NEWS UPDATE

Komedi Pilkada (Catatan Dalam Debat Terbuka)

Achmad Dwi Setyo

Dalam alam pemikiran saya, debat terbuka di Pemi­lihan Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku 2018, akan memperlihatkan ide-ide potensial yang dimiliki oleh para kontestan. Setidaknya keseruan dan perang visi dan misi akan menjadi senjata pamungkas untuk memecahkan permasalahan yang terjadi saat ini. Namun, debat kali ini “jauh panggang dari api”. Masing masing kandidat hanya menjelaskan kulit luar dari visi misinya tanpa menjelaskan kulit dalam terkait program-program kerja yang akan dilakukan selama lima tahun kedepan.

Oleh: Achmad Dwi Setyo Prayudhi Linggo Djiwo, S.sos.,M.S
Antropolog Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Ambon / Presenter KOMPAS-TV dan Wakil Ketua Bidang Penggalangan Opini dan Publikasi DPD KNPI Prov. Maluku

Rakyatmaluku.com – JIKA dilihat dari kualitas ma­sing-masing calon di pilkada Maluku baik Ca­lon Gubernur dan Wakil Gu­bernur, sudah tentu berpe­ngalaman. Pasangan nomor satu dengan jargon SA (Said Assagaff dan Andre Rentanubun) merupakan pamong senior keduanya, me­niti karir ke-PNSsan dari bawah dan memegang jabatan-jabatan strategis dengan beragam inovasi. Pasangan nomor dua, Baileo (Murad Ismail dan Barnabas Orno).

Tak kalah dengan pasangan nomor satu, sang komandan ini pun berpiawai di dunia kepolisian, jabatan-jabatan strategis pun pernah berada dipundaknya salah satunya menjadi Kapolda di Provinsi Maluku. Sang calon Wakil Gubernur Barnabas Orno merupakan bupati pertama di Maluku Barat Daya (MBD), dan akan membawa MBD menjadi “Lebih Baik” selama satu periode. Pasangan terakhir Herman Koedubun dan Abdullah Vanath (HEBAT) juga menunjukkan kepiawian dalam seni memimpin. Mantaaap.

Meski ketiga pasangan calon ini “berpiawai” dan “khatam” dalam kepimpinan, setidaknya debat publik kemarin mementahkan seni kepimpinan ketiga pasangan calon. Visi dan misi yang sejatinya menjadi kerangka acuan dalam perdebatan dalam debat publik terbaikan.

Ketiga pasangan calon “mabuk” dan “terlena” dalam suasana debat.

Yang dimunculkan adalah arogansi kesuperioran dengan sistem “keroyok berjamaah”, sudah tentu korbannya adalah “petahana”.

Padahal ada yang lebih penting yang hilang dari arena debat, yakni keterwakilan aspirasi masyarakat, termasuk permasalahan-permasalahan yang bersifat patologis sosial. Karena titik fokus dalam debat adalah upaya meningkatkan pelayanan masyarakat untuk kesejahteraan masyarakat. Artinya, kerangka acuan tak harus kemiskinan yang menjadi permasalahan yang menjadi “arisan sesi”, karena masih banyak hal yang lebih penting contohnya kesehatan, pendidikan, kesejahteraan dan lain-lain kesemuanya bermuara pada sistem pelayanan yang baik. Bahan renungan, Badan Pusat Statistik menyebutkan bahwa angka kemiskinan di Maluku mencapai 18.45 persen pada Maret 2017 dari 19.36 persen tahun 2015, hal ini sungguh tidaklah wajar, mengingat Maluku mempunyai hasil perikanan, pertambangan (misalnya 25 Blok Migas, diantaranya Blok Masela, Blok Babar Selaru, Blok Pulau Moa Selatan, dan Blok Roma), Pariwisata yang sangat menjanjikan mendatangkan Sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Akan tetapi, pendapatan asli daerah mengalami kontraksi penurunan sebesar 52,55 persen(year of year)dengan nomimal realisasi anggaran tahun 2017 berkisar 43,63 milyar lebih rendah dibandingkan tahun 2016 sebesar 17,95 persen atau 91,96 milyar.

