AMBONESIA

FDI Bahas Histografi Asal-usul Kapitan Pattimura

RakyatMaluku.com – GUNA memboboti asal-usul sejarah Pattimura dengan latar Thomas Matulessy, ma­ka Dewan Pengurus Daerah (DPD) Forum Dosen Indonesia (FDI) Provinsi Maluku, me­ngadakan seminar sehari, dengan latar, “Mem­bedah histografi sejarah asal-usul Ka­pitan Pattimura dari Negeri Hulaliu”.

Seminar sehari yang menghadirkan berbagai tokoh masyarakat dari beberapa negeri, yang me­miliki historis dengan perjuangan Patti­mura ini, digelar di gedung Student Center Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Selasa 14 Agustus 2018.

Kegiatan diawali dengan presentasi sejarah Pattimura versi keturunan Thomas Matulessy dari Negeri Hulaliu, yang dipaparkan oleh peneliti, Heppy L Lelahapary. Kemudian dilanjutkan dengan presentasi oleh pemateri banding, yakni Prof. Dr. Mus Huliselan, Ketua Prodi Sejarah FKIP Unpatti Ambon, Jhon Pattiasina, dan Sejarawan Maluku, Dr. Usman Thalib.

Heppy dalam materinya lebih banyak mengulas tentang sejarah Pattimura versi keturunan Matulessy. Mulai dari silsilahnya sampai pada keturunannya yang masih hidup saat ini. Beberapa dokumen sejarah peninggalan jejak Pattimura versi Hulaliu juga ditampilkan oleh Heppy ketika menyampaikan materinya. Bagi Heppy, lewat seminar ini akan ada dialog terbuka tentang siapa sebenarnya sosok Pattimura, yang meski sesungguhnya sudah dilegistimasi oleh pemerintah. Karena, menurut dia, masih ada versi-versi lainnya tentang asal-usul Pattimura, yang salah satunya seperti dari Hulaliu. Pada kegiatan, juga diundang pejabat pemerintah Negeri Hualoy dan Negeri Latu, yang dianggap juga memiliki historis tentang sejarah Pattimura dan perang Pattimura, khususnya di Saparua.

Sementara Prof Huliselan dan Dr. Usman Thalib, lebih kepada latar sejarah yang menjadi konsumsi mereka selama ini. Mulai dari pentafsiran kata-kata Patti dan Pattimura, hingga beberapa sejarah Pattimura, yang langsung memiliki hubungan dengan Ahmad Russy dari Negeri Hualoy.

Sementara Ketua DPD FDI Provinsi Maluku, J. N Anamofa, menegaskan, seminar ini dilakukan atas permintaan dari salah satu dosen dari FDI yang sementara melakukan penelitian di pulau Haruku Malteng terkait hal tersebut. Dia meminta untuk FDI memfasilitasi kegiatan tersebut.

Bagi dia, memang diketahui bahwa Kapitan Pattimura melalui berbagai seminar telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional yang berasal dari Saparua. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa ternyata ada cerita tentang asal-usul Pattimura dari berbagai negeri, seperti yang terungkap dalam seminar kemarin.

“Dalam seminar ini kita mengundang beberapa narasuber, yakni Ketua Program Studi Sejarah FKIP Unpatti, Jhon Pattiasina, Heppy L Lelaparry selaku peneliti, mantan Rektor Unpatti Prof. Dr. Mus Huliselan dan Sejarawan, Dr. Usman Thalib. Perwakilan dari Balai Arkeologi Maluku, dari balai pelestarian nilai-nilai sejarah,” jelas dia.

Sementara itu, yang diundang untuk menghadiri kegiatan ini seperti, pemerintah atau tokoh masyarakat negeri yang punya kaitan sejarah dengan asal-usul Kapitan Pattimura atau Thomas Matulesy, seperti, perwakilan Marga Matulessy dari Haria, Itawaka, Tuhaha, Hulaliu, raja dari Negeri Hualoy dan Latu serta beberapa undangan yang dipandang perlu, terutama raja-raja dari Saparua dan Haruku.

“Tujuan kita mengundang mereka itu untuk saling membagi informasi berdasarkan persepsi masing-masing terkait asal-usul Kapitan Pattimura. Bagi kami, ini merupakan langkah untuk membuka pintu dalam penulisan sejarah khususnya terkait dengan asal-usul kapitan Pattimura,” ujar dia.

Tentu, kata dia, seminar ini menjadi langkah awal, dan belum dapat disimpulkan. Karena ini masih dalam tahap menemukan sumber-sumber sejarah yang belum ada, melalui satu proses menguji. Apakah ini merupakan sumber primer atau sekunder. “Dan itu adalah kepentingan peneliti. Jadi ini masih jauh dari rekomendasi yang mengatakan sejarah asal-usul Pattimura dari Hulaliu, karena belum valid. Sehingga masih membutuhkan banyak langkah penelitian karena masih banyak versi dari negeri lainnya di Maluku,” tegas dia.

Sementara itu, Ketua Yayasan Satu Darah Maluku, Abraham Tulalessy, berpendapat, seminar semacam ini patut diapresiasi. Sebab melalui semiar seperti ini, berbagai kajian secara ilmiah dibicarakan berdasarkan pada data dan fakta. “Kita harus fear, jika kita mempunyai data dan fakta yang jelas. Sebab, ketika berbicara menyangkut dengan kajian ilmiah, tentu harus disertai indicator serta parameter yang jelas. Kajian ini tidak bisa mengandalkan opini, harus menggunakan fakta dan bukti,” singkat dia. (R1)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top