NEWS UPDATE

Munajat Kemenangan

Oleh : Sudarmo, SP, MSi, Anggota Fraksi PKS DPRD Maluku

Bulan Ramadhan memang bulan istimewa. Allah menjadikannya sebagai salah satu fase kehidupan yang paling berharga. Bulan Ramadhan juga menjadi salah satu stasiun perjalanan di atas jalan hidup yang lurus. Pada bulan ini, muslimin mencurahkan sebagian besar perhatiannya kepada Allah SWT, akhirat dan peningkatan ruhani. Karena itu, bulan ini merupakan bulan ruhani, bulan kebersihan jiwa serta bulan munajat untuk memohon pertolongan dari Yang Maha Penolong.

Ada sesuatu hikmah besar di sisiNya, saat rangkaian ayat-ayat tentang kewajiban puasa, dirangkai dengan ayat tentang turunnya Al Qur’an. Bahkan ada pemancing perhatian yang indah dan kenikmatan yang dahsyat, yakni dihubungkannya ayat 185 surat Al Baqarah dengan ayat 186 “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdo’a kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintahKu dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al Baqarah : 186).

Ayat mulia tersebut tersurat di sela-sela hukum-hukum puasa. Hakikat agung yang terkandung di dalamnya adalah bahwa Allah SWT mendorong para mukminin untuk bermunajat dan memohon kepadaNya pada saat jiwa dalam keadaan paling dekat kepada RabbNya. Dalam tafsirnya, Sayid Qutb, menguraikan bahwa puasa merupakan arena penegakan kemauan yang kuat dan pasti, serta medan hubungan manusia dengan Allah SWT dalam hubugan ketaatan dan kepatuhan. Puasa juga merupakan arena supremasi terhadap seluruh kebutuhan jasad, serta kegigihan menghadapi tekanan dan desakannya, demi mengutamakan ridlo dan kesenangan di sisi Allah SWT.  Sedangkan dirangkaikanya ayat bahwa Allah SWT sangat dekat dan dikabulanya doa merupakan adanya putaran haluan yang mengagumkan kearah lubuk jiwa dan rahasia-rahasia hati yakni balasan berupa kedekatan Allah dan pengabulanNya terhadap do’a.

Sesungguhnya ayat tersebut mencurahkan ke dalam hati mukmin kesejukan yang menyenangkan, kasih saying yang membelai, keridloan yang menenangkan, kepercayaan dan keyakinan sepenuhnya. Di bawah naungan keakraban penuh rasa cinta, kedekatan penuh rasa kasih dan pengabulan yang cepat ini, maka Allah SWT mengarahkan para hambaNya agar memenuhi perintahNya dan beriman kepadaNya agar dapat mengantarkan mereka kepada keterpimpinan, hidayah dan keshalihan.

Masih menurut uraian Sayid Qutb di dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an bahwa keterpimpinan yang dihasilkan oleh keimanan dan pemenuhan perintah Ilahi itulah merupakan keterpimpinan sejati. Sedangkan pengabulan Allah SWT terhadap permohonan para hamba bisa diharapkan manakala mereka telah memenuhi perintahNya dan berada di jalan yang benar. Hamba Allah harus memohon kepadaNya tanpa terburu-buru. Karena Dia-lah yang menakar pengabulan pada waktunya yang tepat sesuai dengan perhitunganNya yang Maha Bijaksana.

Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits dari Ibnu Maimun – dengan sanadnya- dari Salman al Farisi – radliyallahu ‘anhu – dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, sesungguhnya Beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah merasa malu jika menolak seorang hamba yang menengadahkan kedua tangannya kepadaNya meminta kebaikan dariNya”.

Di dalam Shahih Muslim disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam, bersabda : “Seorang hamba akan senantiasa dikabulkan selama dia tidak berdo’a dengan suatu dosa atau pemutusan hubungan kerabat, selagi tidak terburu-buru. “Ditanyakan : ‘Wahai Rasulullah, apa itu terburu-buru? Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab : “Dia mengatakan, Aku sudah berdo’a tetapi Dia (Allah) tidak mengabulkanku, lalu dia merasa putus asa dan meninggalkan do’a” (HR. Muslim)

Do’a orang yang sedang berpuasa lebih dekat untuk dikabulkan oleh Allah SWT. Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “Tiga orang yang do’a mereka tidak ditolak : Imam yang adil, orang yang berpuasa hingga berbuka dan do’a orang teraniaya. Allah mengangkatnya di bawah awan pada hari kiamat dan dibukakan pintu-pintu langit untuknya seraya berfirman : Dengan kemulyaanKu sungguh Aku akan menolongmu sekalipun tertunda beberapa saat” (HR. Tirmidzi).

Itulah sebabnya mengapa do’a disebutkan di tengah-tengah pembicaraan tentang puasa. Olehnya itu momentum bulan Ramadhan yang ibadah wajibnya puasa adalah saat tepat untuk memperbanyak do’a, munajat untuk kemenangan. Munajat untuk kemaslahatan diri, keluarga, masyarakat dan bangsa Indonesia. Bangsa yang saat ini sedang menanti limpahan berkah dari Allah SWT. Amiin…. (***)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top