OPINI

Menjiwai Nilai Islam Di Dalam Pancasila

Oleh :  Arman Kalean, M.Pd, Akademisi, Fungsionaris DPD KNPI Maluku

MERENUNG kembali isi piadato lisan yang dicetak pertama kali sejak Tanggal 1 Juli 1947 tetang hari Larinya Pancasila yang disetujui dan diberi pengantar sendiri oleh ketua BPUPKI Dr K.R.T Radjiman, sangat perlu, setiap kali memperingati hari lahir Pancasila yang sudah resmi diperingati sebagai hari libur Nasional sejak ditetapkan tahun 2016 lalu. 

Kita akan dapati uraian panjang tentang pentingnya nilai ke-Tuhan-an sebagai salah satu beginsel (dasar) negara kita, yakni Pancasila.  Di situ Ir. Sukarno (Bung Karno) menyampaikan tentang keadaan sosiologi masyarakat Indonesia yang adalah masyarakat religius, kita dapat membaca Bung Karno begitu rinci dan terukur menggali keadaan batin masyarakat Indonesia yang kuat Sosio-Religiusnya, termasuk Bung Karno sendiri. 

Inilah realitas tentang Ketuhanan yang membudaya, dalam paparan pidato Bung Karno menyebutnya sebagai Ketuhanan Berkebudayaan, yang muncul sebagai entitas masyarakat Nusantara sejak zaman sebelum Islam masuk ke Nusantara. 

Jika Pancasila menggali ke-Tuhan-an di dalam masyarakat Nusantara, maka sudah sepatutnya kita dapat menggali nilai ke-Islam-an di dalam Pancasila. Berislam dengan Pancasila adalah ikhtiar menciptakan susunan masyarakat yang semata mengharapkan ridho Allah SWT. 

Itulah kunci terdalam dari keluhuran setiap Manusia Islam di Indonesia, Manusia yang lahir dari air sperma yang berasal dari saripati tanaman yang tumbuh di atas tanah Indonesia, yang setelah lahir dimandikan dengan air Indonesia, yang setelah besar dan paham kewajibannya sebelum sholat berwudhu dengan air Indonesia, lalu sujud meratakan jidat di atas Tanah Indonesia dan Insya Allah meninggal akan dimandikan jasadnya oleh air Indonesia, begitulah siklus kehidupan Manusia Islam Indonesia. Perjalanan dari Tanah Air Indonesia akan kembali pula ke Tanah Air Indonesia saat dikuburkan nanti.

Refleksi Terhadap Fakta

Pancasila disebutkan secara eksplisit pada tanggal 1 Juni 1945, meskipun tetap yang menyarankan nama tersebut belakangan diketahui adalah Mohamad Yamin juga. Dalam tim 9, Mohamad Yamin sendiri adalah kubu Nasionalis “Sekuler” bersama Ir, Sukarno, dll. Sementara Ki Bagus, KH Wahid Hasyim, dkk adalah Nasionalis Islam. Yang kemudian semuanya bersepakat dalam semangat persatuan untuk menuliskan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, Ki Bagus mengidekan itu dan KH Wahid Hasyim memberi pencerahan dikemudian hari secara apik dan bijaksana, seperti diulas oleh anakanya, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Bahkan kalimat sebelumnya yakni Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya adalah bukan datang dari golongan Nasionalis Islam, seperti dikisahkan oleh Abdul Kahar Muzakir (1965) saat ditanyai oleh Abdul Hadi WM (Republika, edisi 2 Juni 2016). 

Muzakir sendiri adalah anggota BPUPKI, yang ada di kubu Nasionalis Islam. Artinya, kubu Nasionalis “Sekuler” minus Mr. Alexander Andries Maramis, di antara Sukarno, Hatta, Ahmad Subardjo, dan Moh Yamin yang mengusulkan 7 kata itu yang menandakan bahwa girah ke-Islam-an itu tetap ada, meskipun mereka di kubu “Sekuler”. 

Abdul Hadi menyayangkan hal inilah yang kadang dilupakan oleh orang. Menurut saya, belakangan orang sering salah membuat flayer yang memisahkan kubu “Sekuler” dengan konsistensi ke-islam-an mereka, bukankah Moh Yamin adalah anggota Partindo sejak dicetuskan hingga bubar dan mendirikan Gerindo, bukankah Moh Yamin juga yang menamakan Piagam Jakarta. 

Bahkan Pancasila 1 Juni itu pun nama yang diusulkan oleh Moh Yamin, lebih jauh lagi Moh Yamin berkeinginan untuk penyatukan Timor Portugis (sekarang Timor Leste) ke dalam Republik Indonesia. 

