Uncategorized

Fesal Musaad: Sabar, Ilmu Paling Mendasar Bagi Petugas Haji

Fesal Musaad

KEPALA Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama Provinsi Maluku Fesal Musaad, S.Pd, M.Pd meminta petugas haji yang bertugas pada musim haji tahun 2019 ini agar menjalankan tugasnya dengan penuh kesabaran, tulus, dan iklhas dalam membantu para jamaah. Sebab, menjadi petugas haji merupakan suatu pekerjaan yang paling mulia. Karena itu, petugas haji harus memperlihatkan pelayanan dengan maksimal untuk kelancaran para jamaah haji. 

“Saya minta agar mereka yang bertugas sebagai petugas haji tahun 2019 ini bekerja dengan tulus, penuh tanggung jawab, dan memiliki dedikasi yang tinggi,” ujarnya.

Dikatakan, seorang petugas haji tidak boleh memiliki pembawaan sebagai pemarah tapi harus berhati lembut. “Karena pekerjaan sebagai petugas haji termasuk pekerjaan yang paling mulia,” ujar Fesal Musaad, ketika memberikan pembekalan kepada Petugas Haji Indonesia Provinsi Maluku Tahun 2019 dalam acara Halal Bi Bihalal dan Pembekalan Petugas Haji Terintegrasi Indonesia Provinsi Maluku Tahun 1440 H/2019 di aula Kantor Kemenag Kota Ambon, Rabu, 3 Juli 2019.

Acara ini dihadiri sejumlah pejabat Kanwil Kemenag Provinsi Maluku antara lain Kabid Haji dan Umrah Kanwil Agama Provinsi Maluku H.M. Yamin, KakanKemenag Kota Ambon H. Zain Firdaus Kaisupy, pengurus Dharma Wanita Kanwil Kementerian Agama Provinsi Maluku, dan para petugas haji tahun 2019.

Menurut Musaad, sebagai petugas haji kita harus membantu dan selalu menggunakan hati dan perasaan dalam melayani jamaah haji. Sebab, di situlah ujian paling berat. “Kita diuji saat melayani jamaah haji. Gunakan hati dan perasaan. Jangan gunakan logika,” ujarnya.

Mantan Kabid Pendidikan Madrasah ini mengungkapkan, jika melayani jamaah haji tidak menggunakan hati dan perasaan dan hanya mengedepankan logika bukan tidak mungkin akan menimbulkan suasana ketidakharmonisan sebab kita berhadapan dengan beragam latar belakang jamaah yang berbeda.

“Disinilah kita harus mampu membawa diri dengan baik agar tidak ada salah paham di lapangan. Jadi, sabar adalah kunci dan ilmu paling mendasar bagi seorang petugas haji,” ujarnya.

Dengan memahami kultur dan karakter yang berbeda membuat kita semakin dewasa dan menjadi matang serta mendapat pelajaran berharga dalam mempelajari latar belakang suatu daerah.

“Kita bisa mendapat pengetahuan membaca perilaku dan karakter. Memahami orang Seram Barat tentu berbeda dengan memahami saudara kita dari Seram Timur,  Aru dan lain-lain,” ujarnya.

Di sinilah, kata Kakanwil, ujian paling berat seorang petugas haji. “Meski berat, tapi pekerjaan ini sangat mulia. Nilai ibadahnya tentu sangat tinggi,” ujar putera Kilwa, Kabupaten Seram Bagian Timur, itu.

Untuk diketahui, musim haji tahun ini dari Provinsi Maluku diikuti 1.272 jamaah calon haji. Mereka akan diterbangkan ke Kota Madinah via Bandara Hasanuddin Makassar tanggal 14, 15, dan 16 Juli 2019. 

Adapun tim haji yang tergabung sebagai petugas haji terdiri atas petugas kesehatan, petugas bimbingan haji, dan Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD).

Lebih lanjut Kakanwil mengungkapkan, sistem pelayanan haji tahun ini jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kebijakan Kementerian Agama RI dengan merealisasikan tiga inovasi pelayanan jamaah haji tentu memberikan kemudahan pelayanan serta kenyamanan kepada jamaah haji yang melaksanakan ubadah haji. 

Tiga inovasi itu antara lain, pemberlakuan jalur cepat melalui sistem biometrik, penyediaan fasilitas tenda ber-AC di Arafah serta penerapan sistem zonasi embarkasi.

Musaad menjelaskan, kebijakan jalur cepat itu ditempuh untuk mempermudah jamaah calon haji dalam segala hal termasuk dokumen keberangkatan dan perekaman biometrix.  

Sementara fasilitas tenda ber-AC diperuntukkan agar jamaah haji merasa aman dan nyaman dalam menunaikan ibadah haji. Untuk inovasi sistem zonasi embarkasi dimaksudkan mempermudah akses komunikasi, mempermudah jamaah mendapatkan makanan serta penyesuaian menu makanan sesuai dengan wilayah masing-masing.

Dengan adanya pemberlakukan sistem zonasi embarkasi, kata Musaad,  kedepan jika  Maluku memiliki embarkasi maka tak menutup kemungkinan menu makanan, misalnya, sagu, papeda dan sir-sir juga di bawah ke Makkah. 

“Semoga hadirnya inovasi ini dapat mendorong tingkat kepuasan pelayanan jamaah haji,” harap Musaad.(DIB/CIK)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top