---------
SOSOK

NOER TAWAINELLA

Catatan : Muhammad Farid
Penulis Buku “TanaBanda” | Pengajar Sejarah di Sekolah Tinggi Hatta Sjahrir

Muhammad Farid

M. NOER TAWAINELLA adalah seberkas cahaya dari timur Indonesia. Cahaya itu tampak menggumpal dalam gagasannya yang padat pengetahuan. Lisannya fasih merangkai ilmu, menunjukkan gugusan ingatan yang lengkap. Detil hidupnya dipersembahkan demi buku dan tulisan. Bahkan di usia senjanya, dia masih mampu merapal judul buku, nama pengarang, lengkap dengan istilah asingnya.

Pria yang mengawali karirnya sebagai sekretaris di Departemen Agama provinsi Maluku sejak tahun 80-an itu tampak begitu tekun bekerja. Bahkan koran dan berita yang seharusnya sampai ke meja pimpinannya tak satupun dikirim gara-gara habis dilahap di ruang kerjanya sendiri.

Pak Nur, begitu sapaan akrabnya, adalah sang ilmuan organik, asli Maluku. Agak rumit untuk mengkategorikan dimana spesifikasi keilmuannya. Dia adalah sejarawan sekaligus budayawan, yang juga mumpuni dibidang ilmu kelautan dan kemaritiman. Dia banyak menulis artikel historis, menguak narasi-narasi filosofis, tapi juga briliant menggagas ide kemaritiman Maluku. Tidak hanya itu, pak Nur sangat mahir menggubah bait-bait puisi. Dialah sang pujangga Maluku yang prosanya menggema di majalah Gema Islam tahun 60-an. Tidak heran jika Jenderal Ahmad Yani sampai harus menjulukinya “doltrap” atau “sang penulis”.

Sebagai intelektual organik, mengajarkan ilmu baginya adalah menjalani hidup itu sendiri. Mengajar bukan untuk mengejar prestise; seperti para pengepul kum dan pemburu titel, atau para intelektual karbit penghamba gelar dan status guru besar. Pak Nur bukan seorang profesor, tapi ilmunya bagaikan sang guru besar. Gagasannya memantik kesadaran para muridnya. Intelektualitasnya diafirmasi banyak perguruan tinggi dan lembaga negara. Meskipun begitu banyak penghargaan yang diraihnya, namun dia tetap merendah hati. Berjalan kaki. Naik angkutan. Duduk di emperan. Menyapa ramah para mahasiswa.

Dengan pencapaiannya, pak Nur seharusnya bisa memiliki segala kebutuhan hidupnya. Tapi dia lebih memilih hidup biasa-biasa saja. Menempati rumah sederhana bersama anak dan cucunya. Menghabiskan hari-harinya berteman buku-buku kesayangannya.

Kini sang “Doltrap” itu telah pergi untuk selamanya. Tapi jejak pikirannya tertanam terlalu kuat di bumi Maluku. Petuahnya meresap kedalam urat nadi kesadaran. Kenangan bersamanya sulit terlupakan. Selamat jalan. (***)
Alfatihah…

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
--------------------

Berita Populer

To Top