ADVETORIAL

Maluku Tengah Di Tangan Tuasikal Abua

H. Tuasikal Abua

-Hilangkan Image Dari “Kota Mati” Menjadi Kota Hijau

SEJAK pembentukan Kota Masohi sebagai ibukota Maluku Tengah tahun 1957 oleh Presiden Soekarno, Masohi saat itu belum sehebat sekarang. Kala itu Masohi diibaratkan hanyalah sebuah ibukota kecamatan padahal statusnya sudah ibukota kabupaten. Bahkan hingga beberapa tahun terakhir Kota Masohi masih sering “dicap” sebagai “kota mati”. 

Setelah pemekaran Provinsi Maluku menjadi dua provinsi yakni Maluku Utara tahun 1999 diikuti oleh pemekaran empat daerah otonom baru yang merupakan pecahan dari Kabupaten Maluku Tengah yakni Kabupaten Pulau Buru, Kabupaten Seram Bagian Barat, Kabupaten Seram Bagian Timur, dan Kabupaten Buru Selatan, Masohi yang adalah “kota tua” selain Ternate di Maluku Utara dan Tual di Maluku Tenggara stigma tersebut masih tetap melekat. 

Namun anggapan sebagai “kota mati” kini sudah mulai berubah. Image tersebut sudah tak terlihat lagi. Setidaknya setelah 25 tahun berlalu ada banyak perubahan. Upaya untuk menghilangkan image itu kini sudah mulai terjawab di tangan Bupati Maluku Tengah Tuasikal Abua, SH. 

“Sejak lebih lima setengah tahun kepemimpinan saya, kami terus melakukan pembenahan. Beberapa kawasan kami perbaiki. Kami ingin Masohi menjadi Kota Hijau,” ujar Bupati Tuasikal Abua, SH, saat menerima kunjungan Pemimpin Redaksi Rakyat Maluku Ahmad Ibrahim di ruang kerjanya Kantor Bupati Malteng, di Masoh, belum lama ini.

Di beberapa sudut Kota Masohi memang sudah terlihat beberapa icon. Beberapa ruang terbuka hijau seperti Pantai Ina Marina, reklamasi pantai Masohi, pelabuhan fery,  tugu selamat datang, dan Monumen Soekarno. Kantor bupati pun sudah sangat megah. Gedung-gedung pemerintahan seperti kantor dinas juga sudah tampak cantik. Beberapa gedung swasta seperti bank juga terlihat moderen seperti gedung Bank BRI, Bank Maluku, dan Masohi Plaza di Jalan H.Abdullah Soulissa. 

Jalanan juga demikian terlihat bersih. Di ruas-ruas jalan utama tampak pohon nan hijau. Penataan jalan raya yang lebar saat ini tentu tak lepas dari sejarah pembentukan Kota Masohi oleh Presiden Soekarno waktu itu. Soekarno rupanya sudah berpikir jauh kedepan untuk menjadikan Masohi sebagai kota yang maju di sebelah selatan Pulau Seram. 

Ini terlihat dari perencanaan tata ruang dan rancang bangun kota yang ditandai dengan pembangunan jalannya yang luas serta penataan bangunannya yang rapih. Jalan nan lebar serta penataan kota yang bagus membuat Kota Masohi tidak terkesan sumpek.

“Jadi, semangat gotong royong yang berarti Masohi yang menandai pembentukan kota ini yang diberikan oleh Presiden Soekarno waktu itu terus menjadi inspirasi kami. Bila saya ini hanya punya dua tangan tapi dengan dukungan dari semua komponen masyarakat di Maluku Tengah berarti banyak tangan yang bisa saling membantu untuk membangun Masohi. Tanpa keterlibatan dan dukungan, saya tentu tak bisa berbuat banyak,” ujarnya.

Sebelum pemekaran, Masohi adalah pusat ibukota kabupaten satu-satunya di Pulau Seram, Pulau Buru, dan Pulau-Pulau Lease. Masohi merupakan pusat administratif sehingga segala hal menyangkut perizinan harus melalui Masohi. 

Meski sebagai ibukota kabupaten, Masohi bukanlah pusat industri, pusat pendidikan atau perdagangan. Memiliki banyak kekayaan alam seperti perkebunan, industri perikanan dan kelautan, namun tidak langsung diekspor melalui pelabuhan Masohi. 

Semua diekspor langsung melalui pelabuhan rakyat atau melalui transportasi darat kemudian dibawa langsung ke Ambon, Makassar, atau Surabaya. Inilah yang menyebabkan perputaran ekonomi menjadi lambat dan kota pun menjadi tidak hidup. Padahal dengan menghidupkan Masohi sebagai sentra ekonomi dan perdagangan maka roda perekonomian menjadi lebih bergairah. Dan, Masohi pun tak lagi mendapat julukan “kota mati”.

Obsesi yang dibangun untuk menghilangkan persepsi itu memang tidak gampang. Tuasikal Abua terus meyakinkan kinerjanya dengan melakukan berbagai terobosan. Jika selama ini konsep pembangunan yang dicanangkan oleh bupati sebelumnya lebih banyak diarahkan dari desa ke kota maka kini di tangan Tuasikal Abua mencoba membalik konsep itu yakni dari kota ke desa.

“Ini tidak berarti bahwa desa kita abaikan. Sebab, sebelumnya konsep dasar pembangunan dari desa itu sudah diletakkan oleh para pendahulu. Nah, apa yang telah dilakukan oleh bupati-bupati sebelumnya itu tinggal kita perkuat. Adapun konsep pembangunan kota selain melakukan penataan tata ruang juga kami perkuat dengan pengembangan ruang terbuka hijau antara lain pembukaan sarana kuliner, penanaman pohon untuk penghijauan kota dll,” ujarnya.

