HUKRIM

Korupsi, Mantan Kepala Cabang BRI Amahai Divonis 6 Tahun Penjara

RakyatMaluku.com – PENGADILAN Tipikor Ambon menja­tuhkan hukuman pidana penjara kepada mantan Kepala Cabang BRI Amahai, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), Jauhar Usemahu, selama enam tahun, denda Rp 500 juta subsider tiga bulan kurungan, dan dibebankan membayar uang pengganti sebesar Rp 1.422.000.000 subsider dua tahun kurungan.

Sebab, terdakwa Jauhar Usemahu terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dana operasional Bank BRI Unit Ama­hai tahun anggaran 2016-2017 sebesar Rp 1.422.000.000 dari total anggaran sebesar Rp 1,5 miliar.

“Menyatakan, perbuatan ter­dak­wa Jauhar Usemahu terbukti me­langgar Pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 Undang-Undang RI Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana dirubah dengan Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi,” ucap Ketua Majelis Hakim Jimmy Wally, didampingi dua hakim anggota, Hery Leliantono dan Bernad Panjaitan, saat membacakan amar putusannya di Pengadilan Tipikor Ambon, Rabu, 15 Agustus 2018.

Terhadap putusan tersebut, pihak Jaksa Pe­nuntut Umum (JPU) maupun pihak penasehat hukum terdakwa sama-sama menyatakan pikir-pikir. Sehingga Ketua Majelis Hakim Jimmy Wally, kemudian memberikan batas waktu selama tujuh hari kepada kedua pihak (JPU dan PH) untuk segera menyatakan sikap atas putusan pengadilan.

Hukuman yang dijatuhi majelis hakim itu lebih ringan dari tuntutan JPU, yang sebelumnya menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama delapan tahun enam bulan (8,6), denda Rp 500 juta subsider enam bulan kurungan, dan dibebankan membayar uang pengganti sebesar Rp 1.422.000.000 subsider empat tahun kurungan.

Seperti diketahui, dalam dakwaan JPU dijelas­kan bahwa terdakwa yang saat itu bertugas sebagai Kepala Cabang BRI Unit Amahai harusnya menitipkan kunci cadangan brankas ke Bank BRI Cabang Masohi. Namun kunci duplikat tersebut dipegang oleh terdakwa, sehingga terdakawa dengan leluasa mengambil uang di brankas, dimana besar uang yang diambil terdakwa bervariasi antara Rp 35 juta-Rp 40 juta di tahun 2016.

Pada pengambilan uang kedua dan ketiga, terdakwa sudah melebihi apa yang diminta oleh teller/kasir. Misalnya pada penarikan uang di kas induk sebesar Rp 20 juta, terdakwa mengambilnya lebih besar yakni Rp 30 juta. Namun tercacat dalam buku registrasi hanya Rp 20 juta.

Selain itu, terdakwa juga mengelabui petugas resident auditor dari BRI Cabang Masohi dengan cara terdakwa melakukan penarikan tanpa menyetor uang kepada telller dan melakukan pembukuan tambahan kas tanpa disertai uang tunai. Sehingga tim audit tidak menemukan adanya penyelewengan uang yang telah terdakwa lakukan.

Misalkan, uang pada kas induk Rp 500 juta dan tercacat pada registrasi uang. Namun terdakwa mengambil uang Rp 400 juta dan tidak tercacat dibuku registrasi.

Selanjutnya pada tahun 2017 terdakwa kemb­ali mengambil uang dari brankan Rp 370 juta dan disimpan didalam karton bekas. Jadi, total uang yang diambil terdakwa selama tahun 2016 – 2017 sebesar Rp 1,5 miliar, dan dipakai untuk kepentingan pribadi.

Dalam persidangan sebelumnya, terdakwa mengaku telah menggelapkan uang operasional Bank BRI Unit Amahai sebesar Rp 300 juta untuk berfora-foya bersama rekan-rekanya di tempat hiburan malam (Clubbing) selama beberapa hari di Surabaya. Selain untuk dugem, terdakwa juga mengaku bahwa sisa uang lainnya digunakan untuk pembangunan rumah serta mengembangkan bisnis pribadinya di Kota Masohi. (RIO)

--------------------

Berita Populer

To Top