Sehingga penting kepada generasi muda untuk belajar sejarah dengan baik dan bijaksana, ali-alih ingin memberi jarak saat mengartikan kembali antara Bung Karno dan Moh Yamin, antara kubu Nasionalis “Sekuler” dengan Nasionalis Islam, justeru memberi kecurigaan bagi kita kepada mereka segelintir orang Islam yang belakangan terus membahasakan Pancasila seolah belum selesai. 

Lantas apakah motif atau niat yang mendasari sebagian saudara-saudara kita sekarang ini? Kegelisahan saya itu karena saya yakin bahwa mereka juga pasti kenyang literatur, mereka juga Islam di Indonesia, mereka juga Politisi di Indonesia, dan juga Aktivis Sosial di Indonesia.  Sementara para Founding Fathers kita sendiri, sudah selesai dengan dialektika Islam dan Kebangsaan saat melahirkan Pancasila.  

Padahal harusnya kita semua dapat bercermin dari Liem Koen Hian, keturunan Tionghoa yang juga hadir pada pidato kelahiran Pancasila. Kita dapat belajar dari Rokus Bernadus Visser atau yang lebih dikenal dengan Muhammad Idjon Djanbi, orang Belanda yang juga tokoh penting dalam proses berdirinya Resimen Pasukan Khusus Komando Angkatan Darat (RPKAD), selanjutnya disebut Komando Pasukan Khusus (KOPASUS). 

Dan belajar dari berbagai cerita menarik tentang-tentang Orang-orang Tua dengan berbagai latar belakang, kemudian setuju menjadi satu Bangsa, menggunakan suatu Bahasa, dalam suatu Tanah Air Indonesia. 

Tujuannya agar tidak gampangan bermain dengan wacana referendum, seperti oknum politisi asal Aceh yang pemberitaannya masih ramai di media, serta lawakan yang tidak lucu oleh beberepa oknum yang menamakan diri Kesatuan Mahasiswa dan Pemuda Maluku lalu menyebar flayer jumpa pers referendum. Lebih baik bersatu menuju kemashlahatan, ketimbang berpisah dengan kemungkinan mudharat.

Geneologi Pengetahuan Islam di dalam Pancasila

Bukan sebuah upaya untuk Islamisasi Pancasila, sebab Pancasila itu sudah termuati spirit Islam, meskipun berada dalam ruang kebudayaan. Ini sejalan dengan ungkapan “Adat bersendi Syara, Syara bersendi Kitabullah”, atau dalam rujukan Hukum Islam kita kenal dengan al-Urf (Adat Istiadat), “Kebiasaan masyarakat yang baik dapat dijadikan sumber hukum”. 

Penggalian ke-Tuhan-an dalam spirit Islam Bung Karno, itu memang sudah sejak lama mengakar dalam pemerintahan kerajaan Islam di berbagai daerah Nusantara. Misalnya Moloko Kieraha dengan ungkapan di atas tersebut, barangkali relasi geneologi pengetahuan inilah yang akhirnya dapat menyatukan Papua Barat ke dalam NKRI melalui pertemuan semangat kebangsaan dan keislaman yang sama bersama Sultan Tidore ke- almarhum Sultan Zainal Abidin Syah (Allah yarham) yang juga sebagai Gubernur Pertama Irian Barat.

Spirit yang bukan hanya mewarna dalam satu akronim IRIAN yang berarti Ikut Republik Indonesia Anti Netherlands, tetapi juga Irian berasal dari etimologi Arab “Uuryan” (berarti Negeri orang telanjang), mengingat penduduk setempat yang menggunakan koteka. 

Kata itu diyakini berasal dari pujangga pengembara Islam Ibnu Batuta yang mendarat di Nuu Waar (sebutan lain untuk Papua), yang mulai pelayaran ke Nusantara sekitar sekitar tahun 1345 M. Sebelumnya, seperti penjelasan Sultan Husain Syah (Sultan Tidore saat ini), Papua sendiri berarti tempat yang jauh, berasal dari padanan kata lokal yakni “Papo Uo”.

Relasi geneologi pengetahuan yang mengakar jauh dalam zaman pembangunan inilah yang dibedah Nurcholis Madjid dalam bukunya yang diberi judul Islam Agama Peradaban, dimana al-Urf selama itu baik maka secara yurisprudensi dapat dijadikan sumber hukum.

Psikosimetri Semiotika Islam Mewarnai Penggalinya

Bung Karno hanya sebagai penggali, demikian diucapkannya. Tentu sebagai penggali, sisi setting historical personalnya mewarnai apa yang digalinya tersebut sebagai suatu tampilan psikosimetri. Semiotika KeIslaman Bung Karno dapat digali dalam keputusan seragam PNI. 

