HUKRIM

Kemendagri: Kebenaran Sepihak Menimbulkan Perpecahan

– Dari Dialog Interaktif Tentang Bahaya Radikal Dan Terorisme

DIREKTORAT Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementrian Dalam Negeri bekerjasama dengan Yayasan Payung Teduh menggelar dialog interaktif dengan topik “Bahaya Radikal dan Terorisme, Bagaimana Mencegahnya?”, yang berlangsung di lantai III, Kantor Klasis GPM Pulau Ambon, Kamis, 27 Juli 2017.

Pemateri dalam dialog tersebut, perwakilan Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri Rusli, Pendeta J. Manuhutu,.Sth selaku Sekertaris Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Provinsi Maluku, dan Akademisi dari IAIN Ambon, Dr. Saidin Ernas.

Dalam sambutannya, Rusli mengatakan, makna radikal pada dasarnya mempunyai arti yang baik, yakni, sebagai konsistensi umat untuk menjalankan ajaran agama. Namun menjadi salah jika sikap tersebut menimbulkan paham pembenaran sepihak dengan menafikkan yang lain, yang pada akhirnya memunculkan sikap intoleran dan membahayakan kehidupan beragama.

“Pembenaran sepihak sudah pasti akan berlawanan dengan pembenaran yang sudah disepakati bersama di Indonesia, yakni pembenaran Pancasila dan Undang- Undang Dasar (UUD). Jadi, hidup di negara Bhineka Tinggi Ika ini harus mengakui kebenaran semua golongan, bukan satu golongan atau sepihak saja. Sehingga, perpecahan antar umat tidak terjadi disekitar kita,” ucapnya

Semua pemuda, tambah Rusli, saat ini sudah harus mewaspadai paham radikal yang perlahan tumbuh dan berkembang di Indonesia karena sistem perekrutan yang digunakan oleh kelompok radikal ini sangat baik. Ditambah lagi oleh faktor maraknya situs yang dinilai menyebarkan paham radikal juga menjadi pengaruh besar dalam membentuk mindset generasi muda yang sedang aktif di media sosial.

“Kita (pemuda, red) sudah harus cerdas melihat gerakan-gerakan atau paham radikal disekitar kita. Sebab, doktrin yang digunakan kelompok ini sangat baik, sehingga kita terkadang tidak menyadarinya. Dan terutama generasi muda kita yang aktif di sosial media juga harus mewaspadai. Karena banyak situs yang menyebarkan paham radikal,” himbaunya.

Dijelaskan, dalam rangka penanganan masalah radikalisme yang menggunakan simbol-simbol keagamaan dengan mengacu pada regulasi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah.

“Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 ini disebutkan bahwa salah satu fungsi yang menjadi urusan pemerintah umum adalah pembinaan kerukunan antar suku dan intra suku, umat beragama, ras dan golongan lainnya guna mewujudkan stabilitas keagamaan lokal, regional dan nasional,” jelas Rusli.

Hal senada juga disampaikan Ketua Klasis GPM Pulau Ambon, Pendeta Ricko Rikumahu, saat memberikan sambutannya. Menurut Ricko, sejarah kehidupan berbangsa dan bernegara setidaknya telah memberi kita pelajaran berharga bahwa sekecil apapun paham dan kelompok yang namanya radikal, akan tetap menjadi ancaman dengan potensi kehancuran dan kerugian yang tidak kecil.

“Dan saat ini kita semua sebagai anak bangsa sedang dihadapkan pada realitas, bahwa potensi bencana keretakan bangsa disebabkan oleh paham radikal yang mewujud dalam tindakan terorisme, dan menjadi ancaman yang tidak dapat dianggap remeh. Sehingga, sejak dini perlu diwaspadai,” katanya.

Pertanyaan kritisnya, kata Ricko, kenapa ada orang dengan paham yang radikal ?. Diantara sebab berkembangnya paham radikalisme adalah sikap ketidakpedulian hidup masyarakat terhadap sesama.

