NEWS UPDATE

Kejahatan Perikanan Terbesar Terjadi Di Maluku

Alex Retraubun

DIREKTUR Pasca Sarjana  Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon Alex Retraubun mengatakan kejahatan perikanan terbesar ada  Maluku.

“Maluku menjadi sarang kejahatan perikanan nasional. Harus dicatat itu . Tidak ada satu pun provinsi di Indonesia yang bisa kalahkan Maluku soal ikan. Karenanya Kejahatan nperikanan itu ada di Maluku, bukan di Kepulauan Riau, atau dimana-mana,” ujar Alex Retraubun di  hadapan peserta Focussed Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh DPD Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI)  Maluku, Sabtu, 27 Juli  2019, di Pacific Hotel, Jalan Cendrawasih, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon.

Menurut Retraubun ada lebih 100 kapal asing yang setiap harinya melakukan pencarian ikan secara diam-diam di perairan Maluku.

Ikan-ikan ini kemudian dibawa ke luar Indonesia tanpa sepengetahuan pemerintah Maluku, dan diperjualbelikan di pasar-pasar besar di dunia. 

“Itulah kebodohan bangsa ini. Bagaimana ikan punya kita, tetapi orang lain punya nama. Coba bayangkan itu, mereka mendapatkan uang lebih banyak dari kita yang punya ikan.  Padahal mereka menangkap ikan, merusak laut dan dipikul oleh rakyat Maluku bukan oleh warga Thailand,” jelas Retraubun.

Menurut Retraubun dirinya mengetahui kejahatan perikanan ini lantaran dirinya pernah menjadi bagian dari pemerintah Susilo Bambang Yudholno saat itu. 

“Ini yang harus kita cermati. Apakah kita akan membiarkan masyarakat Maluku terus seperti ini? Saya bicara bukan berarti anti pemerintah, tidak. Tetapi ini realitas. Saya pernah menjadi bagian dari pemerintah, maka saya semakin pintar untuk mencermati, tingkah laku pemerintah. Karena saya pernah ada di dalamnya. Itu artinya, ada silent konstruksi dari pada kejahatan itu. Ini kita anak daerah Maluku sendiri, tidak tahu itu. Ini yang dimaksudkan kejahatan . Ikan adalah sumber daya nasional. Siapa lagi yang mau mengkritisi ini, selain kita anak daerah Maluku sendiri,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut Retraubun juga berbicara mengenai Lumbung Ikan Nasional (LIN). kata dia, untuk LIN, semua elemen baik stakeholders maupun pemuda di Maluku harus terus berjuang hingga LIN bisa tercapai. 

LIN, kata Retraubun, sejalan dengan visi misi Presiden Joko Widodo, yaitu menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. 

“Kalau poros maritim dunia, artinya apa? Industri tentang kelautan dan perikanan, ditingkatkan supaya kita bisa tembus pasar dunia dengan sektor itu. Jadi LIN harus jadi , supaya kalau di Surabaya tidak ada ikan, ambil di Maluku. Kalau tidak ada ikan  di Jakarta, ambil di Maluku, bukan lumbung ikan Maluku, lumbung ikan nasional. Jadi, ini kepentingan  nasional, bukan kepentingan eksklusif rakyat Maluku,” tutur Alex.

Dikatakan, kalau fokus pada bidang kelautan dan perikanan , dipastikan kemiskinan angkanya akan menurun. Orang yang miskin di Maluku akan berkurang. Kenapa? Kalau Blok Masela, itu spesifikasi skill nya sangat tinggi. Dibandingkan menyuruh orang menangkap ikan di Maluku yang sudah bertahun-tahun, sejak kita belum lahir yang sebetulnya, barang mainan biasa yang ada di Maluku. 

“Tetapi, kenapa tidak jadi biasa. Karena tidak didorong oleh kebijakan yang fokus. Ilmu kebijakan itu, berpedoman untuk orang bertindak. Untuk publik bertindak, itu harus ada kebijakan untuk kesejahteraan publik,” tuturnya.

Kebijakan itu lanjut Retraubun tidak bisa dibuat oleh GAMKI, kebijakan tidak bisa dibuat oleh LSM, yang berwewenang membuat kebijakan adalah pemerintah. Dan pemerintah juga ada hirarkinya, pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Kalau kebijakan nasional, itu berlaku dari Aceh sampai Papua. Tetapi kalau Maluku, gubernur membuat kebijakan berlaku untuk seluruh daerah di Maluku. Tetapi, tidak ada pembangunan di dunia ini yang diberlakukan tanpa kebijakan. 

“Karena, kebijakan adalah penuntun orang untuk bertindak, publik bertindak, mau pada sektor apa saja,” tegas Retraubun. (AAN)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top