NEWS UPDATE

Dari 1000 Kasus Hoax, Sebagian Besar Berbau Politik

Lokakarya Melawan Hasutan Hoax, yang diselenggarakan Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina dan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO), di Hotel The City Ambon, Selasa, 19 Februari 2019. (Herry Purwanto)

KETUA Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Maluku, Abdullah Elly, resmi membuka acara Lokakarya Melawan Hasutan Hoax, yang diselenggarakan Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina dan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO), di Hotel The City Ambon, Selasa, 19 Februari 2019.

Acara yang berlangsung selama dua hari sejak Selasa sampai Rabu 20 Februari 2019 itu menghadirkan narasumber dan peneliti, yakni PUSAD Paramadina, MAFINDO dan Facebook. 

Serta dihadiri 20 peserta perwakilan dari kalangan pemerintah dan kelompok masyarakat yakni, Bawaslu, KPU, Polda Maluku, Forum Kerukunan Umat Beragama, Penyuluh Agama Kemenag, LSM, jurnalis, mahasiswa, dan organisasi pemuda. 

Ketua Bawaslu Provinsi Maluku, Abdullah Elly, dalam sambutannya mengatakan, lokakarya melawan hasutan hoax yang digelar PUSAD Paramadina itu diharapkan dapat menghasilkan poin-poin penting untuk dijadikan rekomendasi penting, sehingga dapat memberikan pemahaman terhadap masyarakat luas tentang apa saja hasutan-hasutan hoax dan ujaran kebencian.

“Kami berharap bahwa dari hasil lokakarya ini secara kelembagaan bisa turut membantu proses pengawasan, sehingga masyarakat dapat terhindar dari hoax dan ujaran kebencian. Sebab, hoax maupun ujaran kebencian jika tidak didukung dengan data dan fakta maka yang pasti mereka akan berhadap-hadapan dengan hukum,” harap Elly.

Hal senada juga dikatakan Direktur PUSAD Paramadina Ihsan Ali Fauzi. Menurutnya, menjelang tahun pemilu 2019, banyak kalangan mengkhawatirkan maraknya hasutan kebencian sebagai alat politik untuk menjatuhkan lawan, seperti yang terjadi pada Pilpres 2014 dan Pilkada Jakarta 2017.

Penyalahgunaan politik identitas melalui hasutan dan pelintiran kebencian itu, lanjut Ihsan, dikhawatirkan akan memperparah intoleransi dan merusak kerukunan.

Sebab, hasutan kebencian tidak hanya berbentuk ujaran kebencian (hate speech) atau provokasi satu arah kepada suatu pihak untuk menyasar pihak lain, tapi hasutan itu juga berbentuk pelintiran terhadap ujaran pihak lain sehingga mereka dianggap provokatif, menyinggung, dan akhirnya menjadi sasaran penyerangan.

“PUSAD Paramadina melihat hasutan kebencian ini berbahaya karena kerap digunakan sebagai strategi politik dengan mengeksploitasi identitas kelompok (agama, suku, atau identitas lainnya) untuk memobilisasi massa pendukung dan menekan lawan politik. Ditambah lagi dengan berkembangnya platform media sosial saat ini, di mana informasi palsu, hoaks, dan bahkan fitnah mudah didapat dan disebarkan tanpa diimbangi sikap kritis,” ungkapnya.

Dikesempatan yang sama, perwakilan MAFINDO Maluku, Marvin Laurens, menegaskan, di tahun 2018 lalu, MAFINDO telah menangani 1000 kasus hoax, yang sebagain besar berbau politik. Dan ujaran kebencian, menurutnya adalah jualan paling enak.

“Informasi Hoax terkadang membuat keresahan hingga sering kali memicu ketegangan. Maka dari itu kehadiran MAFINDO ini untuk melawan hoax. Kami ada di 16 kota besar di Indonesia, salah satunya di Ambon. Semoga kedepannya kita dapat melawan penyebaran hoax,” tandas Marvin.

Untuk diketahui, acara lokakarya melawan hasutan Hoax yang diselenggarakan PUSAD Paramadina dan MAFINDO ini juga dilaksanakan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, dalam rangka mengantisipasi merebaknya hasutan kebencian pada pemilu 2019.

Daerah-daerah yang pernah memiliki riwayat kekerasan antar kelompok dan tersegregasi umumnya lebih rentan terhadap hasutan kebencian dalam Pemilu. 

Harapannya, kegiatan ini dapat semakin memperkuat kapasitas dan kerjasama masyarakat sipil dalam menangkal hasutan kebencian.

Dalam acara lokakarya ini, para peserta diajak untuk mengidentifikasi hoaks, serta bagaimana menghalau peredaran ujaran kebencian. Materi lokakarya mulai dari cara mengidentifikasi hoaks dan ujaran kebencian, teknik memeriksa fakta, strategi membangun narasi tandingan, strategi menyebarkan konten positif dan menggalang kerjasama antar kelompok di masyarakat. (RIO)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top