NEWS UPDATE

Cegah Faham Radikalisme, Fakultas Uswah Seminar Nasional

BERPOSE. (dari kiri_red). Wadek II Fak Uswah, Baco Sarluf, M.Th.I., Ketua MUI Kota Ambon, Dr. Moh Rahanjamtel, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Masri Mansoer, Dekan Fak Uswah, Dr. A. Mujaddid Naya, Wadek I Fak Uswah, Dr. Ye Husen Assagaff, berpose usai kegiatan Seminar Nasional, yang digelar Fak Uswah di Lt III Aula Rektorat IAIN Ambon, Rabu, 30 Mei 2018. (FOTO: ISMAIL HEHANUSSA)

RakyatMaluku.com – MENCEGAH masuknya pemikiran-pemikiran radikalisme di kalangan pelajar dan mahasiswa khususnya di lingkup Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, maka Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (Uswah) IAIN Ambon, mengadakan Seminar Nasional berlatar tema, “Peran Perguruan Tinggi dalam Menanggulangi Radikalisme”, di Aula Lt III Gedung Rektorat IAIN Ambon, Rabu, 30 Mei 2018.

Seminar Nasional yang dipandu oleh Wakil Dekan II Fak Uswah IAIN Ambon, Baco Sarluf, ini menghadirikan dua pemateri; Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Masri Mansoer, MA., dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Ambon, Dr. Mohammad Rahanjamtel, M.Th.I, yang juga dosen IAIN Ambon.

Dekan Fakultas Uswah IAIN Ambon, Dr. A. Mujaddid Naya, M.Pd.I., terkait kegiatan ini menjelaskan, pelaksanaan Seminar Nasional oleh Fakultas Uswah dengan mengambil latar tema tentang radikalisme, sebagai bentuk tanggungjawab fakultas di perguruan tinggi untuk sama-sama meningkatkan pemahaman dan pengetahuan baik dosen maupun mahasiswa, tentang apa dan tindakan radikalisme yang akhir-akhir ini menghiasai perbincangan masyarakat Indonesia. Di mana, gerakan radikalisme oleh kelompok masyarakat tertentu, merupakan suatu ancaman baik terhadap keutuhan bangsa dan negara, juga sebagai individu dan keluarga, yang harus dilawan secara bersama-sama.

Sebab itu, harus ada penguatan secara kontinyu tentang apa dan bagaimana kelompok radikalisme hadir di tengah-tengah masyarakat. Ketika masyarakat memahami gerak-gerik kelompok radikal ini, maka masyarakat akan mudah memprotek kehadiran mereka, dan melakukan pencegahan dini. Sebab, tindakan radikalisme bukan saja menjadi ancaman negara, masyarakat dan individu, tapi, juga akan mengancam keberlangsungan kehidupan antar umat beragama.

“Pelaksanaan Seminar Nasional ini dalam rangka melihat perkembangan paham radikalisme di Indonesia, yang saat ini mulai masuk ke lembaga pendidikan, mulai dari sekolah hingga perguruan tinggi. Sebab itu, diadakannya seminar ini dengan harapan untuk melihat lebih rinci tentang apa saja radikalisme itu.

Mengantisipasinya dari sekarang, agar para generasi muda ini dapat diselematkan dari dalam, untuk sama-sama mencegah masuknya paham radikalisme yang marak dibincangkan di Indonesia.”

Lebih pentingnya, bahwa dari seminar ini, pihaknya dapat menempatkan peran dan fungsi perguruan tinggi, untuk mencegah masuknya paham radikalisme baik di kalangan pelajar maupun mahasiswa. Karena, beberapa fakta mengungkapkan justru ada mahasiswa yang terjebak dengan aliran-aliran radikalisme di luar Maluku, misalnya. Sebab itu, dari seminar nasional ini, para mahasiswa maupun dosen dapat mengenal secara baik, apa itu radikalisme dan tindak-tanduknya di masyarakat.

“Kalau sudah dikenal, maka tentu akan sangat mudah menjauhkan mereka dari doktrin orang-orang yang tidak bertanggungjawab tersebut,” sebut Mujaddid.

Sementara Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Masri Mansoer, memberikan trik-trik mengenal adanya kelompok radikalisme.

Menurut Masri, caranya adalah, masyarakat jangan terlalu cepat menerima pandangan-pandangan yang tidak umum dalam menjelaskan tentang Islam, masyarakat jangan fanatik dengan guru atau ustat atau penceramah tertentu dalam menjelaskan Islam, tapi harus balance atau mengecek kembali dengan ustat atau ulama yang lain, masyarakat harus mau atau suka menerima perbedaan, jangan tidak tolerans atau tidak menerima perbedaan, karena hidup ini sudah Sunnatullah bahwa berbeda itu suatu kepastian.

Hanya, perbedaan itu jangan sampai membawa ketidakharmonisan. Kalau membawa ketidakharmonisan, kata Masri, maka perlu ada ketegasan. Perlu aturan yang jelas. “Selama bukan hal-hal prinsif, maka kita harus menerima perbedaan itu dengan hal terbuka, itu untuk masyarakat.”

Sementara untuk kalangan perguruan tinggi, pesan Masri, dosen harus menyampaikan Islam yang wasatiyah baik kepada para mahasiswanya maupun masyarakat. Sebab, Islam wasatiyah adalah Islam yang memandang dari berbagai aspek.

“Islam tidak hanya teologi saja. Islam bukan ibadah saja. Islam juga budaya, Islam juga ekonomi dan politik. Nah, bagaimana substansi Islam itu, masuk ke wilayah-wilayah dimaksud. Tidak formalisme, tapi adalah substansi nilai yang ditekankan. Bukan format yang ditekankan. Kalau format yang ditekankan, itu tekstualis, maka harus dilihat secara universal dengan peradaban yang ada. Peradaban sendiri itu dinamit.”

Islam wasatiyah sendiri, lanjut dia, adalah Islam yang tidak memihak kepada pandangan dan aliran tertentu, Islam yang menekankan tentang perdamaian, Islam yang menerima perbedaan sejauh hal-hal yang tidak prinsif, Islam yang melihat segala sesuatu secara kontekstual, Islam yang melihat segala sesuatu lewat historis, bukan ahistoris. (WHL)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top