NEWS UPDATE

Golkar – PKS Maluku Berpeluang Gagal Ke Senayan

PADA tahun 2014, ada empat partai politik yang berhasil mengantarkan kader mereka ke senayan dari Maluku, yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang memperoleh 192.7510 suara, kemudian Partai Golkar dengan mendapatkan suara 162.549, ketiga Partai Gerindra 130.857 suara dan terakhir Partai Kebangkitan Bangsa yang memperoleh suara 112.805.

Sementara Nasdem : 107.443, PKS  49.528 suara, Demokrat 66.517, PAN  26.475 suara, PPP 27.698, HANURA  26.711 suara, PBB 8.725,suara PKPI   16.764 suara. 

Tapi pelaksanaan pemilu 2019 ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Jika Pemilu 2014 memakai metode Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) dalam menentukan jumlah kursi, maka pemilu kali ini akan menggunakan teknik Sainte Lague untuk menghitung suara. 

Metode ini diperkenalkan seorang matematikawan asal Perancis bernama Andre Sainte Lague pada tahun 1910. Sementara di Indonesia regulasi ini disahkan pada 21 Juli 2017 di DPR RI dengan menggabungkan tiga undang-undang pemilu, yakni UU 8 2012 tentang Pemilu Legislatif, UU 15/2011 tentang Penyelenggara Pemilu dan UU 42/2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. 

Dalam UU Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilu, menyebutkan partai politik harus memenuhi ambang batas parlemen sebanyak 4 persen dari jumlah suara. Hal ini diatur dalam Pasal 414 ayat 1. 

Sesudah partai memenuhi ambang batas parlemen, langkah selanjutnya adalah menggunakan metode Sainte Lague untuk mengkonversi suara menjadi kursi di DPR. Hal itu tertera dalam Pasal 415 (2), yaitu setiap partai politik yang memenuhi ambang batas akan dibagi dengan bilangan pembagi 1 yang diikuti secara berurutan dengan bilangan ganjil 3,5, 7 dan seterusnya. 

Metode ini dinilai justeru menguntungkan partai-partai papan bawah untuk pembagian kursi DPRD. Perolehan suara yang mereka hasilkan akan terpakai sepenuhnya. Berbeda dengan partai politik papan atas, seperti PDIP, Golkar dan lain-lainnya. 

“Sainte Lague ini fhilosopinya adalah hitungan keadilan politik demi alasan demokrasi electoral, tapi dengan tehnik pembagian yang ada, banyak suara di partai-partai besar tidak akan terpakai,”  kata pengamat politik dari Universitas Pattimura Ambon, Amir Kotarumalus kepada Rakyat Maluku, Selasa 29 Januari 2019.

Amir menjelaskan, suara yang tidak terpakai itu maksudnya, setelah partai a mendapatkan satu kursi, hitungan selanjutnya akan loncat. Sehingga dengan jatah empat kursi suara sisa di partai a tak lagi terpakai terkecuali dia memenuhi pembagian ke tiga. 

” Jumlah suara tertinggal akan hangus dan angkanya mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, atau residu suara berpeluang tinggi di Pileg 2019,” kata Amir. 

Tapi dengan sistem pembagian Sainte Lague ini memiliki efek positif, yakni mengurangi oligarki partai-partai besar di Pileg 2019. Para penguasa di partai-partai besar akan sulit untuk mengatur suara sisa untuk menambah jatah ke parlemen.

Pada kesempatan itu, Amir enggan mendiskusikan lebih jauh soal survei yang dilakukan Balitbang Rakyat Maluku, yang mana hasilnya menempatkan para pendatang baru ke Senayan. Selain itu ada ketidakkonsistensi struktur partai politik dalam mengawal kepentingan partainya.

Tapi kata akademisi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unpati, dalam politik memang sering terjadi demikian, tergantung kebutuhan personal.

“Misalnya ada yang tukar dukungan, itu biasalah,” ujarnya. 

Sebagaimana diketahui, pada survei yang lalu, Golkar dan PKS terancam tak lolos ke Senayan. Sementara caleg PKB mendapatkan nilai cukup tinggi. Banyak pemilih yang langsung menyebut Caleg PKB ke Senayan. Adapun di Nasdem, ada dua nama yang muncul. Yakni Rosita Usman dan Abdullah Tuasikal. Tapi PKS sama sekali tak disebut. Bahkan di Tual-Malra banyak pemilih yang belum menentukan sikap mereka ke DPR-RI.  

Khusus Golkar, nama Edison hanya muncul di Kabupaten Seram Bagian Timur, ini diduga karena kerja keras Bupati Mukti Keliobas. Tapi sikap politik Edison yang sering menggelorkan isu rasial soal agama membuat ketokohannya kian sirna bahkan di Tual-Malra sekalipun. Peluang  kursi Golkar DPR pun terancam pengaruh struktur Caleg yang tidak terlalu populer. (ARI)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top