NEWS UPDATE

Kelompok ‘PDI’ Dan ‘PDIP’ Perlu Perhatian Khusus

Beginilah suasana Jamaah Calon Haji (JCH) saat berada di hotel. Banyak hal bisa didiskusikan. Tampak Dadi Lie di tengah JCH sedang berdiskusi dengan rombongannya di Kloter 14 Maluku.

TIDAK mudah mengurusi jamaah calon haji (JCH), memang. Mengatur demikian banyak orang dengan beragam karakter, sikap, dan pola pikir yang berbeda, bukan perkara gampang. Tak cukup hanya dengan modal sabar. Tapi juga harus diikuti dengan sikap rendah hati, ikhlas, dan tulus. 

“Disuruh ngumpul di sini, eh tahu-tahunya mereka sudah hilang. Diajak ke sana, eh mereka bergeser duluan ke tempat lain. Saat dicari-cari eh ketemunya di tangga darurat hotel,” ujar Ketua Rombongan 6 Dadi Lie yang terbagung dalam kelompok terbang (Kloter) 14 asal Maluku embarkasi Makassar.

Rombongan yang dipimpin Dadi Lie ini memang beberapa diantaranya sudah masuk kategori lanjut usia (Lansia). Dari 12 rombongan yang berada di Kloter 14, sekitar 75 persen didominasi oleh para Manula (Manusia Lanjut Usia). 

Umumnya mereka berada di atas usia 60 tahun bahkan ada yang 102 tahun. Ada di antara mereka meski sudah berusia lanjut tapi masih memiliki daya tahan fisik yang kuat. Juga memiliki daya ingat yang masih baik. Tapi, tak sedikit ada di antara yang lain memiliki daya ingat yang berkurang karena dipengaruhi oleh faktor usia tadi. Bahkan ada yang pikun.

Dadi Lie mengaku pasrah dan menyerah. Tapi, karena ini sudah menyangkut perkara amal dan amanat sejak diberikan tanggungjawab di kampungnya ia mengaku tetap ikhlas menganyomi, melindungi, dan membimbing para jamaah calon haji di kelompoknya ini. “Sejak awal saya sudah diberi amanat oleh keluarga JCH jadi saya harus jalankan,” ujarnya.

Dadi Lie tak cukup hanya mengingatkan. Tapi, persoalan yang berkaitan dengan sikap disiplin baik saat antri di mobil, saat menaiki tangga lift selalu disampaikan melalui lisan. Tak sampai di situ. Ia juga bertindak secara langsung mengurusi dan membagi-bagi makanan. 

Bila waktu makan tiba ia mendatangi pengelola katering hotel kemudian menghitung jumlah JCH sesuai nama, kelompok, dan regu. Makanan kemasan dalam dos itu kemudian dihitung lalu dibagikan ke masing-masing ketua regu. 

Bila makanan terlambat tiba atau kebetulan nyasar di lantai hotel yang lain Dadi Lie menjadi sasaran “tembak” untuk diomeli. Dadi Lie kadang pasrah. Tapi itu tadi. Karena sudah ada fatsun dari keluarga jamaah calon haji di kampungnya ia tetap sabar dan tegar menjalaninya walau harus diomeli karena makanan terlambat tiba.

Saat menunggu makanan tiba, ia pun harus menyesuaikan waktu makan. Tak heran bila sebagian jamaah harus berebutan mengejar waktu salat arbain di Masjid Nabawi, Madinah, tidak demikian dengan Dadi Lei. Ia harus mengejar waktu agar makanan bisa tiba tepat waktu di kamar hotel. Setelah salat selesai ia bergegas ke hotel mengambil makanan untuk dibagikan ke ketua regu dan rombongan.

Di sini muncul banyak keluhan. Antara tugas, tangggung jawab dan amanat keluarga para jamaah di kampungnya yang “menitipkan” keluarganya ia juga harus melaksanakan kewajiban menjalankan rukun, wajib, dan sunat-sunat haji lainnya. “Rasanya saya mau menyerah saja,” katanya.

Walau diliputi kekesalan, Dadi Lie tetap menjalankan tanggung jawab itu dengan ikhlas dalam melindungi, menjaga, dan membina jamaah. 

Dia tetap berharap agar kedepan persoalan JCH yang masuk kategori Risti (risiko tinggi) harus pula ada penanganan khusus. Tidak cukup penyerahan tanggung jawab itu diserahkan ke JCH yang tergolong Risti dan Manula kepada petugas haji semata. 

