ADVETORIAL

JMS Pebisnis Sukses Yang Siap Mengabdi Untuk Rakyat Maluku

BERBEKAL pengalaman panjang dan kesuksesan di dunia bisnis, serta networking yang luas, Jaqueline Margareth Sahetapy SE, M.Si, yang akrab disapa JMS akhirnya ikut bertarung mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Provinsi Maluku periode 2019-2024, daerah pemilihan (dapil) Kota Ambon, nomor empat (4) dari Partai Demokrat.

Keinginan pengusaha muda asal Negeri Itawaka, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) untuk maju sebagai wakil rakyat, bukan hanya ambisi semata, melainkan dorongan dari masyarakat Kota Ambon karena melihat karakter JMS yang selalu berorientasi ke depan dan mempunyai jiwa kepimimpinan.

“Setelah 11 tahun saya belajar di partai politik, saya ingin betul-betul menjadi wakil rakyat yang terpanggil untuk mewakili kepentingan rakyat. Sesuai motto hidup saya bahwa hidup kita berarti apabila kita sudah berarti untuk hidup orang lain,” ungkap JMS.

“Jadi kalau rakyat tidak ikut mendorong atau mendukung, saya juga tidak berani untuk mengambil langkah. Karena niat pribadi saya untuk melayani rakyat atas keinginan rakyat yang selalu mensuport saya hingga saat ini saya berada dalam kontestasi pileg 2019,” tambahnya.

JMS adalah sosok wanita super dan bisa disebut sebagai pahlawan bagi rakyat kecil. Sebab, selain memiliki jiwa pekerja keras nan mandiri sejak usia mudanya, JMS juga dikenal berjiwa sosial, suka berbagai kasih kepada orang tak mampu, terutama kepada anak yatim piatu dan lanjut usia (lansia).

Selain pengusaha, wanita kelahiran Ambon, 21 Juli 1982, ini juga merupakan seorang pegiat sosial dan aktivis perempuan di Maluku. Di keluarganya, ia memiliki empat bersaudara dari pasangan ayahnya Adolf A. Sahetapy seorang pensiunan polisi, dan ibunya Wilhemina J. Paays seorang pensiunan pegawai negeri sipil (PNS).

Sejak lulus kuliah di tahun 2004, JMS mulai mengadu nasib di Ibu Kota Jakarta pada tahun 2005. Di Jakarta, JMS bekerja di Standart Chartered Bank. Baru dua tahun bekerja (tahun 2007), JMS mendapat kabar duka dari keluarganya di kampung halaman bahwa ayah tercintanya telah tutup usia.

Rasa sedih pun menyelimuti suasana JMS saat itu. Satu-satunya pahlawan yang dimilikinya dalam hidup harus kembali kepada Sang Pencipta saat ia berada di tanah rantau. Yang paling membuat hati JMS sedih adalah ia belum dapat menunjukan kesuksesannya kepada ayahnya.

Berkat bantuan tangan Tuhan, kepergian sang ayahanda tak membuat semangat kerja keras JMS berkurang. Bahkan, semakin membuat JMS dewasa dan mandiri untuk melawan kenyataan hidup. Ia harus menjadi tulang punggung keluarga untuk menyekolahkan adiknya yang saat itu kuliah di Surabaya hingga selesai.

Dan dengan keadaan krisis ekonomi saat itu, ia terpaksa mengambil double job di Standart Chartered Bank dan PT. AXA Financial Indonesia. Seiring berjalannya waktu, JMS merasa double job itu ternyata belum juga mencukupi kebutuhan ekonominya. Terkadang, JMS harus menahan rasa lapar demi mencukupi kebutuhan adiknya di Surabaya.

“Saya kos di Jakarta sambil kerja. Saat ekonomi kurang begitu baik, saya harus dihadapkan dengan cobaan kabar duka tentang papa. Ini menjadi tantangan terberat dalam hidup saya. Sebab, saya harus mengganti peran papa menyekolahkan adik yang kuliah di Surabaya. Dan puji syukur, semua cobaan ini bisa dilewati,” tuturnya.

Di tahun 2009, JMS akhirnya memutuskan untuk kembali ke Kota Ambon. Di awal karirnya di Kota Ambon, JMS bekerja di Panin Bank yang saat itu baru mulai membuka cabang di Kota Ambon untuk pioner marketing. Sambil bekerja di Panin Bank, JMS juga memiliki usaha sampingan, yakni berjualan tas dan sepatu.

Setahun bekerja di Panin Bank, JMS merasa seakan kariernya berjalan ditempat. Ia akhirnya memilih untuk keluar dari bank, dan mencari peluang bisnis lainnya.

“Kerja di Bank itu kan termasuk zona nyaman ya, mau kemana-mana pasti diantar pakai fasilitas kantor. Tapi sayang semua itu punya kantor, bukan milik pribadi kita. Dari situ akhirnya saya keluar untuk mencari jati diri saya di bidang usaha bisnis lainnya,” keluhnya.

