleg. 

Disinilah pentingnya kreatifitas yang  menjadi diferensiasi (pembeda) dengan caleg yang lain sehingga publik merasa tertarik dengan prodak politik yang  ditawarkan. 

“Kalau para caleg dari luar Maluku ini tidak bisa melakukan berbagai pendekatan ini maka mereka akan kesulitan menggarap suara disisa waktu yang ada,” tegas Soulissa. (RM) 

======================
--------------------

Berita Populer

To Top