NEWS UPDATE

Diduga Tim Psikotes Airlangga Diatur

TIM seleksi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Maluku telah menetapkan empat nama yang lolos seleksi phisikotes, mereka kemudian diperkanankan mengikuti tahapan selanjutnya.

Sesuai surat keputusan Timsel Calon Anggota KPU Maluku, tertanggal 5 Maret 2019, mereka yang dinyatakan lolos masing-masing, Abdul Khalil Tianotak komisioner KPU Kota Ambon, Hanafi Renwarin Komisioner KPU Maluku, Rommi Imelda Rumambi Komisioner KPU MTB dan Syamsul Rifan Kubangun, Komisioner KPU Maluku.

Keempat nama itu akan bergabung dengan tiga nama lainnya menjadi tujuh orang di tahapan wawancara, selanjutnya hasil wawancara akan disampaikan ke KPU RI guna mendapatkan lima nama anggota KPU Provinsi Maluku masa bakti 2019-2024.

Sebelumnya, dari keempat nama itu, dua diantaranya yakni Hanafi Renwarin dan Syamsul Rifan Kubangun tak lolos dalam phisikotes yang diadakan tim Polda Maluku.

Mantan anggota timsel KPU Maluku Sherlock Halmes Lekipiouw mengaku, kedua nama itu tidak direkomendasikan tim phisikotes Polda Maluku. 

Padahal, pemberian nilai tes phisiko yang disampaikan tim Polda Maluku pun tak terbantahkan oleh pihak manapun.  Bahkan sesuai pemeriksaan klarifikasi tim KPU RI tidak ditemukan unsur yang dapat membatalkan hasil phisikotes Polda Maluku.

“Itu hasil klarifikasi (tim KPU RI) loh, sama sekali tak ditemukan adanya unsur yang bisa membatalkan hasil phisikotes Polda Maluku, tim Polda yang melakukan tes phisiko teruji dan tersertifikasi, hasil yang mereka keluarkan dapat dipertanggungjawabkan,” tegas Sherlock kepada Rakyat Maluku. 

Timsel yang lama dalam menetapkan peserta yang lolos phisiko tes hanya melanjutkan putusan tim Polda Maluku, tidak ada subjektifitas oknum timsel dalam keputusan tersebut.

Sherlok jadi menduga, kerja timsel yang baru ini hanya bertugas untuk meloloskan orang-orang tertentu. Mengingat proses dan hasil phisikotes yang  ditetapkan tim dari Airlangga berbeda jauh dengan hasil yang direkomendasikan tim phisiko dari Polda Maluku.

Apalagi, dalam tahapan phisikotes kali ini, Timsel yang baru ini tak lagi menggunakan tim Polda Maluku tapi mendatangkan tim dari Universitas Airlangga Surabaya.  

“Bagaimana mungkin kemudian, yang tidak lolos di Polda kemudian lolos di tim Airlangga,” tanya Sherlok.

Mestinya, kalau mengulang phisikotes, timsel harus menggunakan lembaga yang sama yakni tim Polda Maluku, agar hasilnya fer. Tapi apa alasannya sehingga timsel mendatangkan tim dari Airlangga? 

“Bisa saja simulasi yang digunakan untuk menguntungkan orang per orang,” beber Lekipiouw.

Akademisi dari Fakultas Hukum Unpatti itu mengatakan, KPU RI dan timsel yang baru ini tidak konsisten dengan logika yang digunakan dalam tahapan penjaringan anggota KPU Maluku saat ini.

Timsel harusnya tak menggantikan lembaga phisikotes, agar hasilnya benar-benar akurat. Apalagi tim dari Airlangga ini belum diketahui pengalaman mereka dalam menyelenggarakan phisikotes. Mereka pun belum tentu bersertifikasi seperti tim dari Polda Maluku. 

Kemudian, jika tahapan phisikotes yang meloloskan empat nama disebut pengulangan, mestinya menggugurkan seluruh putusan timsel yang lama. Semua orang harusnya mengikuti phisikotes yang baru. Agar tidak menimbulkan miss persepsi di tengah publik.

“Logika yang mereka pakai ini menyamakan kucing dan anjing, sama-sama hewan berkaki empat. padahal kedua hewan itu berbeda. Artinya bahwa jika mereka mengulang ya harus di lembaga yang sama dong, kalau sudah menggunakan lembaga yang lain berarti bukan mengulang lagi, tapi seleksi yang baru. Itu berarti semua orang harus mengikuti phisikotes dari lembaga itu, karena hasilnya belum tentu sama,” urainya.

Selain itu, pada tahapan akhir ini sesuai dengan PKPU, timsel harus merekomendasikan dua kali jumlah komisioner tetap. Tak boleh kurang dari 10 orang. Itu perintah PKPU yang tak bisa ditafsirkan kembali, jika hasil yang akhir timsel hanya lima atau tujuh berarti Timsel tak mentaati PKPU. 

“Kan mesti 10 orang tuh. Sekarang tersisah tujuh orang, entah siapa lagi yang harus dikorbankan, sudahlah KPU RI jangan terlalu bermain akrobat politik di Maluku,” sesalnya.   (ARI)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top