Sejak keluar dari bank, JMS mengaku sering mendapat kritikan pedas dari teman-temannya. Tak sedikit yang menganggapnya “bodoh” karena keluar dari pekerjaan yang tergolong zona nyaman.

“Saat itu banyak yang bilang kalau saya itu manusia paling rugi karena keluar dari bank. Tapi bagi saya, hidup itu pilihan, jika ingin maju dan sukses harus berani mencoba. Dan kritikan dari teman-teman itulah yang membuat saya lebih bersemangat untuk membuktikan kesuksesan yang mandiri, yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain,” tepisnya.

Melihat peluang bisnis jasa asuransi di Kota Ambon belum marak, JMS akhirnya merintis bisnis tersebut. Menurut JMS, bisnis jasa asuransi saat itu dipandang sebelah mata oleh sebagian orang di Maluku. Sebab, pekerjaan tersebut dinilai sebagai pekerjaan yang tak memiliki pilihan lain.

“Jadi, PT. AXA Financial Indonesia yang bergerak di bidang jasa asuransi itu ada di Jakarta, dan saya mulai merintisnya di Ambon tahun 2010, karena saya melihat ini peluang bisnis yang menjanjikan. Disini kita bekerja bukan untuk orang lain, melainkan bekerja untuk diri sendiri. Disinilah saya belajar membangun bisnis,” ucapnya.

Di awal karirnya di dunia asuransi, JMS mengaku sering mendapat pertentangan dari internal keluarga hingga teman-temannya. Sebab, ia harus berjalan kaki mengelilingi Kota Ambon hanya untuk menawarkan asuransi dan melayani kliennya yang rata-rata adalah seorang pengusaha.

“Saya mulai bisnis asuransi itu dari nol, dari belum ada kantor, bahkan laptop saja tidak punya. Sampai-sampai saya harus ke rental hanya untuk print. Banyak orang yang tertawakan saya karena jualan asuransi. Mereka berfikir ini pekerjaan yang hina, padahal di asuransi itu kita membantu orang lain,” tuturnya.

“Dan saya pernah di usir bahkan ditolak sebelas kali oleh salah satu klien saya. Barangkali bagi sebagian orang hal ini akan membuat mereka mencari klien lain. Justru keadaan itu tidak membuat saya menyerah. Saya mencoba dan berusaha lagi, sebab saya percaya tangan Tuhan akan bekerja bagi mereka yang mau sungguh-sungguh bekerja keras,” tambah JMS mengenang kisahnya.

Bermodal ilmu di bangku perkuliahan, pengalaman dan semangat pantang menyerah, akhirnya pengorbanan dan perjuangan JMS di bisnis asurasi menuai hasil yang memuaskan. Baru setahun bergelut bisnis asuransi, JMS sudah memiliki klien yang jumlahnya cukup banyak. Alhasil, dari berbisnis asuransi itu juga telah mengantarkan JMS berkeliling dunia.

“Belajar bisnis di dunia asuransi adalah suatu penghargaan berarti dalam hidup saya. Karena dari bisnis ini saya jadi tau banyak hal, saya kenal banyak pengusaha yang rata-rata klien saya. Bisnis ini juga sudah membawa saya berkeliling dunia, diantaranya ke Paris, Belanda, Roma, Amerika, Italy, Hongkong, Thailand, Malaysia, dan Singapore. Pokoknya hampir semua negara sudah saya kunjungi berulang kali,” cetusnya.

Kemudian di tahun 2014, bersama sejumlah temannya, JMS mendirikan perusahan yang bergerak di bidang jasa konstruksi, arsitektur dan konsultan design interior, property, topography dengan nama PT. Jasmerah Fajar Karyatama dan PT. Sukses Gemilang Jaya. Di PT. Sukses Gemilang Jaya, JMS menempati posisi sebagai direktur utama.

Selain aktif di dunia jasa asuransi yang telah membesarkan namanya, JMS kemudian mengasah kemampuan entrepreneurship-nya dengan bergabung di organisasi usahawan muda, yakni, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Di HIPMI Maluku, JMS menjabat sebagai ketua umum periode 2017-2020.

“HIPMI adalah media yang paling tepat saya belajar dan membuka cakrawala untuk menjadi seorang pengusaha yang tangguh, mandiri dan berhasil. Saya pikir tidak ada sesuatu yang mustahil bagi Tuhan selama niat kita baik dan ingin maju,” ungkap JMS.

Tak hanya di HIPMI, JMS juga aktif di berbagai organisasi lainnya, yakni di GMKI Cabang Ambon, DPD KNPI Maluku sebagai Ketua Bidang Organisasi dan Pemberdayaan OKP, dan Dewan Penasehat DPD Granat Maluku. Nama JMS juga pernah tercatat sebagai Wakil Ketua Departemen Kemaritiman dan Infrastruktur DPP Partai Demokrat.

