NEWS UPDATE

Hubungan Lesbi Di Ambon, Buchi Fiki Dituntut 7 Tahun Penjara

TERDAKWA Firda Hasan alias Fi alias Fiki (25) dituntut pidana penjara selama tujuh tahun, serat membayar denda sebesar Rp 200 juta subsider enam bulan kurungan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Ambon. Sebab, perbuatan warga Belakang Kota, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, itu terbukti bersalah melakukan tindak pidana pencabulan sesama jenis kelamin wanita (Lesbian) yang merupakan anak dibawah umur.

“Menyatakan, perbuatan terdakwa Firda Hasan alias Fi alias Fiki terbukti melanggar Pasal 82 ayat (1) UU RI No. 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU RI No.1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU RI No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 64 Ayat (1) KUHP,” ucap JPU Achmad Attamimi, saat membacakan surat tuntutannya di Pengadilan Negeri (PN) Ambon, Jumat, 13 September 2019.

JPU dalam surat tuntutannya menjelaskan, terdakwa Firda Hasan alias Fi alias Fiki, seorang wanita yang berperan sebagai pria (Buchi) melakukan tindak pidana pencabulan terhadap anak korban wanita (Femi), pertama kali di salah satu penginapan di Kota Ambon pada Januari 2019, sekitar pukul 20.00 Wit. Dan kejadian terakhir kalinya bertempat di Penginapan Nyaman Kota Ambon, Selasa, 19 Februari 2019, sekitar pukul 02.00 Wit (dini hari).

Anak korban menerangkan, pada awal Desember 2018 lalu anak korban pergi ke acara pesta teman, kemudian bertemu dengan terdakwa. Mereka lalu saling tukar nomor telepon. Seiring waktu berjalan sekitar akhir Desember 2018, terdakwa mulai dekat dengan anak korban dan sering mengajak anak korban untuk jalan dengan terdakwa.

Hingga akhirnya terdakwa meminta anak korban untuk berpacaran dengan terdakwa yang merupakan seorang perempuan tomboi. Kemudian pada Januari 2019, terdakwa dan anak korban sempat tidur di salah satu penginapan di Kota Ambon.

Saat berada didalam kamar penginapan itu, terdakwa langsung mencabuli anak korban dengan meraba dan mencium seluruh tubuh anak korbaa hingga terdakwa merasa puas. Setelah melampiaskan nafsunya, terdakwa kembali memakai pakaian dan selanjutnya mereka tidur di penginapan tersebut sampai pagi harinya.

Anak korban menerangkan, sejak saat itu terdakwa menjadi sering mencabuli anak korban. Kemudian sekitar akhir Januari 2019, anak korban bersama terdakwa menginap di kamar 405 Penginapan Nyaman, hingga kejadian terakhir pada Selasa, 19 Februari 2019, sekitar pukul 02.00 Wit (dini hari).

Di kamar 405 itu, terdakwa kembali mencabuli anak korban dengan cara yang sama. Yakni, dengan meraba dan mencium seluruh tubuh anak korbaa hingga terdakwa merasa puas. Selanjutnya terdakwa dan anak korban memakai pakaian dan beristirahat tidur.

Keesokan harinya, terdakwa dan anak korban yang masih berada di dalam kamar 405 itu kemudian terjaring raziah oleh petugas kepolisian. Selanjutnya, petugas membawa terdakwa dan anak korban ke kantor polisi untuk diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Usai mendengar pembacaan surat tuntutan oleh JPU, Ketua Majelis Hakim Amaye Yambeyapdi, didampingi dua hakim anggota Christina Tetelepta dan R.A Didi Ismiatun kemudian menunda persidangan hingga Kamis pekan depan, dengan agenda sidang Pleidoi (Pembelaan) oleh Penasehat Hukum (PH) terdakwa, Dominggus Huliselan SH. (RIO)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top