BERITA COVID-19

Kisah Relawan Pengubur Jenazah Covid-19

| Puas Walau Takut Tergelincir hingga Tertular

Corona Virus Desease (Covid-19) mudah tertular. Orang-orang yang bekerja di pusaran ini, sangat rentan. Tak terkecuali para relawan atau petugas pengubur korban Covid-19. Ada rasa puas demi kemanusian, tapi ada pula rasa takut tertular yang menghantui.

Catatan | Rosmina Tatisina
                 AMBON

MINGGU siang, 6 September 2020, Andi Papalia dan kawan-kawan terpaksa harus meninggalkan rutinitas mereka. Ada panggilan masuk ke telepon genggam. Mereka bergegas mulai mempersiapkan alat pelindung diri (APD) berupa masker, pelindung mata, pelindung wajah, gaun medis, sarung tangan medis, penutup kepala dan sepatu pelindung.


”Kemarin itu, kami dipanggil karena ada pasien Covid-19 yang meninggal di Rumah Sakit Bhayangkara Tantui setelah dirawat beberapa jam di sana. Saya dan kawan-kawan yang bertugas melakukan penyemprotan, membantu pemularasan hingga pemakaman di Hunuth,” kata Andi kepada koran ini, Senin, 7 September 2020.

Pemuda yang menamatkan kuliahnya di Jurusan Jurnalistik Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon ini mengaku terpanggil ikut menjalankan tugas ini karena jiwa kemanusiaannya.
”Kami anggap ini tanggungjawab yang besar. Selain demi kemanusiaan, juga demi pemutusan mata rantai Covid-19,” cetusnya.

Andi dan rekan-rekannya bergabung dalam relawan Covid yang merupakan bentuk partisipasi dari Palang Merah Indonesia (PMI) Maluku, bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ambon untuk penanganan Covid di daerah Maluku.

”Selama ini, semua relawan dibagi di beberapa tempat. Mulai dari Kompleks Pertanian (Waiheru), di Hotel Sumber Asia 2, juga di Hotel Everbright,” kisahnya.

Andi mengaku sudah begabung menjadi relawan sejak awal Corona Virus merambah wilayah ini. ”Sejak awal kami menyemprotkan disinfektan ke seluruh wilayah kota hingga daerah terpencil. Lalu kemudian ketika ada pasien yang meninggal, kami mendapat tugas melakukan pemakaman. Hal itu berjalan sampai saat ini,” tambahnya.

Pemuda Bau-bau yang sudah lama tinggal di Ambon ini menuturkan, awal melaksanakan tugas mengurus penyemprotan jenazah hingga pemakaman, ia merasa sangat kuatir. Kuatir kalau-kalau tertular virus berbahaya itu.

”Memang kita pakai masker, pelindung mata, pelindung wajah, penutup kepala, gaun medis sarung tangan medis, dan sepatu pelindung, tapi perasaan kuatir dan was-was tetap ada,” ujarnya.

Ia lalu mengisahkan suka dukua ketika mengurus pemakaman jenazah.

”Bagi saya ini tantangan, butuh adrenalin yang tinggi. Apalagi di musim hujan seperti saat ini, lokasi pemakaman sangat sulit dijangkau karena licin dan berlumpur. Sering sekali kami tergelincir. Bahkan ada yang jatuh. Tapi kami bangun lagi, tugas pemakaman harus dilakukan tuntas. Pengalaman demi pengalaman justeru jadi motivasi buat kami,” beber dia.
Memang, lokasi pemakaman khusus untuk jenazah pasien Covid-19 di Hunuth adalah areal bekas gusuran sehingga selalu bergelinang air hujan dan berlumpur.

Persoalan lain yang juga menjadi pengalaman tersendiri bagi Andi Papalia adalah ketika ada keluarga pasien yang tidak terima anggota keluarganya dinyatakan meninggal karena Covid-19.
”Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di Jalan Jenderal Sudirman. Mereka merampas jenazah dari kami. Ada juga yang terjadi di RSU, keluarga mengambil paksa ketika mau dilakukan pemularasan. Kami juga harus hati-hati jangan sampai menjadi korban pelampiasan mereka yang sedang emosi,” kata dia.

Lalu bagaimana dengan keluarganya? Ditanya begitu, Andi mengakui, ia sering pulang ke rumah.

”Sampai sekarang keluarga masih takut dekat dengan saya. Tapi saya tetap berusaha untuk menjelaskan bahwa ketika pulang, saya sudah benar-bernar melalui prosedur-prosedur kesehatan. Buktinya sampai saat ini, saya dan keluarga baik-baik saja dan dalam keadaan sehat walafiat,” ujarnya pula.

Andi meyakini Allah SWT meridhoi tugas mulia yang jalankan bersama teman-teman ini, sehingga asalkan patuh pada protokol kesehatan mereka semua akan tetap aman-aman saja.
Terlepas dari gaji yang diberikan Pemerintah Kota Ambon, Andi mengaku, ia dan teman-teman merasa adanya keterpanggilan jiwa untuk melaksanakan aksi kemanusiaan ini.

”Ini kerelaan saya sendiri. Tidak ada yang memaksa. Saya berharap dengan apa yang kami lakukan ini, Kota Ambon dan Maluku pada umumnya bisa cepat kembali ke situasi sebelumnya dan semua baik-baik saja,” ungkapnya berharap.

Selain Andi, Adit Abas Kaliamang yang juga tergabung dalam tim relawan Covid-19 ikut mengisahkan perannya sebagai penyemprot disinfektan di RT/RW di Kota Ambon.

”Kalau ada surat masuk untuk permintaan penyemprotan, kamilah yang beraksi. Katong kerja seperti cleaning service, jadi katong kasih bersih kemudian semprot dengan disinfektan, termasuk semprot ke pasien, dokter, penjaga, Satpol PP, Polisi dan juga Tentara. Ada juga yang bertugas membawakan makan pagi, siang, sore dan malam kepada pasien,” ungkapnya.

Adit juga mengaku sempat kuatir dirinya bisa terinfeksi. “Kadang kalo su sakit sadiki, su parno e. Ini Corona su dapat ini,” tutur Adit dengan dialeg Ambon.

Makanya, kata dia, ketika merasa kondisi tubuh mulai tidak stabil, Adit Abas dan teman-teman relawan langsung meminta suplemen vitamin C, atau memeriksakan diri ke dokter.
”Kami juga minta dirapid bahkan ada yang sampai diswab kepada pihak penanggungjawab,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan, selama sebulan bekerja di lokasi karantina, para relawan covid diberi waktu off selama dua pekan. Kemudian dalam dua pekan itu juga mereka akan menjalani hal-hal positif. ”Intinya kami juga menjadi penyemangat bagi para pasien. Kami ikut membangkitkan rasa percaya diri pasien bahwa mereka pasti sembuh dari penyakit ini,” kunci Adit Abas. (*)


======================
--------------------

Berita Populer

To Top