NEWS UPDATE

Dampak Tumpahan BBM Di Wayame, Ikan Mati, Warga Terserang Penyakit Kulit

RakyatMaluku.com – LEMBAGA Kalesang Lingkungan Maluku mengakui telah terjadi pencemaran lingkungan di kawasaan sungai di negeri Wayame kecamatan Teluk Ambon Kota Ambon.

Pencemaran lingkungan itu aki­bat kelalaian pihak Per­­tamina terkait tumpahan Bahan Ba­kar Minyak (BBM) jenis Avtur dari terminal BBM ke kawasan pe­mukiman warga. Tumpahan BBM Avtur ke sungai dan laut di sekitar pemu­kiman warga itu terjadi pada 15 Agustus 2018 lalu di Ter­minal BBM.

Lembaga Kalesang Lingkungan Maluku menilai hal itu terjadi akibat kelalaian Pertamina yang tidak me­lakukan kontrol secara baik sehingga berakibat pencemnaran lingkungan.

Ketua Kalesang Lingkungan Maluku, Constansius Kolatfeka, kepada wartawan mengatakan, pencemaran lingkungan pasca tumpahnya Avtur ke sungai dan pesisir laut beberapa waktu lalu, mulai dari awal peristiwa tanggal 15 Agustus 2018 hingga tanggal 18 Agustus 2018.

Dari Pantauan Kalesang Lingkungan Maluku menemukan 4 ekor belut di kawasan sungai dan beberapa jenis ikan air tawar yang mati di sungai Kayu Hehe Wayame. Kata dia, itu merupakan fakta bahwa telah terjadi pencemaran di sungai akibat tumpahan BBM Avtur itu.

“Kalau ada pihak-pihak tertentu yang meng­kla­rifikasi bahwa tidak ada pencemaran lingkungan, maka kita akan membuktikan ini secara hukum dan ilmiah,” ujarnya.

Kata Constansius, pihak Kalesang Lingkungan Maluku mempunyai bukti berupa foto-foto, bahwa benar telah terjadi pencemaran lingkungan. Tapi, dari pihak Pertamina masih mengelak bahwa tidak terjadi pencemaran lingkungan.
Selain matinya beberapa biota air tawar itu, masyarakat setempat juga telah merasakan efek buruk daripada tumpahan minyak itu. Dimana masyarakat sekitar telah terserang penyakit kulit berupa gatal-gatal.

“Kita telah mewawancarai warga dikawasan ter­sebut. Mereka mengalami gatal-gatal dan menghirup bau tak sedap di kawasan sungai tempat terjadinya tum­pahan avtur itu. Kejadian ini ada sejak beberapa hari setelah terjadi tumpahan minyak. Sehingga di­duga kuat terjadi pencemaran,” tuturnya.

Pihaknya berharap pihak Pertamina harus men­jelaskan kepada masyarakat yang sebenarnya karena berdasarkan peraturan pemerintah yang menyatakan bahwa tanggung jawab pengelolaan lingkungan oleh satu kegiatan atau aktifitas usaha yang berdampak penting pada lingkungan.

“Pertamina harus memberikan sebuah fakta kebenaran informasi yang penting dan akurat yang dapat dipertanggungjawabkan, karena itu merupakan kejahatan lingkungan. Untuk itu, kita telah siap untuk membawa ini ke ranah hukum,” tegasnya.

Sementara itu, pihak PT. Pertamina Wayame membantah jika hal tersebut masuk dalam kategori kejahatan lingkungan. Pasalnya, kebocoran tersebut tidak direncanakan sebelumnya. Meski begitu, pi­haknya akan tetap mengirimkan tim medis PT Pertamina untuk melakukan pengecekan kesehatan masyarakat sekitar.

“Ini musibah, siapapun tidak ingin tertimpa mu­sibah. Tapi kita akan mengirimkan tim medis mi­lik Pertamina untuk mengatasi masalah ini,” ujar Sipervisor Health Safety Securty Environment, Krisno Bimantoro.

Dari aspek bau, pihaknya menjamin yang keluar itu aman. Sehingga jika ada warga yang masih mencium bau dari arah TBBM Wayame, maka itu sesungguhnya bau dari api separator Pertamina. Dimana limbah disitu telah tertahan.

Bentuk Ijin Pembuangan Limbah (IPAL) namanya Api Separator. Sehingga kalaupun ada limpahan minyak dari operasi, maka dia tidak akan keluar, tetapi akan tertahan di situ. Ketika tertahan, memang ada potensi bau.

“Namun saat keluar melalui outlet dan flowmeter, maka saya bisa jamin 100% itu aman. Karena kita punya baku mutu dan juga ada pengecekan PH Harian, sehingga kita bisa pastikan itu aman. Tapi kalau pasca kejadian ini ada warga yang kena gatal-gatal, maka kita akan komunikasikan dengan pihak medical untuk melihat masalah tersebut yang terjadi pada warga,” jelasnya. (R1)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top