NEWS UPDATE

Jaksa Kejar Aliran Dana Reverse Repo Obligasi Bank Maluku Rp 238,5 Miliar

RakyatMaluku.com – KASUS korupsi penjualan dan pem­belian surat-surat hutang/ Reverse Repo Obligasi pada Kantor Pusat PT. Bank Maluku – Malut tahun anggaran 2011 – 2014 diduga merugikan ke­uang­an negara hingga Rp 238,5 miliar.

Tim Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku pun terus mendalami aliran dana ratusan miliar tersebut, sambil menunggu hasil audit dari BPKP Perwakilan Maluku.

Menurut Kepala Seksi Penyidikan (Kasi Dik) Kejati Maluku Abdul Hakim, Direktur PT AAA Secu­ritas Andre Theodorus Rukminto hingga saat ini belum membuka mulut terkait aliran dana tersebut. Kecurigaan penyidik aliran dana itu tidak hanya ada pada Rukminto, melainkan ada ke pihak lainnya.

“Kita masih terus mendalami kemana aliran dana ratusan miliar tersbeut. Karena, hingga saat ini Andre Rukminto belum mau buka mulut terkait itu. Tapi kami yakin, aliran dana itu bukan hanya ada pada pihak PT AAA Securitas saja,” kata Abdul, kepada koran ini, via selulernya, tadi malam.

Dikatakannya, PT AAA Securitas adalah pihak perusahaan yang melakukan transaksi reverse repo obligasi dengan Bank Maluku. Penjualan surat-surat berharga itu dilakukan sejak tahun 2011, dan menimbulkan kerugian di tahun 2014 yang kala itu pihak PT AAA Sekuritas tak lagi mampu membayar hutangnya kepada Bank Maluku.

“Andre Rukminto saat ini dipidana dalam kasus lain dengan pidana penjara selama 18 tahun. Kami akan agendakan pemeriksaan lagi terhadap dia untuk menguraikan aliran dana tersebut. Selain itu, kami juga akan melakukan pemeriksaan terhadap Ahli dari OJK yang dipastikan dalam waktu dekat ini,” jelas Abdul.

Transaksi ini berawal sejak kepimpinan Di­rektur Utama Bank Maluku Dirk Soplanit dan Direktur Pemasaran Willem Patty. Saat transkasi itu berjalan tidak ada perosoalan. Saat keduanya pensiun di Februari 2014, barulah terjadi kerugian. Dimana, kepimpinan saat itu beralih kepada Idris Rolobessy selaku Direktur Utama menggantikan posisi Dirk Soplanit.

“Yang kita kejar kerugian negaranya. kerugian itu terjadi di 2014, dan telah ada pergantian pimpinan. Langkah selanjutnya adalah kita terus mendalami uang ratusan miliar itu kemana, itu yang masih kita kejar,” ujar dia.

Disamping itu, lanjut Abdul Hakim, Tim Pen­yidik terus melakukan koordinasi dengan BPKP Perwakilan Maluku untuk secepatnya menuntaskan perhitungan kerugian negara dalam kasus dimaksud. “Kita terus koordinasi, dan harapnaya hasil perhitungan oleh BPKP secepatnya dapat dirampungkan,” tutup Abdul.

Dalam penyidikan kasus ini, Tim Penyidik Kejati Maluku telah menetapkan dua orang sebagai tersangka. Yaitu, Mantan Direktur Utama Bank Maluku Idris Rolobessy dan Mantan Direktur Kepatuhan, Izack B Thenu.

Sebelumnya, Kepala Kejati Maluku Triyono Haryanto mengatakan, tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka baru dalam kasus reverse repo obligasi Bank Maluku.

“Ya, kasus repo ini jumlahnya sangat signifikan. Memang baru dua tersangka tetapi tidak menutup kemungkinan akan ada lagi tersangka lainnya. Nanti coba saya pelajari lagi,” kata Kajati kepada wartawan belum lama ini.

Untuk diketahui, Bank Maluku saat itu menerbitkan obligasi sebesar Rp 300 miliar dalam bentuk tiga seri, yakni seri A sebesar Rp 80 miliar yang telah dilunasi pada 2013. Seri B Rp 10 miliar telah dilunasi pada 2015. Dan Seri C sebesar Rp 210 miliar jatuh tempo pada Januari 2017.

Berdasarkan hasil pemeriksaan rutin pada 2014, ditemukan transaksi penjualan dan pembelian surat-surat hutang/obligasi pada Kantor Pusat PT. BPDM sebesar Rp 238,5 miliar. Selain itu, OJK menemukan transaksi yang sama sebesar Rp 146 miliar dan USD 1.250 ribu. Kedua transaksi itu dilakukan pihak Bank dengan PT. AAA Sekuritas. (RIO)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top