NEWS UPDATE

Pemilih Ingin Ada Pembaharuan Wakil Di Senayan

Dinamika Pilpres Pengaruhi Peluang PKB, Gerindra

BADAN Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Rakyat Maluku telah merilis survei peluang keterwakilan rakyat di Senayan pada Pemilihan Umum dan Pemilihan Anggota Legislatif 2019.

Survei dengan mengajukan empat pertanyaan kunci yang menyasar ratusan responden di11 kabupaten/kota, telah menunjukkan hasil kecenderungan pemilih untuk menentukan pilihan masing-masing.

Direktur Eksekutive Indonesia Research and Strategi (IRS) Djali Gafur menegaskan, hasil survei Balitbang RM mengkonfirmasi ada dua kecenderungan (voting behavior) pemilih di Maluku.

Pertama keinginan publik adanya pembaharuan wakil rakyat di Senayan, dan kedua, dari konfigurasi yang ada, maka ada efek ekor jas (coatail effect) terhadap tingkat keterpilihan di Pemilu.

Empat partai penghuni papan atas hasil survei Balitbang RM yakni PKB (basis Nahdiliyin/Ma’ruf Amin), PDI-P (Jokowi),Gerindra (Prabowo) dan Demokrat (SBY Koalisi Gerindra).

“Saya kira, dua indikator tersebut bisa menjadi alasan untuk menganalisis hasil survei Balitbang RM. Soal coatail effect ini menjadi faktor krusial, karena selain adanya transformasi idiologis dari partai ke figur, pertarungan pilpres dengan partai pengusung poros utama, akan kencang secara sistem politik partai bekerja sampai pada level paling bawah,” kata Djali.

Menurut dia, ceruk pemilih sudah begitu terlihat jelas, dua segmen besar dalam arus politik Indonesia adalah nasionalis dan agamis. Pada segmen ini, partai semisal PDI-P, Gerindra dan Demokrat akan kencang berebut suara, sementara pada segmen agamis, PKB telah menguncinya pada ceruk pemilih nahdiyin yang secara kultural dan idiologis tersebar pada semua lapisan masyarakat.

“Secara faktual fenomena politik Indonesia telah membentuk paradigma politik yang mengarah pada perebutan suara elektoral pada dua segmen yang besar. Segmen nasionalis dan agamais. Pada segmen ini, PDI-P, Gerindra dan Demokrat sebagaimana hasil survei Balitbang RM. Sementara PKB pada segmen agamais yang mana basisnya adalah masyarakat dengan idiologi nahdiliyin,” ucapnya.

Djali juga menuturkan, jika membaca pola elektoral politik di Maluku, memang agak berbeda dengan daerah lain semisal Jawa dan Sumatera. Pada dua wilayah tersebut, coatail effect (ekor jas) memang dominan, namun di Maluku cenderung pada effect ikat dasi.

Artinya, segmen pemilih masih berada pada desentralisasi basis politik. Prosentase kewilayahan menjadi salah satu indikator dalam pemilu, pileg maupun pilkada.

Dikretur Eksekutive Partner Politik Indonesia (PPI) Abubakar Solissa menambahkan, menguatnya empat nama dalam bursa pencalegan untuk DPR RI sebagaimana survei Balitbang Rakyat Maluku yang dirilis senin 28 Januari 2019 menandakan bahwa telah terjadi pergeseran preferensi pemilih pada beberapa calon anggota legislatif disebabkan karena proses pilpres dan pileg yang dilakukan secara bersamaan sehingga peta kekuatan dan peluang masing-masing caleg ditentukan banyak faktor.

Dari 54 persen pemilih yang sudah menentukan pilihannya pada Habiba Pellu (PKB), Safitri Malik Soulisa dan Mercy Barends (PDIP) serta Hendrik Lewerissa (Gerindra) dan lain-lainnya bisa dijelaskan dengan beberapa indikator, salah satunya ada soal Cottael effect.

Dimana, partai yang paling mendapat limpahan efek ekor jas adalah PDIP dan Gerindra karena pasangan capres dan cawapres merepresentasi dua partai ini, terkecuali KH. Ma’ruf Amin yg posisinya lebih cenderung ke PKB karena beliau memang salah satu pendiri PKB.

“Makanya kenapa nama Lewerissa bisa muncul dan masuk 4 besar mengalahkan beberapa nama yg dari awal diprediksi cukup berpeluang. Begitu juga dengan Habiba Pellu dari PKB yang mana segmen nahdiliyin benar-benar berada pada poros PKB dengan tokoh kunci di pentas nasional adalah KH. Ma’ruf Amin,” urainya.

Sementara dua nama dari PDI-P, Safitri dan Mercy selain limpahan coateil effect, keduanya mendapat suntikan dukungan dari tokoh-tokoh kunci di daerah, serta support finansial yang memadai dan simpul politik yang kuat, solid dan menyebar pada akar rumput.

Baginya, wajar saja jika kedua nama ini menguat, karena selain punya kekuatan sebagimana yang sudah dinggung diatas, keduanya diuntungkan karena Maluku adalah basis PDIP dari dulu sampai hari ini.

Abubakar juga memetakkan kekuatan Habiba Pellu di Maluku Tengah (Malteng) yang menjadi basis utamanya. Bagi Direkut PPI, Habiba adalah salah tokoh perempuan yang cukup berpengaruh di Maluku.

“Ibu Biba adalah politisi perempuan yang cukup mempengaruhi dinamikan politik di Maluku. Simpul ideologis di Maluku Tengah menurut saya lebih banyak akan mendukung beliau, karena dianggap merepresentasi kepentingan politik orang Seram dan Jazirah Leihitu di Senayan,” kuncinya. (ASI)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top