NEWS UPDATE

Koruptor Bank Maluku Dieksekusi

RAKYATMALUKU.COM – AMBON,- Kejaksaan Negeri (Kejari) Kepulauan Aru melakukan eksekusi terhadap mantan Kepala PT Bank Maluku-Maluku Utara (Malut) Cabang Dobo, Aminadab Rahanra alias Ami ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Tual, pukul 14.00 WIT, Kamis, 15 Oktober 2020.


“Terpidana Ami dieksekusi berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA) RI Nomor : 1015K/PID.SUS/2020 tertanggal 27 April 2020,” kata Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku Samy Sapulette, kepada koran ini, di ruang kerjanya.

Ia menjelaskan, dalam amar putusan kasasi itu, terpidana Aminadab Rahanra alias Ami dijatuhi hukuman pidana penjara selama enam tahun, denda Rp 200 juta subsider enam bulan kurungan, serta dibebankan membayar uang pengganti sebesar Rp 3.110.548.000 subsider satu tahun kurungan.

Sebab, perbuatan terpidana Ami terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi pada Kantor PT Bank Maluku-Malut Cabang Dobo tahun 2011 sebesar Rp 3.110.548.000.

“Perbuatan terpidana Aminadab alias Ami terbukti melanggar Pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 Jo Pasal 55 ayat (1) KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP,” jelas Samy.

Dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU), diuraikan bahwa pada akhir tahun 2010, Elifas Leaua selaku bendahara Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Kepulauan Aru mencairkan cek senilai Rp 4 miiar lebih.

Dalam cek tersebut terdapat sisa APBD yang tidak diserap oleh Setda, sehingga akan disetor dalam kas daerah. Pada saat dilakukan penari­kan, uang tersebut tidak dapat diam­bil. Sehingga dititipkan pada PT Bank Maluku-Maluku Utara (Malut) Cabang Dobo.

Selanjutnya pada 20 April 2011, terpidana Aminadab Rahanra alias Ami selaku pimpinan kantor cabang meminta dana milik Setda disetorkan ke dua rekening pribadi atas nama Johosua Futnarubun se­besar Rp 500 juta, dan atas nama Petrosina R. Unawekla sebesar Rp 500 juta. Sementara sisa dana Rp 3 miliar didepositokan lagi atas nama Yusuf Kalaipupin.

Kemudian pada 5 Juli 2011, Elifas Leaua menyetor ke kas umum daerah dengan nomor rekening 0801036465 sebesar Rp 3,353 miliar yang meru­pakan penyetoran sisa APBD tahun anggaran 2010, dan uang sebesar Rp 72,3 juta lebih yang merupakan penyetoran sisa dana tidak terduga tahun 2010.

Lalu pada 6 Juli 2011, Elifas me­nyetor lagi sebesar Rp 656 juta lebih yang merupakan uang setoran sisa APBD tahun anggaran 2010. Pada saat Elifas melakukan pe­nyetoran ke kas umum daerah pada 5 Juli 2011, terpidana Ami tidak mena­rik uang Rp 500 juta yang dititipkan pada rekening Joshua Futnarubun, tetapi dibiarkan saja dan ditarik secara bertahap oleh terpidana un­tuk keperluan pribadi.

Penarikan secara bertahap oleh terpidana ini diketahui berdasarkan foto copy rekening sak­si Joshua Futnarubun yang dibe­rikan terpidana pada saat pemerik­saan. Selain itu, dana Rp 3 miliar milik Setda Aru yang dideposi­tokan ke rekening milik Jusuf Ka­laipupin juga tidak pernah diketahui oleh yang bersangkutan, dan bunga deposito dinikmati oleh terpidana.

Terdakwa juga pernah memberi­kan panjar kepada beberapa peng­usaha dan SKPD lingkup Pemkab Kepulauan Aru tanpa melalui me­kanisme dan SOP yang ada pada Bank Maluku-Maluku Utara. (*)


======================
--------------------

Berita Populer

To Top