Langkah ini dilakukan selain untuk menanamkan kepercayaan terhadap dunia luar juga dalam rangka membangun citra agar Kota Masohi bisa menjadi salah satu icon sekaligus menjadi proyek percontohan bagi pengembangan daerah baik dari sisi penataan kota, lingkungan, termasuk penataan sistem birokrasi pemerintahan. 

Masohi juga kelak bisa menjadi pusat kegiatan sosial keagamaan baik tingkat provinsi maupun nasional. “Beberapa event keagamaan kita arahkan diselenggarakan di Masohi. Kami mencoba melakukan proses pembauran biar mereka yang datang dari luar bisa menangkap suasana kebersamaan di Maluku Tengah,” ujarnya.

Dari sektor pembanguan juga kini terus dilakukan perbaikan. “Kami terus berusaha jika dulu Kabupaten Maluku Tengah masuk kategori disclaimer dalam hal penataan pengelolaan keuangan daerah namun alhamdulillah sudah dua tahun terakhir ini Maluku Tengah sudah masuk tahap Wajar Tanpa Pengecualian (WTP),” ujarnya.

Selain di bidang pengelolaan keuangan, Bupati Tuasikal Abua juga kini tengah mengembangkan penataan tata kota berupa penanaman Pohon Fukuboya sebuah pohon yang memiliki empat jenis warna pada bunganya. 

“Tahap pertama kami sedang menanam di pusat kota lebih 3000 pohon. Kalau nanti Anda datang lagi insyaAllah Kota Masohi sudah terlihat hijau karena ditutupi oleh Pohon Fukuboya yang rindang dengan empat jenis warna pada dahannya,” ujar bupati yang mantan notaris di Ambon, itu.

Bupati Tuasikal Abua telah berobsesi jika kelak pada akhir masa jabatannya nanti dia ingin menciptakan sebuah karya, sebuah kenangan bagi generasi yang akan datang yang akan ia tinggalkan pada Bumi Pamahununusa ini melalui proyek pengembangan Pohon Fukuboya ini Kota Masohi benar-benar akan menjadi Kota Hijau sebagaimana visi-misinya sebagai bupati.

“Saya berharap dengan melakukan terobosan tersebut bisa memberikan pesan yang baik terhadap siapapun yang datang di Maluku Tengah. Ada pesan positif yang bisa dibawa pulang oleh tamu atau pendatang sekembalinya mereka ke kampung halaman. Minimal mereka bisa bercerita banyak tentang keberhasilan pembangunan selama mereka berada di Kota Masohi. Itu yang ingin kami lakukan,” ujarnya.

Selain itu, salah satu gagasan besar yang ia lakukan adalah menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang arti sebuah kebersihan di lingkungan. Kebersihan Kota Masohi yang ada saat ini tak lepas dari visi-misi Bupati Tuasikal Abua. Membangun kesadaran menjadikan Kota Masohi menjadi kota bersih memang tidak mudah. Soalnya ini menyangkut perilaku dan kesadaran disiplin warga. 

“Memang bukan perkara gampang menyadarkan tentang pentingnya hidup bersih. Tapi, kami bersyukur saat ini Kota Masohi nyaris bersih tak ada sampah di pusat kota. Kami menganut moto: Bersih di Siang Hari, Terang di Malam Hari,” ujarnya.

Siapapun yang memimpin Maluku tentu tidak boleh melupakan pesan-pesan luhur para pendahulunya. Ibukota Kabupaten Maluku Tengah yang berada di selatan Pulau Seram, Provinsi Maluku, yang dulunya oleh Presiden Soekarno saat meresmikan sebagai ibukota yang diberi nama Masohi yang berarti gotong royong tentu memiliki arti paling dalam.

Bupati pertama yang dilantik Soekarno adalah H. Abdullah Soulissa berasal dari Negeri Lima, Leihitu. Untuk mengenang jasanya, jalan utama di Masohi diberi nama Jl.H.Abdullah Soulissa. Dan, untuk mengenang Soekarno kini telah dibangun sebuah monumen dan museum bernama Baileo Soekarno.

Kabupaten Maluku Tengah sebagaimana daerah lainnya di Maluku memiliki banyak kearifan lokal dalam hal kepemimpinan yang hingga kini masih tetap dipertahankan. Selain “masohi” dikenal sebagai sumber perekat juga ada identitas lokal lainnya yang memiliki semangat kekeluargaan antarkomunitas yang dikenal dengan nama “pela-gandong”.

Dengan semangat gotong royong tersebut maka tugas seorang pemimpin adalah mengayomi. Melalui semangat “masohi” dan “pela-gandong” itulah seorang pemimpin tak boleh mengabaikan tanggung jawab dan tidak boleh melupakan sumpah dan janjinya atas rakyat yang dipimpinnya.

Salah satu ungkapan kearifan lokal yang terkenal yang telah menjadi sumber perekat dalam semangat kegotongroyongan di Maluku Tengah yang tak boleh dilupakan sebagai pemimpin yakni:  

“Sei hale hatu, hatu hale sei. Sei risa sou, sou risa sei.” Artinya, “Siapa yang balik batu, batu akan balik menindisnya. Siapa yang melanggar janji atau mengingkari janji, maka janji akan balik melanggar dirinya.” 

Semoga Tuasikal Abua bisa menjadi pelopor sebagai pemimpin yang senantiasa mengandalkan Masohi sebagai sumber perekat dalam mengarungi Maluku Tengah ke arah yang lebih maju dan sejahtera.(DIB)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top