NEWS UPDATE

Majelis Taklim Namira Ambon, Berawal Dari Mimpi Bertemu Sang Guru

Peserta manasik haji tahun 2019 yang difasilitasi oleh Majelis Taklim Namira sedang melakukan simulasi ibadah haji.

SUDAH  banyak muncul majelis taklim di Kota Ambon. Namun majelis taklim yang khusus memberikan bimbingan tentang manasik haji masih tergolong langka. Salah satunya yang sudah tak asing adalah Majelis Taklim Namira Ambon.

Tahun 1995 menandai cikal bakal berdirinya Majelis Taklim Namira Ambon. Ide awal itu berdasarkan masukan dari beberapa teman Ustad H.Soleman Drahman, pendiri Majelis Taklim Namira, yang sama-sama baru saja kembali dari Tanah Suci.

Gagasan itu muncul di pelataran Masjid Raya Al-Fatah, Ambon. Dari pertemuan itu mereka ingin membentuk sebuah wadah bimbingan haji bagi para calon jamaah haji asal Ambon.

Beberapa teman ini kemudian mengusulkan kepada Ustad Soleman Drahman —yang kerab dipanggil Ustad Emang— ini untuk memfasilitasi hal itu.

Ide itu muncul begitu saja. Mengingat sepengetahuan teman-temannya bahwa persoalan yang sering dijumpai oleh para calon jamaah haji di Tanah Suci karena masih kurangnya pengetahuan ataupun pemahaman menyangkut tata cara saat pelaksanaan ibadah haji.

Termasuk bagaimana mengenal lokasi atau medan pada saat berada di Makkah dan Madinah. Pemahaman itu penting dipahami oleh setiap calon jamaah haji sejak keberangkatan hingga tiba di sana. Karena itu sejak awal mereka perlu dituntun dan diberi pengetahuan dan pelajaran agar setibanya di Tanah Suci mereka sudah punya gambaran.

Sebab tidak sedikit di antara calon jamaah haji yang belum bisa mengetahui bagaimana posisi saat Tawaf. Atau Saai. Atau melontar Jumrah: Aqabah, Ulla, dan Wusta. Atau bagaimana saat Tahalul (memotong rambut). Atau saat berangkat menuju Padang Arafah, Musdalifah, dan Mina.

Semua ini tentu membutuhkan bimbingan. Tentu pula membutuhkan kepedulian dari para calon jamaah haji agar pengetahuan mereka melalui bimbingan manasik haji bisa ikut membantu mereka.

Berangkat dari masukan teman-teman tersebut — bak gayung bersambut– Ustad Emang pun bersedia sebagai pembimbing dan menjadi pelopor manasik haji Majelis Taklim Namira.

Setelah ide itu terbentuk, maka tahun 1997 para calon jamaah haji asal Ambon pun diajak mengikuti bimbingan. Saat itu jumlah peminatnya belum banyak. Hanya dihitung dengan jari. “Saya pun berinisiatif menggunakan areal Masjid Raya Al-Fatah sebagai tempat manasik haji,” ujar Ustad Emang kepada RakyatMaluku.com, Minggu, 23 Juni 2019.

Ustad H.Soleman Drahman di tengah calon jamaah haji asal Ambon saat simulasi haji di Lapangan Samsat dan Islamic Center, Waihaong, Ambon, Minggu 23 Juni 2019.

Di pelataran Masjid Al-Fatah itulah Ustad Emang mempraktekkan tata cara berhaji. Selain mengajarkan soal rukun dan wajib haji, ia juga membuat praktek atau simulasi bagi calon jamaah haji untuk mengenal dari dekat posisi Kabah dan saat memulai Tawaf.

Juga mengenal bagaimana Saai. Yakni lari-lari kecil antara Bukit Safa dan Bukit Marwa. Juga saat melontar antara Aqabah, Ulla, Wusta. Termasuk tata cara menggunakan kain Ihram. Mengenali posisi menuju Padang Arafah, Musdalifah, dan tentu Mina.

