HUKRIM

Kekayaan Heintje Toisuta Disita

RAKYATMALUKU.COM – AMBON — Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Maluku Rorogo Zega, berjanji akan segera menyita seluruh aset kekayaan milik Direktur Utama CV Harves, Heintje Abraham Toisuta, terpidana kasus Tipikor dan TPPU proyek pembelian lahan dan bangunan untuk pembangunan Kantor Bank Maluku-Maluku Utara (Malut) Cabang Surabaya tahun 2014.


Alasannya, terpidana Heintje yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) sejak keluarnya putusan Mahkamah Agung (MA) RI Nomor : 2282 K/Pid.Sus/2017 tertanggal 21 November 2017, itu belum juga mengembalikan uang pengganti sebagai kerugian keuangan negara sebesar Rp 7,2 miliar, dari total anggaran proyek senilai Rp 54 miliar.

“Nanti kita lihat apa saja yang sudah disita oleh Jaksa dari terpidana Heintje ditahap penyidikan. Kalau tidak cukup untuk membayar uang pengganti, kita akan berusaha mencari harta lainnya yang bisa disita untuk pengembalian kerugian keuangan negaranya,” tegas Zega, kepada wartawan, di Kantor Kejati Maluku, Kamis 17 September 2020.

Ia menjelaskan, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, Tim Eksekusi Kejaksaan Negeri (Kejari) Ambon telah menjebloskan terpidana Heintje ke Lapas Klas II A Ambon, sekitar pukul 08.30 Wit. Eksekusi dilakukan berdasarkan perintah MA RI dalam amar putusannya yang telah berkekuatan hukum tetap (inkrach).

“Dalam putusan MA, terpidana Heintje dijatuhi hukuman pidana penjara selama 12 tahun, denda Rp 1 miliar subsider delapan bulan ku­rungan, serta membayar uang pengganti sebesar Rp 7,2 miliar sub­sider empat tahun kurungan,” jelas mantan Kepala Kejaksaan Negeri Ambon itu.

Dalam kasus ini, kata Zega, selain terpidana Heintje juga terdapat dua terpidana lainnnya, yaitu mantan Direktur Utama (Dirut) PT. Bank Maluku-Malut Idris Rolobessy, serta mantan Kepala Devisi Renstra dan Korsec PT. Bank Maluku Petro Rudolf Tentua.

Untuk terpidana Idris, telah dilakukan eksekusi badan ke Lapas Klas II A Ambon sejak 9 Agustus 2017 lalu, dengan menjalani hukuman pidana penjara selama selama 10 tahun, denda Rp 500 juta subsider tujuh bulan kurungan, serta dibebankan membayar uang pengganti sebesar Rp 100 juta subsider enam bulan kurungan.

Sedangkan untuk terpidana Petro, lanjut Zega, hingga saat ini belum juga dilakukan eksekusi badan ke Lapas Klas II A Ambon. Sebab, pihaknya belum menerima salinan amar putusan kasasi dari MA RI melalui Pengadilan Negeri (PN) Ambon.

“Tapi kalau kita lihat di websait direktorat MA RI, putusannya sudah ada. Yakni, divonis enam tahun penjara, denda Rp 500 juta subsider delapan bulan kurungan, dan tidak dibebankan membayar uang pengganti. Lebih detailnya nanti kita tunggu saja salinan putusannya,” ungkap Zega. (RIO)


======================
--------------------

Berita Populer

To Top