Dan sekarang JMS adalah salah satu Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Maluku, Wakil Sekretaris Jenderal Perempuan LIRA dan sebagai Pembina pada Yayasan Payung Teduh yang ia dirikan. Hingga kini, yayasan milik JMS itu memiliki 21 anak asuh (yatim) di setiap desa di Kota Ambon.

Prestasi dan karir JMS yang cemerlang di dunia usaha dan organisasi, tak lantas membuat ia puas untuk berhenti belajar. Di dunia akademik, JMS selanjutnya mengasah kemampuan intelektualnya. Di tahun 2016, JMS berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi magister dengan menyandang gelar Magister of Science (M.Si) bidang ekonomi.

Kemudian Oktober 2016, JMS mengikuti sekolah bagi calon pemimpin nasional, Pendidikan dan Pelatihan Nasional Angkatan IV di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Republik Indonesia (RI), atas kerjasama Lemhanas RI dengan Badan Pengurus Pusat (BPP) HIPMI pimpinan Ketua Umum Bahlil Lahadalia. JMS menjadi satu-satunya keterwakilan BPD HIPMI Maluku dari total 110 peserta yang ikut serta dalam kegiatan itu.

Ia berpesan, jika ingin mengubah pola hidup menjadi pebisnis yang lebih baik dan sukses, maka untuk menghadapi tantangan di dunia hanya ada dua jawaban, yakni, ‘Yes Or No’. Artinya menerima atau menolak tantang itu.

“Bagi saya, ingin maju di dunia bisnis itu harus bersahabat dengan penolakan dan harus bersahabat dengan tantangan. Jadi tantangan itu bukan berarti kita harus mundur, tapi tantangan itu bagaimana agar kita bisa melewatinya. Sehingga, jika ingin mewujudkan mimpi, maka penghalang harus dijadikan sahabat,” pesannya.

Melihat berbagai problematika ditengah-tengah masyarakat saat ini, JMS mengaku telah menyiapkan berbagai solusi jika ia dipercayakan rakyat untuk duduk di kursi DPRD Maluku. Diantaranya, meningkatkan kualitas hidup masyarakat Maluku dengan meningkatkan infrastruktur dasar yang dibutuhkan masyarakat. Seperti, air bersih, kelistrikan, jalan pehubungan dan jembatan. 

“Konsentrasi saya ketika saya ke kawasan Leitimur, itu dari Soya sampai Hatalai jalan masih gelap. Disitu listrik belum ada, dan jembatan penghubung Soya sampai sekarang belum ada yang paten atau memadai, artinya masih jembatan kayu. Nah hal kecil seperti ini yang harus diperhatikan dan diperjuangkan,” bebernya.

Yang berikut, lanjut JMS, meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan mendorong intervensi pemerintah daerah terhadap urusan wajib pelayanan dasar. Diantaranya, pendidikan, kesehatan, sosial, ketentraman, ketertiban umum, perlindungan masyarakat, tenaga kerja, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, lingkungan hidup, pemberdayaan desa, kepemudaan dan olahraga, penanaman dan peminjaman modal usaha melalui Koperasi UMKM.

“Jadi, ketika saya terpilih menjadi anggota DPRD Maluku, otomatis saya harus mampu membangun komunikasi yang baik dengan lembaga eksekutif, agar semua kepentingan rakyat  atau yang menjadi aspirasi rakyat dapat terakomodir, dan dapat terjawab sesuai dengan kebutuhan masyarakat itu sendiri,” jelasnya.

Tak hanya di dalam daerah Maluku saja, JMS yang dikenal memiliki cukup banyak jaringan juga memastikan mampu melobi kepentingan rakyat Maluku hingga ke luar daerah, bahkan ke tingkat pusat di Jakarta.

“Dengan posisi saya sebagai ketua HIPMI Maluku yang juga mantan koordinator wilayah DPP HIPMI Indonesia Timur, setidaknya saya punya banyak jaringan mulai dari level pengusaha, kementrian hingga DPR RI. Ketua DPR sekarang saja senior kita di HIPMI. Jadi akses untuk kesana itu buat saya sangat mudah sekali. Sehingga, ketika saya jadi wakil rakyat maka semua kepentingan Maluku yang berakses di pusat bisa saya akomodir,” janjinya.

Untuk dapat mewujudkan keinginan bersama, Ia memohon doa dan dukungan dari masyarakat Maluku, terutama masyarakat di Kota Ambon dari ujung Tanjung Latuhalat hingga ujung Negeri Laha, untuk dapat memilihnya dalam Pileg 2019.

“Beta seng bisa bajalang sandiri, tanpa dukungan dan doa dari basudara. Semoga, niat baik beta ini dapat restu basudara dan senantiasa diberkati oleh Tuhan Yang Maha Esa sebagai Jalan Menuju Sukses,” pinta JMS dengan logat Ambon. (RIO)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top