HUKRIM

Korban Trafficking Harus Dilindungi

RAKYATMALUKU.COM – AMBON,- Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Maluku, meminta kepada masyarakat agar melindungi para korban trafficking (perdagangan orang) via MiChat.


Meskipun telah melakukan perbuatan asusila, tapi WLL, WA dan FH ini, perlu dijaga dan mendapat pendampingan, sehingga mereka tidak kembali mengulanginya.

“Katong (kita) harus lakukan pendekatan. Misalnya begini, kasus seperti itu bukan fokus lagi untuk proses penegakkan hukum. Tetapi bagaimana katong bisa memulihkan orang untuk bisa keluar dari kasus begini, dan dia bisa semangat, percaya diri untuk dia tidak terjebak lagi,” kata pengurus P2TPA Maluku Cherly C. Patty Laisina, ketika dihubungi Rakyat Maluku melalui telepn genggam, Rabu, 2 September 2020.

Ia menilai, setiap kasus seperti ini, tidak bisa dilihat faktor ekonominya. Faktor ekonomi hanya sebagai pelengkap seseorang nekat melakukan hal-hal tak terpuji. Tapi yang paling rawan karena kesempatan itu. “Ini cuma situasi dan kondisi sehingga membuat orang mencari jalan keluar untuk melihat aspek yang memudahkan mereka melakukan hal-hal begitu,” ucapnya.

Menurutnya, keberhasilan P2TPA ketika mendampingi para korban asusila, bukan karena dilihat dari seberapa jumlah kasus yang mereka advokasi, tapi bagaimana korban sadar, dan tak akan kembali lakukan aktivitasnya seperti semula.

“Jadi kepercayaan dan kesadaran itu datang dari diri sendiri, bukan kita bikin korban sadar. Tapi ketika korban didampingi dan sadar sendiri itu baru hasil yang maksimal,” terangnya.

Tambah dia, proses hukum yang sedang berlangsung saat ini, hanya memberi efek jera kepada pelaku-pelaku. Karena itu, dia berharap agar para korban tidak lagi kembali melakukan perbuatan tersebut. “Fokus bagaimana memberdayakan korban, memulihkan korban sehingga korban bisa memutuskan bahwa dia tidak mau lagi terjebak di kasus-kasus serupa.

Sebelumnya, Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease berhasil membongkar sindikat prostitusi online via aplikasi MiChat. Mirisnya, rata-rata korbannya adalah anak di bawah umur. Pengungkapan kasus ini berawal dari penyelidikan yang dilakukan berdasarkan laporan masyarakat. (AAN)


======================
--------------------

Berita Populer

To Top