NEWS UPDATE

Mahasiswa Unpatti Demo Lagi

RakyatMaluku.com – RATUSAN mahasiswa Universitas Patti­mura (Unpatti) Ambon kem­bali melakukan demo terkait pember­laku­kan Sumbangan Pendidikan In­ternal (SPI).

Aksi yang dilakukan mahasiswa ini untuk kedua kalinya setelah, Rabu, 15 Agustus 2018, juga melakukan aksi serupa menuntut pihak rektorat Unpatti untuk tidak memberatkan orang tua dengan SPI. Selain demo, mahasiswa juga memboikot gedung registrasi, dan membakar ban bekas sebagai bentuk kekecewaan mereka terhadap pihak rektorat Unpatti, Senin, 20 Agustus 2018.

Dalam orasi mereka, mahasiswa me­ngatakan Unpatti merupakan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) kate­gori Badan Layanan Umum (BLU), di pendanaannya berada di bawah Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi
(Kemenristekdikti) RI. Sehingga konsep Sum­ba­ngan Pembangunan Institusi (SPI) sebesar Rp 1-2 juta kepada mahasiswa baru, tidaklah tepat dite­rapkan.

“Konsep pembayaran SPI masih premature. Ini belum jelas. Makanya kami pertanyakan,” kata mahasiswa pendemo.
SPI yang diterapkan Unpatti Ambon salah kaprah. Menurut mahasiswa, SPI itu yakni Sumbangan Pengembangan Institusi. Unpatti Ambon, bisa menerapkan SPI jika sudah berdiri sendiri atau terlepas dari pendanaan Kemenristekdikti.

“SPI sebenarnya itu Sumbangan Pengembangan Institusi bukan Sumbangan Pendidikan Internal. Makanya yang di terapkan Unpatti ini sumbangan apa. Kalau PTN-BH sudah terlepas dari Kementrian makanya bisa berlakukan SPI tapi BLU masih cakup kementrian dan pendanannya masih di kementrian. Jadi tidak bisa diterapkan SPI,” tutur orator.

Sampai berita ini naik cetak, pihak Unpatti seperti Rektor Prof Dr Marthinus J.Saptenno, SH M.Hum maupun Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Yusuf Madubun yang hendak dikonfirmasi wartawan, tidak berada di tempat.

Sebelumnya, mahasiswa Universitas Pattimura (Unpatti), Rabu 15 Agustus 2018, menggelar aksi demo di depan Kantor Rektorat. Dalam aksinya para mahasiswa ini me­nuntut dicabutnya dugaan pungutan liar (pungli) yang dilakukan panitia penerimaan mahasiswa baru.Demo dimulai dari gedung registrasi ini sempat diwarnai aksi saling kejar. Pasalnya, salah satu mahasiswa di­pukul oknum satpam. Melihat te­man dipukul, ratusan mahasiswa langsung mengejar satpam tersebut.

Mendapat laporan aksi di kampus Hotumese, aparat kepolisian dari Polsek Teluk Ambon, yang dipimpin Kapolsek Ipda Julkisno Kaisupy, serta Patroli reaksi Cepat (PRC) Sa­tuan Sabhara Polres Pulau Ambon dan Pp Lease, turun ke lokasi dan menga­mankan jalannya aksi demo itu.

Para mahasiswa yang tergabung dalam aksi demo tersebut saat menyampaikan orasinya mengatakan Sumbangan Pendidikan Internal (SPI) yang dibuat Unpatti, sangat membebani mahasiswa baru yang sebagian besar tergolong tidak mampu.

Pengutan SPI dipatok pihak Unpatti, berkisar Rp1 juta-Rp5 juta per mahasiswa. Mereka menilai, SPI diterapkan Unpatti, sangat tidak wajar dengan kehidupan saat ini.

“Kami menolak SPI yang dibuat rektorat. Orang­tua dibebani dengan SPI sebesar Rp4-Rp5 juta perorang, ini kan tidak masuk akal. Kami berfikir ini bagian dari Pungli. Yang namanya sukarela, itu sesuai dengan kemampuan, bukan langsung dipatok begitu saja,” kata mahasiswa dihadapan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Yusuf Madubun.

Sementara Yusuf Madubun yang menemui maha­siswa, itu hendak berbicara, tapi para pendemo menolak. Yusuf Madubun diberi kesempatan bila aparat kepolisian di dalam kampus Unpatti dike­luarkan. Karena tak ingin Warek III mengklarifikasi dugaan pungli di Unpatti, Rektor Unpati Prof Dr Marthinus J.Saptenno, SH M.Hum langsung menemui para mahasiswa untuk menanggapi tuntutan mereka.

Dihadapan mahasiswa, Rektor yang menerima tuntutan sekaligus akan menjawab seluruhnya kepada semua mahasiswa Unpatti pada, Jumat, 17 Agustus 2018. (AAN)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
--------------------

Berita Populer

To Top