LINTAS DAERAH

Kejati Diduga ‘Masuk Angin’ | Belum Ekspose Tersangka PLTMG Namlea

RAKYATMALUKU.COM – AMBON, – Tim Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku diduga telah ‘masuk angin’ dalam penyidikan kasus korupsi pengadaan lahan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) di Dusun Jiku Besar, Desa Namlea, Kabupaten Buru tahun 2016. Sebab, sampai saat ini belum juga dilakukan gelar perkara untuk ekspose tersangkanya.


Padahal, Tim Auditor Perwakilan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Maluku telah menyerahkan seluruh laporan penghitungan kerugian keuangan negara sebesar Rp 6.081.722.920 kepada Jaksa Penyidik sejak pertengahan Desember 2020 lalu.

“Dua alat bukti sebagai syarat untuk penetapan tersangka telah terpenuhi, diantaranya laporan audit kerugian negara. Lalu kenapa belum dilakukan ekspose tersangka. Kalau kerja seperti ini, maka publik akan menilai Kejati Maluku telah masuk angin,” cetus Praktisi Hukum Marnex Ferison Salmon, S.H, kepada koran ini di via seluler, Selasa, 12 Januari 2021.

Menurut Marnex, informasi yang diketahuinya bahwa seluruh rangkaian penyidikan dalam kasus PLTMG Namlea telah lama rampung. Sehingga, tidak ada lagi alasan bagi Jaksa Penyidik untuk mencoba memperhambat proses penetapan tersangkanya.

“Tidak ada alasan lagi untuk Kejaksaan menghambat kasus ini, apalagi lahan seluas 48.645,50 hektar yang dijual Fery Tanaya kepada pihak PT. PLN Wilayah Maluku-Maluku Utara telah mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 6.081.722.920,” desak Marnex.

“Olehnya itu, sebagai bentuk keseriusan Kejaksaan dalam pemberantasan tindak pidana korupsi di Maluku, maka pihak-pihak terkait harus segera ditetapkan sebagai tersangka,” tambahnya menegaskan.

Ia menjelaskan, desakan terhadap Korps Adhyaksa ini mengingat dalam penyidikan kasus sebelumya, Kejati Maluku telah kalah melawan Fery Tanaya dalam sidang Praperadilan terkait prosedur penetapan tersangka. Dimana Pengadilan Negeri (PN) Ambon akhirnya membebaskan Fery Tanaya dari status tersangka.

“Sebelumnya kan Jaksa Penyidik menetapkan Fery Tanaya dan Abdul Gafur Laitupa sebagai tersangka. Sekarang mereka sudah bebas karena penetapan tersangkanya tidak sesuai prosedur. Maka dengan penyidikan kedua ini yang disertai dengan alat bukti kuat, Kejati sudah harus menunjukkan komitmennya,” jelasnya.

Meski telah kalah dalam sidang Praperadilan, Marnex meminta kepada Kejati Maluku agar dalam prosedur penyelesaian perkara termasuk penyidikan dan penetapan tersangka nanti, harus dilakukan secara profesional, proporsional dan transparan.

“Langkah ini perlu diperhatikan dan dilakukan agar tidak ada penyalahgunaan wewenang dan lebih jauh tidak semata-mata bertendensi menjadikan seseorang menjadi tersangka,” pungkas pengacara muda ini.

Menanggapi tudingan tersebut, Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Maluku, Samy Sapulette, menyampaikan tidak ada yang masuk angin, dan meminta semua pihak agar dapat bersabar dan terus mengikuti perkembangan penanganan perkara pengadaan lahan PLTMG Namlea.

“Tidak ada yang masuk angin. Ikuti saja setiap perkembangan penanganan perkara ini, pasti akan kita sampaikan kepada rekan-rekan wartawan. Tidak ada yang ditutup-tutupi, pada saatnya akan dilakukan ekspose dalam waktu dekat ini,” terang Samy. (RIO)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top