ADVETORIAL

Cegah Penularan TBC, BKPM Maluku Beri Pembekalan Kader

Plt Kepala BKPM Maluku dr. Samsila Mona Rumata, didampingi Kepala Puskesmas Rijali Ambon dr. Adriyati Arief melakukan foto bersama kader TB usai Kegiatan Pembentukan Desa Peduli TBC Mandiri, Desa Batumera sebagai desa binaan BKPM Provinsi Maluku, Rabu 7 Februari.

SAAT ini pemerintah Indonesia melakukan akselerasi pencapaian Program Pengendalian Tuberculosis (TBC) dengan melakukan eksvansi strategi (Directly Observed Treatment Shortcourse) DOTS pada semua Fasilitas Pelayanan Kesehatan terutama pada pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) semua sektor terkait dalam suatu bentuk kemitraan.

Guna mencegah terjadinya penularan penyakit Tuberkulosis atau yang akrab disebut TBC di masyarakat, Balai Kesehatan Paru Masyarakat  (BKPM) Maluku membekali kader TB melalui Pembentukan Desa Peduli TBC Mandiri pada desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau Kota Ambon.

Kader yang dibentuk oleh BKPM Maluku itu sebagai perpanjangan tangan dari Puskesmas yang bertugas melakukan penyuluhan maupun sosialisasi kepada masyarakat ditingkat desa tentang TBC serta pengendaliannya kepada masyarakat.

Kepala Puskesmas Rijali Ambon, dr. Adriyati Arief kepada Rakyat Maluku usai pembekalan kader TB yang berlangsung di Lantai 3 Puskesmas Rijali Ambon, Rabu 6 Februari  2019, kemarin, mengatakan, selain bertugas melakukan penyuluhan tentang TBC dan pengendaliannya, kader TB juga bertugas membantu menemukan pasien yang dicurigai TB dan pasien TB di lingkungan masyarakat.

Namun sebelum itu, para kader yang dibentuk terlebih dulu dibekali oleh pihak puskesmas atau dari Dinas Kesehatan terkait dengan semua hal tentang TBC agar ketika nantinya terjun melakukan sosialisasi atau penyuluhan ke masyarakat itu sudah betul matang, serta terkait dengan hal teknis dalam penanggulangannya.

“Kita sudah memberikan pembekalan kepada para kader TB yang di bentuk dari semua RT/RW yang ada di desa Batu Merah yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Rijali. Kita akan membuat Batu Merah sebagai percontohan sebagai desa sehat TB, dalam arti desa tersebut sehat dari penyakit TB,” ujar Adriyati, Rabu 6 Februari 2018.

Kader TB ini dibentuk dari semua RT/RW yang ada di Desa Batu Merah sebagai wilayah kerja dari Puskesmas Rijali yang berjumlah 98 orang kader, dengan tujuan membantu Dinas Kesehatan untuk mengatasi penularan TBC di kalangan masyarakat.

Kepala Puskesmas Rijali Ambon dr. Adriyati Arief memberikan pemahaman kepada kader TBC Mandiri melalui kegiatan Pembentukan Desa Peduli TBC Mandiri, Rabu 6 Februari 2019.

Melalui kader TB yang dibentuk tersebut, pihaknya mendorong agar masyarakat tetap sehat, dengan mengetahui apa itu desa sehat TB. Pihaknya menargetkan, satu orang dari anggota keluarga itu mengerti dan faham tentang bahaya TBC, penularannya serta bagaimana cara penanggulangannya.

Oleh sebab itu, kader yang dibentuk tersebut merupakan refresentasi dari tiap-tiap keluarga yang ada di masing-masing RW di Batu merah.

“Kader yng dibentuk itu fungsinya sebagai pengerak, sehingga dia dapat mencari orang dicurigai menderita TBC. Setelah itu memberikan support untuk melakukan pemeriksaan dan juga melakukan pengobatan hingga sembuh,” jelasnya.

Dia mengakui, di desa Batu Merah sendiri pada Bulan Januari 2019 hinga kini baru terdapat satu orang yang ditemukan menderita TBC. Namun itu pun telah dilakukan pengobatan oleh pihak puskesmas Rijali, dan sampai sat ini pun belum ada penambahan. 

Sementara  itu, Plt Kepala BKPM Maluku, dr. Samsila Mona Rumata mengatakan, kegiatan ini dilakukan lebih kepada desa peduli TBC mandiri terhadap gejala TBC, cara penularannya, serta cara mendiagnosa penyakit TBC tersebut hingga pada pengobatannya.

“Kalau kader sudah faham semuanya, berarti bisa mampu menemukan pasien-pasien penderita TBC dilingkungan masing-masing dan bisa memotivasi penderita untuk berobat ke Puskesmas Rijali atau langsung ke BKPM Provinsi Maluku,” ujar Samsila Mona.

Plt Kepala BKPM Maluku dr. Samsila Mona Rumata saat memberikan pembinaan kepada para kader TB Desa Batumera dalam kegiatan Pembentukan Desa Peduli TBC Mandiri, Rabu 6 Februari 2019.

Pihaknya berharap, jika ditemukan ada penderita TBC, maka harus didorong untuk terus berobat hingga tuntas. Sebab, pengobatan TBC itu dilakukan 4-6 bulan dan bisa juga sampai 2 tahun. Jika tidak berobat sampai tuntas, maka kuman dalam tubuh penderita itu akan kebal dan bisa menular ke yang lain.

“Jadi kita harap masyarakat bias peduli dan menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas TBC. Kita berharap program ini bisa berswadaya untuk masyarakat guna menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas TBC,” harapnya.

Selain itu, pihaknya juga berharap upaya yang dilakukan oleh baik itu BKPM Maluku, Puskesmas Rijali serta kader TB ini mendapat dukungan dari seluruh lapisan masyarakat yang ada di Desa batu Merah dan juga pemerintah Kota Ambon serta Pemerintah Provinsi Maluku. (R1)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top