Terhadap ketua rombongan, ketua kelompok, dan ketua regu seharusnya mereka juga dibekali ketrampilan khusus. Terutama ketrampilan menghadapi kelompok Risti dan Manula. Para petugas haji tidak sekadar ditunjuk kemudian dilepaskan begitu saja ke mereka.

Kalau sekadar mengangkat barang atau kopor no problem. Tapi kalau menandu atau menuntun ke masjid dan ziarah, tak mungkin dengan begitu banyak Manula hanya dikerjakan oleh seorang ketua rombongan dan ketua regu. “Kalau semua digantungkan ke kami, bagaimana dengan pelaksanaan ibadah haji saya,” kata Dadi Lie.

Pengakuan serupa juga diakui salah satu JCH asal Kota Tual bernama Thalib Henan Bin Hi.Mustafa Henan. Pria berusia 65 tahun dari Desa Dulah Laut, Kecamatan Dulah Utara, Kota Tual yang berada di Kloter 14, Rombongan 6, Regu 23 itu tak menampik sinyalemen Dadi Lie. 

Ketika dalam penerbangan Tual-Makassar, misalnya, ia sempat menyaksikan sendiri ada beberapa JCH asal kampungnya yang masuk kategori Risti kondisinya sangat memprihatinkan. 

Di atas pesawat Sriwijaya Air yang disewa Pemkot Tual untuk JCH Kota Tual saat penerbangan menuju Makassar ia melihat ada beberapa JCH yang tergolong Risti. 

Karena dipengaruhi faktor usia maka untuk membuka kemasan plastik kue saja yang bersangkutan tak bisa. Terpaksa dia harus membantunya. 

“Saya ini juga masuk kategori Lansia. Atau masuk kategori Manula. Tapi, di banding yang lain alhamdulillah oleh Allah SWT saya masih diberikan kekuatan fisik dan daya ingat. Tapi bagaimana dengan mereka yang kategori “PDI” dan “PDIP”?,” tanya Thalib Henan, pensiunan guru agama yang sudah 36 tahun mengabdi di Desa Dulah Laut, itu.

Suasana pun menjadi cair bila ada hal yang didiskusikan menyentuh rasa lucu. Seperti yang disoal oleh JCH atas nama Thalib Henan Bin Hi. Mustafa Henan soal “PDI” dan “PDIP”. Di sebelah kiri dai Ambon H.Maruf Mamulati terlibat diskusi hingga terkeke-keke.

Mengapa kok dihubungkan dengan “PDI” dan “PDIP”? Bukankah yang diceritakan ini adalah menyangkut haji? Menyangkut usia seorang jamaah calon haji? 

“Ini bukan soal politik. Ini soal istilah berkaitan dengan faktor usia seorang calon jamaah haji. Sebab, fakta yang kita jumpai tak sedikit faktor umur dan penurunan daya ingat dan pikun merupakan masalah krusial. Sebab di usia yang senja bisa menjadi penghalang sah tidaknya seseorang untuk berhaji jika rukun dan wajib haji tak ditunaikan dengan baik karena seluruh rangkaian haji erat kaitannya dengan pekerjaan fisik,” ujarnya.

Lalu yang dimaksud “PDI” dan “PDIP” itu apa? “Oh, “PDI” itu artinya penurunan daya ingat. Sedangkan “PDIP” adalah penurunan daya ingat dan pikun,” ujar Thalib Henan dengan logat khas Tual sembari terkekeh.

Suasana diskusi siang itu menjadi hidup sebab di sebelah sana juga didampingi salah seorang anggota Tim Pemantau Haji Daerah (TPHD) Provinsi Maluku Ustad H.Maruf Mamulati. Ustad “gaul” Kota Ambon yang selalu tampil dalam dakwahnya dengan selingan lagu-lagu khas pendukung sebagai seni untuk menghidupkan suasana juga dibuat terhek-hek atas persenofikasi istilah “PDI” dan “PDIP” yang disampaikan pensiunan guru agama dari Desa Dulah Laut, Tual, Thalib Henan, itu.

Mamulati berharap upaya Kementerian Agama RI yang telah mengambil sikap untuk mengutamakan dengan memberangkatkan para Manula berhaji itu merupakan langkah positif. 

Ia berharap melaluli pendekatan ini gairah para calon jamaah haji berusia muda untuk menunaikan ibadah haji menjadi lebih hidup. Pada waktunya, langkah untuk meminimalisir jumlah jamaah haji berusia lanjut akan berkurang. 

“Dan, otomatis akan ada fenomena menarik bahwa JCH Indonesia yang akan datang akan muncul generasi baru. Setidaknya akan didominasi oleh kaum muda,” ujarnya. (DIB)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top