Gagasan Islam Berkemajuan termanifestasi dalam pilihan Bung Karno untuk menggunakan stelan perlente (Jas, Celana, dan Sepatu). Suatu kehendak yang beliau pertahankan sejak lama saat hendak menikah dengan Utari (Isteri Pertama) yang juga anak dari HOS Tjokro Aminoto, penulis buku Sosialisme dan Islam. 

Sementara pilihan penutup kepala adalah Peci, melambangkan simbol Tukang Becak. Ramadhan K.H menuliskannya dengan baik dalam novel sejarah berjudul Kuantar Ke Gerbang, mengangkat kisah cinta Ibu Inggit Garnasih (Isteri Kedua) dan Bung Karno. Seperti di Ambon dimana dalam beberapa waktu sebelum konflik sosial banyak sekali pengayuh Becak banyak dari suku Buton, mungkin sekarang pun masih. 

Jakarta waktu itu banyak Abang Becak asal Melayu yang dikenal dengan ciri memakai Peci dan berselempang kain sarung, kita tahu bahwa entitas Melayu memang mempunyai akar Tasawuf yang panjang. Pada akhirnya Sarung dan Peci mendapat legitimasi simbolik tersendiri dari kalangan Islam Tradisional.

Sehingga tepatnya yang dipaparkan Ustad Adi Hidayat (salah satu ustad populer Muhammadiyah) dalam suatu kesempatan ceramahnya, agar kita bijaksana dalam melihat bangunan relasi pendiri NU dan Muhammadiyah yang berguru pada satu guru, yakni KH Shaleh Darat (Muhammad Shaleh). Bukankah Ahmad Dahlan (Muhammad Darwis) dan Hasyim Asyari menggunakan gelar Kiayi Haji di depannya? Kiayi yang berakar pada dua kata, yaitu “Yai” (luas/besar) dan “Ki”(seorang Laki-laki yang dihormati).

Dengan begitu, NU dan Muhammadiyah adalah dua bentang sayap yang menjadikan “Dakwah bil al-Hal” (dakwah perilaku) Bung Karno makin terlihat. Kalau kita bedah semakin ke dalam, maka relasi itu bertemu pada satu jalan pencarian, satu metode untuk menguak kedalaman aspek esoteris (kesucian batiniyah), satu penjiwaan Islam yang tidak melihat aspek eksoteris (kesucian lahiriyah) semata, yang kemudian menjadi suatu pendekatan masuknya Islam di Nusantara, yakni Tarekat (Sufisme). 

Saya yakin, baik di Muhammadiyah ataupun di NU, jalan spiritual Sufisme masih dilakoni oleh warganya. Bedanya, NU eskplisit dengan Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN), sementara Muhammadiyah lebih personal pada kader-kadernya. 

Sedikit banyak dari pencarian penulis, warna Naqsyabandiyah turut dalam pemikiran Bung Haji (Buya Hamka), dan juga Bung Karno. Saya amat yakin, Sufisme akan terus hidup sebagai perekat spiritual yang paling domestik dalam setiap hati para pengikutnya di dua ormas terbesar di Indonesia ini.

Muatan Tarekat ini pula yang diyakni oleh sebagian Muhibbin (pencinta Habaib) tentang warna bendera Merah Putih oleh pertimbangan Habib Kwitang (Pejuang Dakwah di Betawi), dua warna yang juga cukup mengakar dalam kronik Islam Tanah Hitu di pulau Ambon. Mata rantai konsep tarekat yang melengkapkan Republik Indonesia, benarlah seperti yang dicontohkn Bung Karno dalam “Tjamkan Pantjasila”, setelah Sriwijaya, Majapahit, maka Nusantara saat ini adalah Indonesia. 

Merah Putih, yang dijiwai oleh beberapa Habib dan Kiayi saat mendengar arahan Habib Kwitang selepas mengetahui pengibaran sang saka merah putih, termasuk Habib Salim bin Jindan (Kakek Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan, yang pernah ceramah pada peringatan Maulid di Istana Negara Tahun 2017). 

Beberapa sumber mengisahkan bahwa Habib Salim bin Jindan merespon hari kemerdekaan dengan memakai jubah putih dan imamah merah, meskipun dengan konsekuensi akan ditangkap Jepang. Dan memang mereka ditindak oleh Jepang, bahkan Habib Kwitang sendiri diceritakan kepala beliau dihantam dengan popor senjata. Tapi semua itu tak mengurangi cita-cita persatuan kebangsaan, semuanya lebur dalam spirit Jihad Sosial sama.

