NEWS UPDATE

Dirut PT. BPS Diperiksa Sebagai Tersangka

Fahri Bachmid

Kasus Penambangan Emas Di Gunung Botak

TIM Penyidik Tipidter Bareskrim Mabes Polri melakukan pemeriksaan terhadap Direktur Utama (Dirut) PT. Buana Pratama Sejahtera (BPS), Mintaria Loesiahari, dalam kasus pertambangan emas di kawasan tambang Gunung Botak, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku.

Menurut Kuasa Hukum DR. Fahri Bachmid, SH.,MH, kliennya itu (Mintaria Loesiahari) diperiksa untuk didengar keterangannya sebagai tersangka, guna melengkapi berkas perkaranya ditahap penyidikan.

“Hari ini (kemarin, red) Dirut PT. BPS Mintaria Loesiahari menjalani pemeriksaan sebagai tersangka di Kantor Bareskrim Mabes Polri, dan saya sendiri yang mendampingi tersangka,” kata Fahri, via rilis yang diterima koran ini, Selasa, 15 Januari 2019.

Dijelaskan, dalam pemeriksaan yang berlangsung selama hampir empat jam sejak pukul 09.00 – 12.30 Wib, tersangka Mintaria Loesiahari dicecar 11 pertanyaan oleh penyidik terkait dengan tanggungjawab pengelolaan.

“Saya tidak bisa memberitahu soal isi materi pemeriksaannya seperti apa, namun secara umum klien saya ini ditanya seputar tanggungjawab pengelolaan,” jelas Fahri.

Dikatakannya, sejak kasus tersebut berlangsung di Bareskrim Mabes Polri, kliennya sangat bersikap kooperatif dengan penyidik. Dan sebagai tim pengacara, lanjut Fahri, dirinya akan selalu siap untuk mengawal dan mendampingi proses hukum kliennya, yang disangkakan oleh penyidik melanggar Pasal 158 dan atau Pasal 159 dan atau Pasal 161 UU RI No.4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

“Kami memastikan bahwa proses hukum yang sedang berjalan ini akan berjalan proporsional serta profesional. Dan kami sangat mengapresiasi kerja penyidik Tipidter Bareskrim Mabes Polri yang selama ini sangat profesional dan kredible. Kami pastikan bahwa proses hukum yang berlangsung saat ini harus clear dan tuntas secara hukum, agar ada kepastian hukum,” ungkapnya.

Saat beroperasi di kawasan pertambangan emas di Gunung Botak, Kabupaten Buru, BPS dinilai telah menyalahi ijin yang diberikan. Ijin yang semestinya melakukan penataan dan rehabilitasi sungai Anahoni di kawasan Gunung Botak dari limbah kimia berbahaya, justru dipakai melakukan aktivitas pertambangan emas.

Aktivitas pertambangan yang dilakukan perusahaan dalam mengolah emas menggunakan bahan-bahan berbahaya, salah satunya adalah sianida. Selain BPS, terdapat dua perusahaan lainnya yakni, PT. Prima Indo Persada (PIP) dan Sinergi Sahabat Setia (SSS). Kedua perusahaan ini masih dalam penyelidikan atas aktivitas penambangan ilegal di lokasi Gunung Botak. (RIO)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top