AMBONESIA

FCC Ambon Gelar Kegiatan ‘Beta Cinta Laut’ Untuk Warga Mamala-Morela

FIRE Coral Community (FCC) Ambon menggelar berbagai lomba, diantaranya lomba mewarnai, pelatihan pembuatan bakso ikan, dan siomay ikan, dalam rangkaian kegiatan beta cinta maluku untuk masyarakat di negeri Mamala dan Morela, Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah. (IST)

FIRE Coral Community (FCC) Ambon, yang tergabung di dalamnya, Pusat Studi Gender dan Anak LP2M Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, Jurusan Pendidikan Biologi, FITK IAIN Ambon, Jurusan Pendidikan Agama Islam FITK IAIN Ambon, Jurusan Pengembangan Masyarakat Pesisir Fakultas Uswah, Jalasenastri Daerah Armada III, DPD Al-Hidayah Provinsi Maluku, TNI AL Lantamal IX, Alumni IAIN Ambon, Alumni Unpatti Ambon dan Kelompok Konservasi Negeri Mamala dan Negeri Morella, menggelar rangkaian kegiatan ‘Beta Cinta Laut’ untuk masyarakat di Negeri Mamala dan Negeri Morela, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, pekan lalu.

Kegiatan ini menghadirkan masyarakat dua negeri tetangga tersebut, dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Kegiatan ‘Beta Cinta Laut’, bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang ajaran agama dan wawasan gender yang berhubungan dengan melestarikan alam, memberikan pemahaman untuk kesadaran dalam membersihkan laut dan lingkungan sekitarnya. 

Beragam kegiatan yang digelar, seperti, Lomba Mewarnai untuk anak-anak, dan Pelatihan Pembuatan Bakso Ikan Kelapa Muda, Siomay Ikan untuk ibu-ibu pada dua negeri tersebut.

Ketua Panitia, yang juga Kepala Pusat Gender dan Anak LP2M IAIN Ambon, Nurlaila Sopamena, M.Pd, menjelaskan, terumbu karang menyediakan jasa kepada manusia dalam bentuk nilai ekonomi dan non-ekonomi seperti misalnya pariwisata, perikanan, dan perlindungan pesisir. 

Secara global, jika dinilai dengan uang, ekosistem terumbu karang menyediakan hampir 30 triliun dollar per tahun baik dalam bentuk sumber pendapatan bagi masyarakat, maupun dalam penyediaan jasa lingkungan yang diberikan oleh ekosistem terumbu karang bagi kehidupan manusia.

Ia menjelaskan, sebagai tulang punggung lautan dan ekosistemnya, terumbu karang mengalami tekanan yang hebat, terutama dari pengaruh aktivitas manusia. Di mana, mengelompokkan penyebab kerusakan terumbu karang menjadi dua bagian. 

Pertama, kerusakan secara alami, dan keduanya, pengaruh aktivitas manusia. Tentu, kerusakan ini tidak mesti terus dibiarkan, sehingga perlu ada solusi untuk bagaimana menanganinya. 

“Dibutuhkan adanya campur tangan manusia, agar terumbu karang dapat pulih kembali secara alami dari gangguan atau kerusakan, khususnya untuk terumbu karang yang relatif tidak terganggu akibat pengaruh anthropogenic,” ungkap Nurlaila.

Dijelaskan, pemeliharaan terumbu karang tidak lepas dari unsur kebiasaan dan perilaku manusia sehari-hari. 

“Manusia dengan segala rutinitasnya, terutama masyarakat yang berada di pesisir pantai, sangat rentan untuk melakukan tindakan yang dapat membuat lingkungan pantai dan laut rusak. Orang tua dan anak-anak sekalipun, laki-laki maupun perempuan dapat dengan mudah, merubah kondisi alam di sekitar mereka, sedikit demi sedkit menjadi tidak baik atau bahkan lebih baik tergantung dari pola pemikiran, tingkah laku dan kebiasaan yang ada di lingkungan sekitar,” jelas Nurlaila.

Persoalan lainnya yang patut dilakukan, yang memberikan pemahaman secara utuh kepada masyarakat, lewat berbagai kegiatan. Seperti misalnya, yang dilakukan oleh FCC Ambon ini. 

“Pemahaman agama dan kesetaraan gender yang diaplikasikan untuk menjaga kelestarian alam, dapat sangat membantu hubungan-hubungan pemikiran dan sikap masyarakat. Petunjuk-petunjuk agama untuk bagaimana menjaga alam, harus senantiasa disosialisasikan ke masyarakat. Karena, dibalik kita menjaga alam, akan ada keuntungannya. Alam memberikan banyak manfaat positif bagi masyarakat, seperti, peningkatan ekonomi apabila manajemen desa dikelola dengan baik dan benar. Tambahan hasil sumber daya alam yang melimpah, dan pembelajaran atau belajar seumur hidup untuk masyarakat,” jelas Nurlaila.

Untuk melakukan kegiatan-kegiatan dalam ”Beta Cinta Laut” ini, jelas dia, Tim Fire Coral Community Ambon telah melakukan beberapa langkah awal dengan telah melaksanakan kegiatan Pendampingan Perempuan, untuk masyarakat Negeri Mamala dan Morella pada tahun 2017. 

Kegiatan Kajian Terumbu Karang dan Strategi Pengelolaannya untuk masayarakat Negeri Mamala dan Negeri Morella tahun 2018. Karena, baik Negeri Mamala maupun Negeri Morella, merupakan dua desa tetangga dengan tingkat kekayaan alam laut, sangat sanga menjanjikan masa depan masyarakat. Keduanya memiliki potensi terumbu karang yang masih baik, dibanding daerah lainnya di Kota Ambon. 

 

Hadirnya beberapa lokasi pariwisata yang telah diketahui masyarakat di dua desa tersebut, tentu harus mengingatkan masyarakat, untuk terus meningkatkan potensi sumber daya manusianya. Sebab, lewat sumber daya manusia yang memada itulah, alam dapat diproduksi menjadi sumber pendapatan, tanpa harus merusak alam itu sendir. 

“Berdasarkan hasil kegiatan-kegiatan tersebut, kami merasa perlu dan penting untuk melakukan Pengabdian Masyarakat di Maluku, untuk lebih menyiarkan ajaran-ajaran agama dan pengetahuan-pengetahuan berbasis gender, tentang melestarikan alam dan membantu membangun perekonomian yang kreatif, sesuai dengan kearifan lokal dan sumber daya alam yang dimilik. Untuk saat ini kami fokuskan di Negeri Mamala dan Negeri Morella dengan tema “Beta Cinta Laut”,” tutup Nurlaila. (WHL/ADV)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top