Semangat yang sama pula saat pekik perjuangan (merdeka) dan takbir (Allahuakbar) oleh Bung Tomo di Surabaya. Di sana jelas Bung Tomo menyebut pula Pemuda yang juga berasal dari Pemuda Maluku, Pemuda Bali, Pemuda Tapanuli yang mayoritas di daerah asalnya memang bukan Islam, tapi mereka semua sudah melebur di dalam dadanya nilai akan persatuan mempertahankan kemerdekaan, bahkan siap menjadi Martir Sosial sekalipun asalkan merdeka selama-lamanya. Merdeka atau mati, sebagaimana makna Persatuan di dalam Pancasila.

Semua runut peristiwa sejarah seputar Pancasila hingga Proklamasi adalah semata mengharapkan ridho Allah SWT. Sebagai umat Islam di Indonesia, harusnya kita tanamkan benar-benar dalam hati, untuk bersatu dan membangun Indonesia mewujudkan masyarakat Adil dan Makmur. 

Sebagaimana amanat Presiden Sukarno saat rapat Samudera di Bukit Tinggi yang bertepatan dengan peringatan Isra’ Mi’raj tanggal 5 Juni 1948 tentang 5 persatuan yang harus dimiliki untuk mendapatkan syarat pemerintahan yang tepat, yakni: 1. National Bewust (kesadaran persatuan Nasional); 2. Staat Bewust (kesadaran persatuan Negara); 3. Regeering Bewust (kesadaran persatuan pemerintahan); 4. Leger Bewust (kesadaran persatuan TNI); dan 5. Social Bewust (kesadaran bergotong-royong).

Bung Karno menjelaskan 5 Persatuan tersebut sebagai 5 dasar Persatuan Cita-cita, Persatuan Bangsa, Persatuan Tenaga, Persatuan Hati, dam Persatuan Percaya. Mengenai Persatuan Percaya, berikut penjelasan Bung Karno:

“Persatuan Percaya, percaya kepada Illahi, takdir Allah SWT. Dasar negara kita terutama ialah Ketuhanan Yang Maha Esa. 

Carilah perbuatan yang suci, kerjakanlah perbuatan yang suci, kalau tidak suci tidak diridhai oleh Allah SWT. Tidak ada sesuatu yang kekal di dunia ini jika tidak diridhai oleh Allah SWT. Saudara pemuda-pemudi tidak dapat ada di sini, kalau tidak dengan ridho Allah SWT. Saudara-saudara kaum Tani dan Buruh tak dapat ada di dunia ini, tak dapat hidup, kalau tidak diridhai Allah SWT. 

Negara Indonesia tidak dapat dapat ada, jikalau tidak diridhai oleh Allah SWT. Maka oleh karena itu saya minta kepada segenap orang, segenap warga negara, segenap orang bangsa Indonesia, tetaplah cari keridhahan Allah SWT ini. Jalankan amal yang suci, pikiran yang suci. 

Merdeka karena Allah. Mencari kesejahteraan karena Allah. Bersatu karena Allah. Berjuang karena Allah. Menangis karena Allah. Ketawa karena Allah. Tidur karena Allah. Makan karena Allah. Minum karena Allah. Segala-gala harus kita jalankan karena Allah. Mencari ridho Allah SWT. Percaya kepada Allah SWT itu baik yang beragama Islam, maupun Nasrani maupun yang beragama apapun (Penulis, masing-masing memiliki kepercayaan kepada Tuhannya). 

Marilah kita hidup dalam satu negara yang berkedaulatan rakyat dan berdiri di atas kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ini Semuanya mencari ridho Allah SWT itu.”

Akhirnya, tinggal beberapa hari lagi kita merayakan lebaran Idul Fitri, tepat tanggal 5 Juni 2019. Melihat lintasan momentum sejarah yang saling berkelindan, izinkan saya sebagai Orang Islam Maluku, sebagai pengikut Sufisme di Jaziratul Mulk (Negeri Raja-raja) ini menyebutkan kembali tanggal-tanggal yang menyilang waktu antara Tahun Syamsiyah (Masehi) dan Tahun Qomariyah (Hijriyah) itu, dengan harapan semakin bertambah tebal ke-Islam-an kita dalam berbangsa dan bernegara. 

1 Juni 1945 Pancasila disebutkan secara eksplisit, 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 hari puasa di bulan Ramadhan 1945, dan setelah kita berlebaran nanti akan mengucapkan “Minal Aidin wal Faidzin” kemudian menggelar resepsi “Halal bi Halal” yang kesemuanya itu tidak terlepas dari ide-ide Bung Karno dengan pertimbangan tokoh-tokoh Islam saat itu (KH. Abdul Wahab Hasbullah), maka besoknya tanggal 6 Juni kita ingat kembali tanggal kelahiran Bung Karno. Mari kita kirimkan surat pembuka Al-Qur’an kepada para Pahlawan Islam kita, Al-Fatihah. (***)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top