“Bimbingan manasik haji itu penting. Sebab, tidak cukup selain dipelajari dengan jalan membaca buku saja. Kita harus melakukan praktek. Ini penting agar sewaktu mereka tiba di sana dan saat mereka mengerjakan rukun dan wajib haji mereka tidak keliru. Pemahaman inilah yang paling penting dibekali kepada setiap calon jamaah haji sejak mereka masih berada di Tanah Air,” ujarnya.

Sejak ide itu dimulai, dari tahun ke tahun semakin banyak calon jamaah haji Ambon mengikuti bimbingan yang diasuh Ustad Emang ini. Dari sebelumnya hanya beberapa calon jamaah haji yang bergabung maka untuk tahun ini 2019 berkembang menjadi 170 orang. “Setiap tahun angka ini tak berkurang. Bahkan tahun lalu mencapai angka 250 orang,” ujar Ustad Emang.

Berkembangnya majelis taklim yang dibina Ustad Emang ini ternyata menyita animo jamaah calon jamaah haji. Karena semakin bertambahnya jamaah muncul ide dari beberapa temannya untuk melembagakan majelis ini semacam Kantor Bimbingan Ibadah Haji (KBHI). Bahkan ada yang menginginkan menjadikannya sebagai yayasan.

“Ide itu saya tolak. Saya tak mau majelis taklim ini menjadi lahan bisnis. Sebab, saya sangat terkesan dengan pesan-pesan guru saya agar lembaga yang kami dirikan ini tidak berorientasi pada uang. Jadikan ini lahan pengabdian. Ingat, tidak semua calon jamaah haji itu tergolong orang mampu. Jadi, tak boleh ada pungutan dari mereka. Kalau ada yang membantu memberikan uang kembalikan uang itu untuk kepentingan majelis taklim,” ujarnya.

Siapa guru yang dimaksud Ustad Emang? “Beliau adalah Ustad H. Abdul Syukur Rahimi. Beliau berasal dari Kailolo tapi menetap di Makkah,” ujarnya.

Dalam suatu malam, Ustad Emang berkisah, ia bermimpi didatangi oleh sang guru tersebut di rumahnya. Di depan pintu rumahnya, sang guru ini berdiri dan berdialog dengan Ustad Emang.

“Dalam dialog itu, guru saya itu mengutip ayat Al-Quran surat Muhammad ayat 7 yang artinya: “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” Bahkan dari jalan yang tak disangka-sangka bantuan itu ternyata terus mengalir untuk majelis taklim kami ini,” ujar Ustad Emang.

Dari pesan sang guru itulah, ia berkeinginan kuat agar majelis taklim yang dibinanya tersebut terus dijaga dan dipelihara untuk kemaslahatan umat Islam dan para calon jamaah haji di Kota Ambon.

“Alhamdulillah, sejak gagasan pembentukan bimbingan manasik haji ini berdiri 22 tahun lalu hingga kini terus mendapat kepercayaan dari kaum muslim di Kota Ambon ini. Bahkan, tak sedikit yang memberikan bantuan buku-buku panduan manasik haji. Begitupun bantuan dana,” ujarnya.

Kini, di usianya 71 tahun, Ustad Emang terus melakukan kaderisasi agar estafet kepemimpinan beralih ke generasi muda untuk menjadi ketua majelis taklim. “Setelah saya tak lagi sebagai ketua, saya serahkan kepada sahabat saya H. Faisal Assagaff pegawai Dolog Ambon namun kini sudah pindah ke Ternate. Dilanjutkan oleh H.Amir Andalas (alm). Kemudian saat ini diketuai oleh H.Fauzan Chotib,” ujarnya.

Kini di bawah bimbingan Ustad Emang, Majelis Taklim Namira sudah memiliki banyak kader. “Saya berharap, kedepan ada generasi yang terus mengembangkan majelis taklim ini untuk kemaslahatan umat Islam terutama dalam pelayanan bimbingan haji dan umrah di Kota Ambon,” ujarnya.(DIB)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top