NEWS UPDATE

Dibalik Dua Periode AV Jadi Bupati SBT (1), Hutang Mobil Rental Hingga Voucer Pulsa Dibayar Pengusaha

Abdulah Vanath

Abdulah Vanath tak asing lagi bagi masyarakat Maluku, apalagi belum lama ini namanya tercatat sebagai Calon Wakil Gubernur mendampingi Calon Gubernur Maluku Herman Koedoeboen.

Catatan: Abdulkarim Angkotasan
Reporter Harian Rakyat Maluku

RakyatMaluku.com – JAUH sebelum pria kelahiran Werinama,21 Mei 1971 itu mampu menempatkan posisinya sebagai seorang politisi ulung, Vanath muda adalah pegawai di Bank Perkreditan Rakyat Modern Ekspress. Ketika pemekaran Kabupaten Seram Bagian Timur 2004, Vanath yang telah membuka koperasi serba usaha Talavolas Ambon dan terakhir menjadi Direktur CV Talavolas Ambon kemudian melirik peluang di pemekaran daerah otonomi baru sebagai politisi.

Pemilihan Kepala Daerah untuk pertama kali kemudian digelar di Kabupaten berjulukan ita wotu nusa itu tahun 2005, Abdullah Vanath yang berpasangan dengan Siti Umuriyah Suruwaky lalu bertarung bersama sejumlah tokoh lainnya. Hasilnya Abdullah Vanatah-Siti Umuryah Suruwaky berhasil memenangkan Pilkada pertama di SBT dengan memperoleh suara cukup signifikan. Namun uang milik Abdullah Vanatah tidaklah seberapa untuk memenuhi kebutuhan kampanye sampai pelantikan Bupati Kabupaten SBT.

Suami dari Rohani Vanath itu tak patah arang, dia terus berusaha mencari donatur agar misinya menjadi Bupati Kabupaten SBT berjalan lancar, dan salah satu pengusaha jasa kontruksi yang berhasil membangun hubungan kemitraan dengan Abdullah Vanath adalah Syarifuddin Djogja.

Dari dokumen resmi yang berhasil dikumpulkan Rakyat Maluku, dikalah masa kampanye hingga pelantikan dirinya sebagai Bupati pertama di SBT, Abdulah Vanath paling sering berkomunikasi dan meminta bantuan Syarifuddin Djogja untuk melunasi berbagai kebutuhan pribadi dan tim sukses.

Misalnya meminta bantuan operasional usai kampanye di SBT senilai Rp.100.000.000. Juga permintaan bantuan Rp.35 juta untuk perbelanjaan barang-barang persiapan pelantikan. Ada juga permintaan Rp.150.000.000 untuk keberangkatan Abdullah Vanath ke Jakarta. Juga permintaan untuk pembelanjaan suku cadang computer dan lain-lain kebutuhan sekretariat SBT sebesar Rp.56.300.000, kemudian permintaan pengurusan SK Abdullah Vanath di Jakarta sebesar Rp.50.000.000.

Pada 27 Agustus 2005, Abdullah Vanath juga meminta Rp.45.500.000 untuk pembayaran kebutuhan di Pengadilan Masohi, serta membantu pembiyaan Abdullah Vanath di Jakarta senilai Rp.25.000.000 dan kebutuhan lainnya sebesar Rp.85.000.000 yang semuanya diterima Zaidun Voth adik Abdullah Vanath.

Bukan hanya itu, untuk jasa komunikasi saja, Abdullah Vanath sering meminta bantuan Syarifuddin Djogja untuk membelikan voucer Headphone. Mulai harga dari Rp.500.000 hingga Rp.50.000.

Ketika pelantikan akan digelar, melalui Ismail Tomagola Abdullah Vanath pernah meminta Syarifuddin untuk membiayai kebutuhan material, seperti topi, spanduk, kaos dan lain-lain, sebesar Rp.35 juta, termasuk pelunasan hutang stiker di pecetakan.

Pada Jumat 12 Agustus 2005 pukul 09.45 Ismail Tomagola juga meminta uang untuk membayar penjahitan pakaian pelantikan dengan alasan uang dari pemerintah belum dapat dicairkan.

“Insya Allah kalau sudah ada SK semua sudah aman,” kata Ismail kepada Syarifuddin.

Belum sampai disitu, pada 18 Agustus 2005 pukul 19.58 Abdullah Vanath juga meminta bantuan Isamil Tomagola untuk mengontak Syarifuddin Djogja guna sesegara mungkin mentransfer dana Rp.175 juta.

Dari cakapan SMS antara Syarifuddin Djogja dengan Ismail Tomagola, kuat dugaan untuk menyuap para pihak di Kementrian Dalam Negeri agar SK Bupati SBT dapat segera diberikan.

” Tolong Udin upayakan sampai 175 juta biar besok semua beres, pokoknya dengan cara Udin gimana bisa dapat itu, dullah juga su gelisah soal uang. Kebutuhan yang paling mendasar adalah urusan Depdagri Rp.175 juta sedang pelantikan nanti Udin perkirakan sendiri, besok kita ketemu Pak Gub jam 1 WIB,” pesan Ismail Tomagola.

Dengan bersusah payah, Syarifuddin memenuhi permintaan demi permintaan yang dibutuhkan Abdullah Vanath. Tak pandang dari mana Syarifuddin bisa dapatkan uang sesegara itu.

Setelah dilantik, ternyata Abdullah Vanath tak berhenti meminta Syarifuddin Djogja untuk melunasi berbagai piutangnya sebagai Bupati SBT, seperti tunggakan pebayaran tiga unit mobil rental yang dipakai sebagai sarana operasional Abdullah Vanath selama berada di Ambon sejak tahun 2006 hingga 2007 senilai Rp.300 juta lebih. Ketiganya dipakai dengan harga sewa Rp500 ribu per hari.

Semua permintaan itu dipenuhi, karena Abdullah Vanath berjanji akan menggantikan pengeluaran Syarifuddin Djogja dalam bentuk paket proyek. Sayangnya, mulut Abdullah Vanath sulit dipegang, berbagai janji yang dia berikan tak terpenuhi dan selalu menghindar ketika ditanyakan komitmennya untuk mengembalikan pengeluaran Syarufuddin Djogja. (BERSAMBUNG)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top