“Memang kita hidup dalam era dimana individualisme semakin mengakar dan kuat. Namun pola hidup sosial kemasyarakatan kita yang saling peduli sudah kian bergeser. Dulu gotong royong menjadi falsafah hidup para pendahulu kita. Sekarang gotong royong, sabar dulu, sebab semua hal beres dengan uang,” pungkasnya.

Ia menjelaskan, cara menanggulagi masalah radikal dan terorisme bisa dengan berbagai cara. Diantaranya, kepedulian terhadap sesama akan membuka ruang untuk saling berkomunikasi.

“Dalam keterbukaan melalui ruang komunikasi maka akan terbangunlah setiap paham yang sesat untuk dapat diluruskan. Dengan begitu potensi yang mengarah pada paham radikal dapat terdeteksi sejak dini,” jelas Ricko.

Dikesempatan sama, Ketua Yayasan Payung Teduh, Pieter Katayane, mengungkapkan, beberapa waktu belakangan, aksi radikal dan teror telah menjadi tren berita internasional dan nasional. Bukan saja karena dampak yang dihasilkan dari kondisi ini, namun lebih pada apa yang menyebabkan kemunculan aksi radikal dan teror.

Aksi radikal dan teror, kata Pieter, muncul dilatarbelakangi berbagai motif, baik motif perjuangan untuk mempertahankan eksistensi diri (perjuangan gerakan separatis nasionalis, perjuangan kaum sosialis komunis, perjuangan keagamaan, kelompok anarkhis, gerakan konservatif), motif balas dendam atas penindasan atau kebijakan pemerintah/ negara yang asimetris (gerakan anti globalisasi, perjuangan lingkungan, diskriminasi ras/ rasis), termasuk motif ekonomi (penguasaan sumber daya alam strategis).

Menurut Pieter, langkah tepat untuk merespons aksi radikal dan teror adalah pencegahan yang terencana dan sistematis. Karena jumlah aksi radikal dan teror melibatkan dan diorganisir oleh orang-orang muda dan sangat terencana dan sistematis.

“Penelitian dan publikas BNPT tahun 2014 mencatat bahwa ada sekitar 80% dari 600 terduga teroris yang ditangkap adalah generasi muda yang berusia 18-30 tahun, yang karena ketidakstabilan psikologis, lemahnya pengertian agama, termasuk motif ekonomi menjadi sasaran empuk korban rekruitmen dan indoktrinasi konsep teroris yang salah kaprah,” ungkapnya.

“Lihat aksi pemboman Bali, Jimbaran, J.W Marriot, Mc Donald, Rits Carlton, BEJ, menjelaskan bahwa jaringan dan kelompok teroris semakin kuat dan terorganisir, imbuhnya.

Kondisi ini, lanjut Pieter, menyadarkan kita untuk merespons kondisi terkini dengan melakukan kerjasama dan mendorong gerakan-gerakan kontra naratif terhadap faham radikal, dengan menguatkan paham kebangsaan melalui beberapa metode, termasuk dialog disaat ini, dengan harapan akan memunculkan gerakan-gerakan positif pencegahan gerakan radikal dan aksi terorisme.

“Jadi, melalui dialog interaktif hari ini (kemarin, red), diharapakan dapat memberikan tekhnik pemahaman tentang bahaya radikal dan terorisme kepada mahasiswa dan masyarakat di Kota Ambon, penguatan faham kebangsaan kepada mahasiswa dan masyarakat untuk meningkatkan rasa cinta tanah air, dan menjalankan komitmen negara dalam mengentaskan tindakan radikalisme dan terorisme di Indonesia,” tutupnya.

Turut hadir dalam dialog tersebut, Lurah Kudamati, Lurah Wainitu, Imam Mesjid Waringin, Ketua RW 03 Waringin, Ketua RT 003 Waringin, Kepala Pemuda Waringin, Ketua-ketua OKP bersama potensinya, dan Ketua-ketua lembaga mahasiswa. (RIO)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top