I Like MONDAY

Menanti Tahun Kerbau

AHMAD IBRAHIM | Komisaris Utama Hr. Rakyat Maluku

Tinggal tiga hari lagi kita akan meninggalkan tahun 2020. Tahun penuh persoalan menyusul wabah COVID-19 yang telah menewaskan lebih 1,2 juta orang dari 29,6 juta orang yang terinfeksi virus mematikan itu.

Untuk menghindari kekhawatiran sampai-sampai ada yang menyentil agar memasuki Februari 2021 menandai setahun menyebarnya virus corona di Tanah Air kita diajak agar jangan memberi kesempatan COVID-19 “berulang tahun”. “Jangan ucapkan panjang umur. Kalau diberi umur panjang, cilaka kita semua,” begitu gurauan warga.

Inilah tahun terberat dalam sejarah abad ini. Terpuruknya perekonomian, pendidikan, sosial diikuti oleh PHK dari hulu hingga hilir akibat COVID-19 membuat iklim kehidupan berubah total.

Tanpa kecuali konflik politik akibat kebijakan penanganan Protokol Kesehatan (Prokes) COVID-19 dari pusat hingga daerah yang tumpang tindih diikuti ketidakadilan penerapan di lapangan disusul korupsi dana bantuan sosial COVID-19 ikut menambah rumit persoalan hingga mewarnai resistensi politik antara negara dan masyarakat di Tanah Air.

Akankah memasuki Tahun Kerbau nanti situasi ini akan bergeser ke arah positif hingga iklim usaha, pendidikan, dan politik kekuasaan menjadi lebih baik? Kita semua tentu berharap demikian.

Namun, membaca prediksi ekonom Rizal Ramli rasanya kondisi tersebut tak ada yang berubah. Atau jauh dari kata berhasil.

Bahkan boleh dikata jauh lebih kritis bila dibandingkan dengan krisis moneter tahun 1998.

Salah satu faktor yang memicu krisis itu ditandai menurunnya produktifitas di semua sektor. “Di samping itu karena sulitnya transaksi uang tunai menjadi penyebabnya,” kata mantan Menko Perekonomian, itu.

Memasuki Tahun Kerbau yang tinggal tiga hari lagi kekhawatiran Rizal Ramli ini semoga menjadi sinyal bagi kita sebagai bangsa untuk tidak larut pada keadaan. Sebaliknya, kita harus lebih semangat dengan tetap mengedepankan Prokes COVID-19.

Selama tahun 2020 kita juga mencatat polemik seputar konflik di kalangan elite politik ikut menjadi salah satu penyebab menambah runyamnya persoalan.

Perbedaan pendapat seputar kebijakan di kalangam elite penguasa di periode kedua di bawah rezim Jokowi sering kali memicu sentimen antar kelompok. Hal ini juga telah ikut berperan melemahkan energi masyarakat yang kerab mengundang benturan.

Perbedaan pandangan tentang ideologi Pancasila, terorisme, radikalisme, khilafah, hingga intoleransi seolah telah menggiring opini masyarakat untuk tidak lagi kreatif karena telah memaksa energi dan pemikiran mereka terlibat ke dalam konflik kepentingan yang berlarut-larut hingga berujung ketegangan.

Ketegangan antara negara dan masyarakat itu bisa terbaca secara jelas sejak kedatangan Imam Besar FPI Habib Rizik Syihab dari Arab Saudi ke Indonesia 10 Nopember 2020 yang mengundang puluhan ribu orang datang ke Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, itu.

Dilanjutkan persoalan perkawinan anak Habib Rizik Syihab dan pertemuan/ceramah di Pondok Pesantren Megamendung, Bogor, hingga memaksa sang habib yang hingga kini harus mendekam dalam penjara di Polda Metro Jaya karena dituduh melanggar Prokes COVID-19 terkait larangan berkerumun hingga mengundang demo berjilid-jilid itu.

Ketidakadilan dan keberpihakan negara juga menjadi sorotan masyarakat karena aparat dinilai berpihak terkait tewasnya enam pengawal Habib Rizik di tangan aparat di KM-50 Kerawang, Jakarta, yang sampai sekarang belum jelas penanganannya.

Dan, yang terbaru kita juga mencatat polemik soal afirmasi aliran Syiah dan Ahmadiyah yang diwacanakan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dua hari setelah dia dilantik oleh Presiden Jokowi.

Pernyataan mana kemudian mendapat protes tajam dari berbagai kalangan tanpa kecuali MUI karena dianggap terlalu sensitif untuk mewacanakan soal kedua aliran tersebut.

Namun, belakangan gagasan itu kemudian diklarifikasi karena yang dimaksud lebih pada perlindungan hukum sebagaimana warga negara lainnya.

Akankah di Tahun Kerbau ini persoalan tersebut masih menghantui jagat politik Tanah Air? Entalah.

Yang jelas, Tahun Kerbau ini bisa menjadi momentum bagi semua pihak untuk tidak larut lebih dalam di tengah kondisi pandemik COVID-19 yang masih menghantui.

Kepada para pemangku amanah agar tidak tenggelam ke dalam wacana yang hanya menghabiskan energi, ketidakadilan politik dan hukum, yang dapat memicu sentimen antar kelompok dan agama di tengah kesusahan yang sedang dihadapi oleh bangsa ini.

Bagi mereka yang sebentar lagi akan berlaga di Pilkada/Pilwakot dan Pilgub tahun 2022 dan 2024, Tahun Kerbau ini juga menjadi momentum penting sekaligus starting point untuk menyosialisasikan dirinya.

Kepada mereka tentu harus lebih sensitif menjaga aura politiknya baik sikap dan ucapan dari kata-kata kasar. Karena itu, di Tahun Kerbau dalam mitologi Cina ini bisa menjadi perlambang bagi para kandidat untuk berkompetisi secara sehat.

Memasuki Tahun Kerbau yang tinggal tiga hari lagi ini semoga persoalan berat menyusul wabah COVID-19 yang telah menewaskan 1,2 juta orang dari 29,6 juta orang yang terinfeksi bisa segera berakhir.

Pun, soal iklim politik para penguasa yang kerab mengundang resistensi antara negara dan masyarakat juga segera kita sudahi agar bangsa ini bisa merangkak ke arah yang lebih baik, maju, dan sejahtera.

Selamat datang Tahun Kerbau.(*)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top