HUKRIM

Korupsi Dana BOS SMA Negeri 2 Namlea, Kepsek Dan Bendahara Divonis 1,6 Tahun Penjara

RakyatMaluku.com – Pengadilan Tipikor Ambon menjatuhkan hukuman pidana penjara kepada Kepala SMA Negeri 2 Namlea, Kabupaten Buru, Ramly Toto beserta bendaharanya Samsu Rahman, selama satu tahun enam bulan (1,6), dan membayar denda sebesar Rp 50 juta subsider satu bulan kurungan. Sebab, perbuatan kedua terdakwa itu terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pada sekolah setempat tahun anggaran 2014 – 2015.

“Menyatakan, perbuatan terdakwa Ramly Toto dan terdakwa Samsu Rahman terbukti secara bersama-sama melanggar Pasal 3 Jo Pasal 18 Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tipikor Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH Pidana,” ucap Ketua Majelis Hakim Jimmy Wally, didampingi dua hakim anggota, Felix R. Wiusan dan Benhard Panjaitan, saat membacakan amar putusannya, Rabu, 9 Mei 2018.

Terhadap putusan itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Wenny Relmasir maupun kedua terdakwa melalui Penasehat Hukumnya, Sunardionto dan Marchel J. Hehanussa, sama-sama menyatakan menerima putusan. Sehingga, Ketua Majelis Hakim Jimmy Wally langsung menetapkan kasus tersebut telah berkekuatan hukum tetap (Inkrach).

Hukuman yang dijatuhi mejelis hakim itu lebih ringan dari tuntutan JPU, yang sebelumnya meminta majelis hakim yang mengadili perkara ini agar menjatuhkan hukuman pidana penjara kepada kedua terdakwa selama dua tahun, denda Rp 50 juta subsider dua bulan kurungan.

Untuk uang pengganti, terdakwa Toto dibebankan membayar Rp 399 juta subsider satu tahun kurungan, sedangkan terdakwa Rahman dibebankan membayar Rp 102 juta subsider satu tahun kurungan.

JPU dalam dakwaanya menjelaskan, pada tahun 2014 SMA Negeri 2 Namlea mendapatkan alokasi dana BOS Nasional sebesar Rp 1,3 miliar, kemudian semester I tahun 2015 sebesar Rp 835, 2 juta. Sehingga total dana yang diperoleh Rp 2,1 miliar.

Kemudian sekolah tersebut mendapatkan kucuran dana BOS Daerah sebesar Rp 322,3 juta untuk tahun 2014, dan semester I tahun 2015 sebesar Rp 337,5 juta, sehingga totalnya sebesar Rp 659,8 juta untuk membiayai operasional sekolah.

Selanjutnya terdakwa Samsu Rahman mengajukan permintaan dana secara lisan kepada terdakwa Ramly Toto. Setelah dana dicairkan, kedua terdakwa tidak melakukan pencatatan terhadap penyerahan dan penerimaan dana tersebut. Terdakwa Samsu Rahman hanya melakukan pencatatan pada buku kas pengeluaran saja.

Mereka juga tidak memisahkan pencatatan untuk masing-masing sumber dana, sehingga tidak dapat diketahui jumlah dana BOSNAS dan dana BOSDA yang telah digunakan. Dana BOSNAS dan BOSDA tahun 2014 dan semester I tahun 2015 dikelola dan digunakan langsung oleh terdakwa Ramly Toto tanpa sepengetahuan terdakwa Samsu Rahman.

Ketika terdakwa Samsu Rahman membuat laporan pertanggungjawaban berdasarkan bukti pengeluaran yang ada, ternyata berbeda dengan jumlah dana BOSNAS dan BOSDA yang telah diterima SMAN 2 Namlea. Sehingga terdakwa Ramly Toto memerintahkan Samsu Rahman untuk membuat laporan pertanggungjawaban yang nilainya sudah dimark-up dan membuat kuitansi dan nota fiktif. (RIO)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top