FEATURE/KHAS

Nasib Pendidikan Dasar di Pegunungan Serut, Maluku Tengah

  • Laporan :
    Udin : Magang Jurnalistik | rakyatmaluku.com

76 tahun sudah bangsa Indonesia merdeka. Tepatnya, pada Selasa, 17 Agustus 2021 kemarin. Usia kemerdekaan ini terbilang bonus bagi usia manusia. Meski demikian, tidak semua wilayah dan masyarakat telah merasakan hasil dari 76 tahun kemerdekaan ini. Terbukti, ruang pendidikan yang sedianya dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945 saja masih terabaikan.

Potret dunia pendidikan yang masih terabaikan ini, dapat anda jumpai di Negeri Kaloa, Negeri Kecil Elemata, Negeri Hatuolo, dan Negeri Maraina, Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

Negeri-negeri yang ada di daerah pegunungan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah ini, serasa dilupakan pemerintah. Buktinya, sekolah dasar yang menjadi pondasi untuk membina generasi nusa dan bangsa saja tidak teruruskan. Bukan saja bangunan sekolah yang tidak memadai, tenaga pendidik juga minim.

 

Bila sekarang masyarakat di luar sana telah merasakan dunia pendidikan secara online atau virtual, berbeda dengan di empat negeri itu. Bahkan, di bangku pendidikan sekolah dasar, para guru masih menggunakan kapur tulis untuk mengajar.

Keadaan ini, kian terlihat memprihatinkan dengan kondisi bangunan sekolah. Mulai dari lantai tanah, dinding yang terbuat dari gabah-gabah, ranting pohon sagu, hingga kursi dan meja belajar yang tidak layak pakai.

Kendati keadaan yang begitu miris dihadapi, anak-anak di negeri-negeri itu, tetap memiliki semangat juang 45 untuk belajar. “Buku dan pena yang menjadi bahan belajar masih jarang digunakan para siswa. Kapur tulis yang biasa dipakai oleh guru untuk mengajar siswa, terkadang tidak cukup. Fasilitas buku di sekolah tidak lebih dari tiga,” tutur Michel, salah satu pegiat sosial, yang ditemui rakyatmaluku.com, Kamis, 19 Agustus 2021 di Kota Ambon.

Dikisahkan Michel, anak-anak di negeri itu memiliki semangat belajar yang cukup tinggi. Terbukti, meski kondisi sekolah yang tidak lazim di era modern ini, mereka tetap semangat untuk hadir di sekolah. Keterbatasan, tidak membuat para siswa patah pena. Siapa yang duluan ke sekolah, dia yang membaca buku lebih dulu. Sebaliknya, untuk alat tulis, para siswa dengan semangat saling gotongroyong masohi atau berbagi satu sama lain.

Anak-anak dengan seragam merah-putih itu, seolah tak ingin tertinggal mata pelajaran. Mereka bergantian alat tulis untuk menulis materi pelajaran yang diajarkan.

Berbeda dengan sekolah lain, di sekolah ini, bahkan guru pegawai negeri hanya dua orang. Rata-rata mereka yang mengabdikan diri di sekolah itu, adalah pegiat sosial.

Michel dan rekan-rekannya terus maju dan saling membantu. Prinsif mereka, anak-anak pada negeri-negeri itu harus mendapatkan pendidikan selayaknya di kecamatan, kabupaten/kota atau provinsi.

Melalui Gerakan Mahasiswa Pegunungan Utara (Gema Penu Setara) dan Komunitas Pela (Penjaga Alam), mereka terus bergerak untuk mendidik generasi penerus bangsa, yang sedang dilupakan ini.

Beberapa kali, Michel bersama rekan-rekannya menyurati pemerintah setempat. “Namun apa daya tangan tak sampai”. Pribahasa ini seolah tepat untuk Michel dan anak-anak SD Negeri Kaloa, SD Negeri Kecil Elemata, SD Negeri Hatuolo, SD YPPK Manusela dan SD Negeri Maraina terima. Sebab, surat tersebut yang mereka buat, sampai kini tidak direspon pemerintah.

Beberapa guru honorer, kata Michel, sudah puluhan tahun mengabdi. Nasib mereka tak kunjung mendapat perhatian dari pemerintah. Beruntung, masyarakat memiliki kepedulian sehingga mengalokasikan anggaran desa untuk dapat menggaji para tenaga honor tersebut, walau tak seberapa dibanding tugas mereka.

“Awalnya tenaga pengajar hanya ada lima. Sekarang dari Alokasi Dana Desa (ADD), baru ditambahkan tiga tenaga lagi. Tapi yang jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu hanya dua,” tegas Michel.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sedang tidak berlaku di pegunungan ini. Hanya Undang-Undang Pemilu yang berlaku di negeri-negeri tersebut. Sebab, setiap Pemilu, warga negeri-negeri tersebut disuruh mencoblos. Mulai dari calon Presiden, DPR, DPD, DPRD tingkat I, DPRD tingkat II, hingga Pemilukada provinsi dan kabupaten. Habis Pemilu, mereka diabaikan seolah tidak pernah ada masyarakat di keempat negeri itu.

Desi Rahmawati | Pegiat Literasi/Pendidikan

Menanggapi hal ini, Pegiat Literasi/Pendidikan, Desi Rahmawati berharap agar pemerintah daerah, baik Kabupaten Maluku Tengah maupun Pemerintah Provinsi Maluku, terutama lagi para kepala dinas pendidikan yang memiliki bidangnya, agar dapat segera menanganinya. Sebab, pendidikan merupakan jantung dari kemajuan suatu bangsa. Apabila kurang mendapatkan perhatian, maka dipastikan daerah tersebut tidak akan mengalami kemajuan. Bahkan, dari aspek kemiskinan, pendidikan menjadi salah satu tolak ukuran yang digunakan oleh pemerintah pusat.

Menurut Desi, persoalan yang dihadapi oleh masyarakat di daerah pegunungan Seram Utara, yakni soal keterjangkauan pemerintah. Desi merasa aneh juga, karena kalau persoalan politik, pejabat pemerintah dapat sampai ke negeri-negeri tersebut. Sementara masalah pendidikan, justeru diabaikan, seperti yang terjadi di sekolah-sekolah tersebut sejak puluhan tahun ini.

Desi lalu mengajak seluruh komponen masyarakat di Seram Utara dan juga Maluku Tengah, agar sama-sama menyuarakan hal ini kepada pemerintah. Sebab, masyarakat di daerah pegunungan ini, sepatutnya mendapatkan hak pendidikan yang setara dengan masyarakat di pesisir. Kalau tidak diperhatikan, kata dia, masalah ini akan terus diabaikan.

Bagi dia, pemenuhan kebutuhan fasilitas pendidikan adalah pemerintah. Jadi, kalau ada sekolah seperti SD-SD tersebut, maka boleh dikata, pemerintahnya kurang peka terhadap persoalan pendidikan.

“SD yang ada di Seram Utara adalah simbol. Representasi. Alarm atau pengingat bahwa pedidikan kita di Maluku Tengah, terutama di Pulau Seram, belum benar-benar menjadi pehatian khusus pemerintah. Semoga keberadaan sekolah-sekolah ini dapat menjadi cambukan untuk pemerintah bisa melihatnya lebih serius,” kesan Desi. (*)

--------------------

Berita Populer

To Top