NEWS UPDATE

Kapolri Ditilang, Untung Sangaji Tak Tampak

 – Dari Nobar Film 22 Menit Bersama Polda Maluku

RakyatMaluku.com – KEPOLISIAN Daerah (Polda) Maluku menggelar nonton bareng (Nobar) Film den “22 Menit” di Bioskop XXI Ambon City Center (ACC) Passo Ambon, Kamis 19 Juli 2018, yang juga di hadiri Kapolda Maluku Irjen Pol Andap Budhi Revianto.

Jakarta di awal film 22 Menit adalah kota yang eksotis – sebagaimana kota itu muncul dalam esai-esai foto di majalah Djakarta Djakarta dekade 1990an atau Bung era 2010an. Orang-orang dari seluruh penjuru kota mempersiapkan sarapan, olah fisik, bergegas ke kantor, tenggelam dalam kemacetan, ditilang, menyogok polisi agar tak disidang, lalu makan siang di kaki lima.

Ledakan bom di Thamrin mengakhiri segala hiruk-pikuk itu. Jakarta sibuk di siang hari, lalu malamnya berkeluh kesah dan bercerita, kira-kira demikian ucap seorang penyiar radio jelang peristiwa Thamrin di 22 Menit. Malam itu si penyiar radio mendapat kesimpulan berbeda tentang kota kesayangannya: “Malam ini Jakarta punya lebih banyak cerita.”

22 Menit dibagi ke dalam beberapa fragmen yang dijahit oleh peristiwa bom Thamrin. Taskya Namya memerankan seorang pekerja kantoran yang bimbang soal rencana pernikahannya. Si calon suami adalah seorang polisi yang akan ditugaskan ke Kepulauan Sangihe.

Jika mereka jadi menikah, artinya Taskya harus meninggalkan pekerjaannya. Ada pula Anas (Ence Bagus) yang ditembak teroris saat membelikan makanan untuk kawan sekantornya. Aryo Bayu memainkan karakter AKBP Ardi, polisi yang bertugas di unit anti-terorisme. Ketika bom Thamrin meledak, Ardi yang sedang berada dalam perjalanan menuju kantor dikisahkan langsung terjun di TKP.

Ada adegan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian ditilang polisi lalu lintas saat mengendarai sepeda motor.Saat itu, dia bersama istri tengah melintas ketika bom meledak. Keduanya diberhentikan polisi karena tak mengenakan helm.

“Wah repot ya kalau begini,” ucap Tito saat ditepikan oleh petugas. Itulah sepenggal adegan dalam film 22 Menit. Ada juga Brigjen Pol Khrisna Murti yang berperan menjadi penjual sate yang kebanjiran pesanan saat terjadi bom.

Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Muhammad Roem Ohoirat mengatakan, pembuatan film ini disponsori oleh Polri dan merupakan Film drama action yang terinspirasi dari kisah nyata aksi teror di Jl. Thamrin, Jakarta Pusat tanggal 14 Januari 2016.

Menurut Ohoirat melalui film ini, Polri khususnya Polda Maluku hendak menyampaikan pesan kepada masyarakat tentang bahaya terorisme, sekaligus mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan penanggulangan terhadap terorisme di Indonesia terutama di Maluku.

“Agar pesan tersebut dapat tersampaikan se­cara lebih luas, Polda Maluku mengelar acara No­bar bersama keluarga, jajaran Pemda, TNI, tokoh masyarakat, tokoh agama, pelajar, mahasiswa, dan seluruh elemen masyarakat. Selain itu, Polda Maluku juga mengajak seluruh masyarakat Maluku untuk beramai ramai menonton film ini karena selain terdapat unsur hiburan, juga sarat dengan pesan pesan moral dañ kemanusiaan,” kata Ohoirat.

UNTUNG SANGAJI TAK TAMPAK
Sangat disayangkan dalam film 22 menit ini aksi heroik AKBP Untung Sangaji tidak tampak sama sekali (tidak di Film-kan). Tidak ada kejelasan kenapa aksi Polisi berdarah Maluku tidak ada dalam cerita film tersebut. Padahal aksi Untung adalah sebuah kisah yang paling dramatis saat terjadinya ledakan bom di Sarinah. Sebagaimana kita ketahui AKBP Untung Sangaji yang melumpuhkan dua pelaku bom Sarinah yang memegang bom untuk diledakkan di depan Starbucks Coffee, Sarinah, Jakarta Pusat, Kamis 14 Januari 2016.

