Uncategorized

Guru SMA Negeri 18 MBD Bikin Surat Terbuka Buat Kepseknya

Buntut Kepsek Tak Hadir Bertahun-Tahun Di Sekolah

KALAU ada predikat Kepala Sekolah terburuk di Indonesia, itu mungkin pas dilayangkan kepada Kepala Sekolah (Kepsek) SMA Negeri 18 di Maluku Barat Daya (MBD)

Bagaimana tidak, sang kepsek di sekolah yang terletak di Watuwei Pulau Dawelor, (MBD) bernama Andarias Legwurnitua,S.Pd bertahun-tahun tidak pernah ada di sekolah itu.

Padahal, tenaga pengajar di sekolah ini sangat terbatas, apa lagi sebagai kepala sekolah, mestinya dia bertanggungjawab pada proses belajar mengajar terutama dalam rangka menyiapkan para siswa menghadapi ujian nasional.

Ketidak hadiran kepsek ini akhirnya membuat anak didik dan para guru di sekolah itu kecewa. Seorang guru akhirnya membuat surat terbuka kepada kepsek yang hingga kini tidak diketahui dimana rimbanya itu.

Yahya Wtuwensa, sang guru yang juga putra setempat menulis surat terbuka itu dan mempostingnya ke beberapa group facebook termasuk di Group Gerakan Membangun Maluku Barat Daya.

Begini antara lain surat terbuka yang diposting Rabu, 6 Februari 2019 dengan judul Untukmua Andarias Legwurnitua,S.Pd, (NIP.196505112006041005, Kepala SMA Negeri 18 MBD itu.

”Aku tak semumur denganmu. Usia kita terpaut jauh, aku bagai benuhyang baru muncul tunasnya di permukaan tanah. Sedangkan engkau telah menghasilkan buah, dan mungkin buah yang engkau hasilkan sudah menjadi benih dan bertunas seperti aku sudaraku.”

Wutwensa menulis, walau kita berbeda, dalam usia, namun dirinya dan sang kepsek memiliki profesi yang sama, profesi yang mulia karena memikul tanggung jawab negara untuk mencerdaskan anak bangsa, bahkan menjadi alat Tuhan untuk menjawab pergumulan anak dan orang tua dalam mewujudkan cita dan cinta mereka.

Karena itu, Wutwensa mengharapkan sang Kepsek SMA Negeri 18 MBD itu bisa merasakan kebanggaan profesi dan tanggung jawab yang sama dengan dirinya.

Ia mengisahkan, kurang dari enam bulan lagi ia mengabdi di sekolah itu. Tertawa, senyum, dan menangis bersama anak didik dalam senang dan kepedihan mereka sehingga seakan juwanya dengan para guru dan anak didik sudah menyatu.

”Aku dan teman-teman saat ini sementara mempersiapkan anak didik  khusus kelas IX untuk menghadapi ujian, baik ujian sekolah, USBN, maupun UNBK, dan saat dimana aku menulis surat ini untukmu, kami sedang menyelenggarakan simulasi dua periode dua. Selain itu, seusai jam sekolah, kami juga melakukan bimbingan belajar agar anak-anak didik kami siap lahir batin untuk menghadapi ujian sebagaikama aku tulis di atas saudaraku,” ulas Wutwensa.

Dalam surat terbuka itu, Yahya Wutwensa juga mengisahkan betapa silut dirinya harus berpisah dengan isteri dan anak selama enam tahun karena berbeda tempat tugas dan baru bertemu enam bulan sekali di saat musim liburan sekolah sehingga ada konflik batin yang dialaminya ketika liburan sekolah hampir usai dan mungkin hal itu dirasakan juga oleh sang kepsek.

”Saudaraku, masih banyak yang ingin aku ceritakan kepadamu, namun hingga kini, aku tak tahu di mana rimbamu. Kau menghilang entah kemana dan tak membekas. Jangankan aku, anak didikmu, mereka yang berganntung padamu, mereka yang kau campakan, bagaikan anak binatang liar tak bertuan, berkeliaran merana menatap ke laut lepas, mengharapkan kau kembali. Kau merenggut masa depan mereka. Mereka yang dalam ketimpangan kau campakan lagi ke dalam kolam yang dalam,” tulis Wutwensa, pula.

Ia lalu menggugah sang kepsek lewat tuislan akhirnya, bahwa bila guru adalah pelita yang menerangi anak didik di kegelapan malam, maka sang kepsek diibaratkan sebagai angin ribut yang meniup memadamkan pelita itu.

”Bila guru bagaikan embun penyejuk dalam kehausan, engkau adalah panas berkepanjangan yang mengubah embun menjadi uap dan melayang entah kemana. 

Saudaraku, aku harap kau kembali dan menyapa anak-anak didikmu. Cobalah untuk tertawa, tersenyum bersama mereka. Mereka ingin membagi cerita denganmun dalam masa muda mereka. dan jika kau lakukan itu, aku yakin Tuhan akan memberikan yang terbaik bagimu,” tutup Witwensa sembari menambahkan, kata ”Salam dariku.”

Sementara itu, pantauan Rakyat Maluku, surat terbuka dari guru yang sudah muak dengan sikap sang Kepsek yang bertahun-tahun tidak hadir di sekolah ini mendapat tanggapan dari ratusan warga net, khususnya yang berasal dari Kabupaten MBD. 

Ada yang mengaku persoalan ini sudah dibuka ke publik sejak tahun 2017 lalu dan hingga kini sang kepsek belum juga kembali ke sekolah, bahkan terkesan penanggunjawab pendidikan baik yang ada di tingkat Kaupaten MBD dalam hal ini kepala UPTD, juga pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di Provinsi Maluku menutup mata terhadap persoalan yang terjadi.  (NAM)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top