NEWS UPDATE

Kepsek Dan Bendahara Minta Hukumannya Diringankan

– Korupsi Dana BOS SMA Negeri 2 Namlea

Rakyatmaluku.com – Dua terdakwa korupsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pada SMA Negeri 2 Namlea, Kabupaten Buru, tahun anggaran 2014 – 2015, Ramly Toto dan Samsu Rahman, memohon keringanan hukuman dari majelis hakim Pengadilan Tipikor Ambon, dan berjanji tidak akan mengulangi hal yang sama.

“Yang mulia, apabila dalam proses persidangan dari awal hingga pada penyampaian pembelaan secara lisan ini terdapat kata-kata atau perilaku saya yang tidak sesuai dengan aturan, saya minta maaf. Saya juga mohon keringanan hukuman,” ucap mantan Kepala SMA Negeri 2 Namlea Ramly Toto, saat men­yampaikan pembelaan lisannya, Jumat, 4 Mei 2018.

Hal senada juga disampaikan mantan Bendahara SMA Negeri 2 Namlea Samsu Rahman. “Yang Mulia, terhadap perkara ini, saya meminta agar hukuman saya tolong diringankan, karena saya memiliki tanggung jawab sebagai kepala keluarga untuk memberikan nafkah hidup kepada keluarga saya,” pinta terdakwa, yang juga menyampaikan pembelaan secara lisan dalam persidangan. Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejak­saan Negeri (Kejari) Namlea, Wenny Relmasira, me­nun­tut kedua terdakwa dengan pidana penjara selama dua tahun, denda Rp 50 juta subsider dua bulan kurungan.

Untuk uang pengganti, terdakwa Toto dibebankan membayar Rp 399 juta subsider satu tahun kurungan, sedangkan terdakwa Rahman dibebankan membayar Rp 102 juta subsider satu tahun kurungan.

JPU dalam dakwaanya menjelaskan, pada tahun 2014 SMA Negeri 2 Namlea mendapatkan alokasi dana BOS Nasional sebesar Rp 1,3 miliar, kemudian semester I tahun 2015 sebesar Rp 835, 2 juta. Sehingga total dana yang diperoleh Rp 2,1 miliar.

Kemudian sekolah tersebut mendapatkan kucuran dana BOS Daerah sebesar Rp 322,3 juta untuk tahun 2014, dan semester I tahun 2015 sebesar Rp 337,5 juta, sehingga totalnya sebesar Rp 659,8 juta untuk membiayai operasional sekolah.

Selanjutnya terdakwa Samsu Rahman mengajukan permintaan dana secara lisan kepada terdakwa Ramly Toto. Setelah dana dicairkan, kedua terdakwa tidak melakukan pencatatan terhadap penyerahan dan penerimaan dana tersebut. Terdakwa Samsu Rahman hanya melakukan pencatatan pada buku kas pengeluaran saja.

Mereka juga tidak memisahkan pencatatan untuk masing-masing sumber dana, sehingga tidak dapat diketahui jumlah dana BOSNAS dan dana BOSDA yang telah digunakan. Dana BOSNAS dan BOSDA tahun 2014 dan semester I tahun 2015 dikelola dan digunakan langsung oleh terdakwa Ramly Toto tanpa sepengetahuan terdakwa Samsu Rahman.

Ketika terdakwa Samsu Rahman membuat laporan per­tanggungjawaban berdasarkan bukti pengeluaran yang ada, ternyata berbeda dengan jumlah dana BOSNAS dan BOSDA yang telah diterima SMAN 2 Namlea. Sehingga terdakwa Ramly Toto memerintahkan Samsu Rahman untuk membuat laporan pertanggungjawaban yang nilainya sudah dimark-up dan membuat kuitansi dan nota fiktif. (RIO)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top