Pertumbuhan ekonomi Maluku mengalami penurunan yakni 5,3 – 5,5% dibandingkan triwulan I tahun 2017 (baca Bank Indonesia 2017). Angka pengangguran 2017 mengalami peningkatan dengan 59,745 orang dengan persentase 7,77 persen. Sementara tahun 2016 persentase pengangguran sebesar 6,98 persen. Total angkatan kerja secara keseluruhan 769,108 orang. Belum lagi masalah kesehatan, gizi buruk, penyakit menular seksual, HIV/AIDS yang mencapai 3.342 kasus.

Setidaknya berbagai permasalahan diatas lebih di kaji dalam arena debat dan memunculkan sebuah solusi yang membawa arah perubahan Maluku 5 tahun kedepan itu menjadi penting, program-program yang sudah tervisikan harus dijabarkan secara sistematis dan tersturktur, arena debat adalah arena adu “ketangkasan” dan “kecerdasan”. Sehingga the power of vision and mission harus clear. Bukan sebaliknya “membunuh karakter salah satu kandidat”. Untuk ambisi sesaat. Saling menyanggah hal yang lazim dalam sebuah perdebatan namun one man show harus dihindari.

Debat semalamseperti “komedi pilkada”, kita disuguhkan dengan komedi yang “tak menyehatkan”. para kandidat menyerang kandidat yang lain, dengan mencari-cari kelemahan yang diserang namun si penyerang khilaf dan alpha bahwa ia pun banyak kelemahan ketika menjadi memimpin. Capek dech !!!. sambil tepok jidat.

Komedi lain yang ditampilkan oleh kandidat nomor satu, dua dan tiga beraneka ragam. Kandidat Nomor satu membagi porsi sehingga tidak ada yang memonopoli dalam arena debat, lain pula kandidat nomor dua, sang komandan justru lebih pasif dibandingkan calon wakilnya,sang calon wakil berperang melawan manuver serangan dari kandidat lain, sementara sang komandan hanya duduk manis diperaduannya.

Pertanyaanya yang calon gubernur kosong dua atau kosong satu???? Ini berarti bahwa sang komandan tak paham apa jualan politiknya, padahal ia mengkritik sang petahana dengan “angka kemiskinan” padahal ia justru yang lebih miskin dalam “jualan politik”. Kandidat nomor tiga, seperti halnya dengan kandidat nomor satu pembagian kue materi terarah dan jelas, sehingga monopoli ala one man show dapat dihindarkan, kandidat nomor tiga menawarkan gratis pajak selama 3 tahun kepada calon investor agar berkenan menamakan sahamnya di Maluku. Are you OK, What do you mean Mr Vanath??

Bukan hanya kandidat yang saling menyerang dengan menggunakan “amunisi black campign” dan “politik identitas” namun para pendukung pun ikut terlarut dalam suasana, “etika dan norma politik” terabaikan. Para pendukung paslon pun menjatuhkan para kandidat tertentu dengan sejuta amunisi dan data data yang kurang “valid”. Membuat para undangan debat tertawa terbabak-bahak, para kandidat dan simpatisan menjadi bahan lelucon para tamu undangan. Ini komedi atau tragedi??.

Komedi ala pilkada tak hanya ditampilkan oleh simpatisan dan para kandidat, namun moderator juga menunjukkan kelucuannya, seolah –olah tak paham psikologis kandidat dan simpatisan, sang moderator yang terdiri dari laki laki dan perempuan tersebut tak mampu menanangkan massa pendukung pasangan calon, modertor kurang menunjukkan sifat “maskulinitas” dalam memimpin jalannya debat terbuka, muaranya “debat terbuka” ini berubah menjadi “debat pasar “. Proses ini secara tidak langsung mempengaruhi salah satu psikologis kandidat, kandidat bukan menenangkan tapi justru menjadi “kompor meleduk”.

Lain pula sesi komedi dari sang pengamanan, seolah olah debat ini akan ricuh dan berujung konflik, pengamanan super diperketat, saya merasakan ketakutan tersendiri ketika berada diluar arena gedung pengamanan yang tak biasanya terjadi, dalam hati saya bertanya, ini pilgub atau pilpres? Jika saya menghitung berdasarkan matematika jumlah personil kepolisian jauh lebih banyak dibandingkan jumlah penonton. Bagi saya pengamanan pada tahap debat terbuka putaran kesatu tak perlu melibatkan jumlah aparat kepolisian dengan porsi yang besar. Karena sesungguhnya masyarakat Maluku sudah cerdas dalam memilih pasangan yang mereka inginkan. So what the next comedian?we will waiting more?. (*)

 

 

 

======================
--------------------

Berita Populer

To Top