NEWS UPDATE

GP2 Maluku Minta PT PLN Malmalut Tanggung Jawab, Soal Mangkraknya Proyek Listrik Di Pulau Romang

GERAKAN Pemuda Perbatasan (GP2) Maluku meminta pihak PT PLN Unit Induk Wilayah Maluku Maluku Utara ikut bertanggunjawab terhadap mangkraknya proyek pembangunan jaringan listrik melalui program listrik desa di Pulau Romang, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD)

Sekretarus GP2 Maluku, Calin Leppuy kepada Rakyat Maluku, Senin 1 Juli mengungkapkan, pihaknya sangat prihatin dengan kondisi yang dialami masyarakat Desa Jerusu, Desa Rumkoda dan beberapa desa sekitar di Pulau Romang, yang selama ini terkesan hanya bisa melihat tiang listrik yang menjadi tontonan serta faslitias jaringan berupa kabel dan travo yang berserakan begitu saja di pinggiran pantai.

”Saya melihat sendiri ketika berkunjung bersama Komisi A DPRD Maluku di Pulau Romang. Sebelumnya ketika kami, dari LSM Lingkungan Kalesang Maluku datang ke Romang untuk masalah tambang, kondisinya  tidak jauh berbeda. Proyek jaringan listrik ini sama sekali penuh misteri. Dikerjakan sekita tahun 2017, tapi hingga tahun 2019 ini belum juga kelar-kelar. Lalu dibiarkan terbengkalai begitu saja,” kata Calin Leppuy.

Padahal, lanjut dia, masyarakat setempat sudah dijanjikan oleh pihak kontraktor bahwa listrik sudah bisa dinikmati pada tahun 2018 lalu.

Karena itu, Calin mempertanyakan sejauh mana pengawasan dari pihak PLN terhadap pekerjaan proyek jaringan listrik di Pulau Romang yang terkesan mangkrak itu.

”Ya, kontraktornya, dalam hal ini Firma Passo Jaya milik pak Patrisius Wee bisa memang harus bertanggunjawab, tapi pihak PLN juga jangan tutup mata, karena semua yang terjadi ini adalah bagian dari lemahnya pengawasan pekerjaan di lapangan oleh PT PLN Unit Induk Wilayah Maluku Maluku Utara,” tekannya.

Ia mendesak pihak PLN untuk segera memberikan klarifikasinya dan mengupayakan agar proyek pembangunan jaringan listrik itu bisa segera diselesaikan agar masyarakat di Pulau Romang bisa menikmati listrik dalam tahun ini juga.

”Kasihan, masyarakat di sana banyak yang hidup hanya menggunakan pelita pada malam hari. Syukur bagi mereka yang punya rejeki lebih bisa membeli genset untuk penerangan malam hari. Tapi bagi masyarakat yang hidup berkecukupan, anak-anaknya harus belajar menggunakan pelita saja,” kesal dia.

Calin Leppuy juga merekomendasikan kepada aparat penegak hukum untuk memproses proyek yang diduga kuat bermasalah ini.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, pimpinan Firma Passo Jaya, Ir Ptrisius Wee punya ‘dosa besar’ di Pulau Romang, terkait pekerjangan jaringan listrik masuk desa di Desa Jerusu dan beberapa desa pada pulau di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) itu.

Bagaimana tidak, proyek jaringan listrik yang dikerjakan Fa Passo Jaya di wilauah ini sudah mangkrak dua tahun. Sejak tahun 2017 proyek dengan niliai miliaran rupiah itu dikerjakan, namun tebengkalai sampai saat ini.

Rakyat Maluku yang berkunjung ke Pulau Romang pekan lalu menemukan kondisi pekerjaan yang mangkrak hampir dua tahun.

Beberapa tiang menunju Desa Jerusu sudah terpasang tapi kabel listrik belum terpasang sepenuhnya. Ada yang sudah disangkutkan ke tiang listrik tapi dibiarkan terjulur begitu saja sampai ke tanah.

Sudah begitu, material berupa lingkaran kabel bahkan travo dibiarkan tergelatak di tepi pantai dan terkesan tidak terurus. Beberapa bagian travo mulai kelihatan karatan karena hamya satu meter saja dari deburan ombak laut.

Dalam pertemuan Ketua Komisi A DPRD Maluku, Melky Frans bersama dua anggota komisi masing-masing, Freddy Rahakbauw dan Costanzius Kolatfeka warga setempat menyampaikan keluhan mereka soal mangkraknya proyek pembangunan jaringan listrik tersebut.

”Proyek ini dikerjakan sejak tahun 2017. Perusahaan yang mengerjakannya adalah perusahaan Passo Jaya. Mereka janji bahwa tahun 2018 listrik sudah bisa menyala di Jerusu dan tahun 2019 menyala di kampung-kampung lain di Romang ini, tapi ternyata pekerjaannya terbengkalai sampai saat ini,” kata F Mosses, salah satu warga Desa Jerusu.

Ia meminta kepada Komisi A DPRD Maluku untuk segera menindaklanjuti persoalan ini, biar perlu membawanya ke rana hukum agar kontraktor yang menanganinya segera diproses untuk mempertanggungjawabkan ketidakberesan yang terjadi.

Pasalnya masyarakat di Pulau Romang sangat membutuhkan adanya penerangan listrik. ”Banyak warga yang tinggal dalam kegelapan. Syukur-syukur bagi yang mampu, mereka bisa membeli mesin genset untuk penerangan di malam hari, tapi kebanyakan masyarakat hanya hidup dengan pelita. Kami sangat menyesalkan hal ini,” kesal Mosses.

Agustinus Lendert, salah satu komponen pemuda Pulau Romang kepada Rakyat Maluku, akhir pekan kemarin meminta agar aparat penegak hukum segera menangani persoalan mangkraknya pembangunan jaringan listrik di Pulau Romang ini.

”Kami meminta agar pihak kejaksaan maupun kepolisian segera bergerak. Panggil dan periksa kontraktornya, dia harus bisa mempertanggunjawabkan terbengkalainya pekerjaan di lapangan,” pungkas Lendert. (NAM)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top