Hanya dalam hitungan menit, personel Satgas Bom Polri yang kebetulan berada tidak jauh dari lokasi itu mampu menghentikan aksi serangan para pelaku.

Untung yang saat kejadian mengenakan kemeja putih dan sebelumnya sempat diduga sebagai pelaku ternyata dengan berani masuk ke zona pertempuran dan melumpuhkan dua pelaku yang juga memegang bom. Dalam berbagai pemberitaan Untung Sangaji menceritakan soal keberaniannya bersama dua rekannya yang kebetulan juga berada di sana.

Untung mengatakan, sebelum aksi teror berlangsung, dia sedang berada di Walnut Cafe yang berada di bagian kiri Sarinah. Keberadaannya di sana untuk menjalankan tugas mengamankan jalur perlintasan Presiden. Untung saat itu bersama dengan AKBP Urip Widodo dan Prof Kiki Herman Sulistyo. Sedang asik berbicang, tiba-tiba terdengar ledakan hebat. “Tiba-tiba bunyi dentuman dan tidak jauh kedengarannya,” katanya.

Karena berasal dari Satgas Bom, Untung segera ke luar dari kedai kopi itu dan melihat warga berlarian menjauh dari sumber ledakan. “Kepanikan melanda, warga secara tidak tentu arah berlarian,” katanya.

Belum mengetahui bahwa ada aksi serangan teroris, Untung kemudian dikejutkan lagi dengan tiga jasad yang tergeletak di depan Pos Lantas depan Gedung Sarinah. Setelah melihat kondisi itu, dia baru sadar korban yang bergelimpangan itu akibat aksi bom bunuh diri.

“Sudah ada 3 jenazah bom bunuh diri, saya yakin karena melihat ada rompi dengan kabel pemicu, paku-paku bertebaran dan skrup kiri kanan,” katanya.

Untung kemudian bergegas mendekati seorang petugas dari satuan lalu lintas yang pahanya terluka robek yang penuh paku dan skrup menancap di tubuhnya.

“Lalu saya panggil siapapun dekat situ untuk membantu mengungsikannya ke mobil patroli lalu lintas,” ujarnya.
Tapi saat mengevakuasi korban dari anggota polisi, dengan kondisi yang saat itu sangat kacau, tiba-tiba ada tembakan dari arah depan Starbucks.

“Banyak warga menonton, tiba-tiba ada tembakan dari arah depan Sturbucks yang juga rusak kena bom,” katanya.
Setelah memastikan ada yang mengamankan polisi yang terluka, Untung kemudian mengokang senjatanya dan mendekat ke arah bunyi tembakan berasal. Saat itu ia melihat dua pelaku, satu diantaranya memegang bom dan senjata. “Kokang senjata (Infinity cal 45) dan mendekat ke arah itu, ternyata saya lihat pelaku pegang bom di tangan dan seorang temannya lagi pegang senjata,” katanya.

Satu pelaku kemudian melempar bom ke arah mobil Karo Ops Polda Metro Jaya yang dilihatnya berada tidak jauh dari pelaku.

“Dia memegang bom dan tiba-tiba melempar bom ke bawah mobil Karo Ops Polda Metro Jaya,” kata Untung.
Saat perhatian teroris mengarah ke petugas yang ada di depannya, Untung kemudian melingkari pelaku dari sisi kiri Starbucks sambil melontarkan peluru dari senjatanya.

“Tersangka juga memegang beberapa bom di tangannya, saya tembak dada dan kakinya,” ujarnya.
Diceritakan Untung, tiba-tiba bom di tangan pelaku jatuh dan meledak. Setelah ledakan berhenti, dia bersama koleganya, Ipda Tamat, kemudian mendekati pelaku. “Mendekat dan menembak bagian badannya sampai dia mati,” ujarnya.

Setelah itu, Untung dan Ipda Tamat menyadari masih ada empat bom lagi yang siap diledakkan. Menurutnya, ukuran diameter kira-kira 12 cm denagn material pipa dan tiga lagi bom berukuran keci,l namun dengan sumbu cepat. (RM)

 

======================
--------------------

Berita Populer

To Top