KABUPATEN SBT

Pemprov Diminta Beri Penghargaan ke Dua Pemuda Sabuai

RAKYATMALUKU.COM – AMBON, — Aliansi Mahasiswa adat Welyhata (Amau) meminta kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) agar dapat memberikan penghargaan kepada dua orang pahlawan hutan adat Sabuai, yakni Khaleb Yamrua dan Stevanus Ahwalam atas jasanya melawan kejahatan kehutanan yang dilakukan CV. Sumber Berkat Makmur.

“Kami juga meminta agar Pemprov Maluku dapat membantu membebaskan dua pahlawan hutan adat Subuai itu dari status tersangka oleh Polres SBT dalam kasus pengrusakan barang atau alat berat milik CV. Sumber Berkat Makmur,” tegas Korlap Joshua Ahwalam, saat membacakan tuntutannya dalam aksi demonstrasi di Kantor Gubernur Maluku, Jumat, 27 Agustus 2021.

Menurutnya, pembelaan hutan adat yang dilakukan dua pemuda Sabuai yakni, Khaleb Yamrua dan Stevanus Ahwalam, telah sesuai dengan amanat undang-undang yang berlaku, sebagaimana diatur dalam Pasal 66 UU RI No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

“Amanatnya berbunyi, setiap orang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat, tidak dapat dituntut secara pidana maupun digugat secara perdata. Olehnya itu, apa yang dilakukan dua pemuda Sabuai ini telah sesuai dengan amanat undang-undang yang berlaku,” tutur Joshua.

Selain itu, lanjut Joshua, Pemprov Maluku juga juga didesak untuk melakukan reboisasi atas hutan yang dibabat habis oleh CV. Sumber Berkat Makmur, serta melakukan normalisasi terhadap aliran sungai di Negeri Sabuai dengan membuat talud penahan air dan bronjong.

“Kami juga mendesak Gubernur Maluku agar memberikan teguran keras kepada Wakil Bupati SBT atas pernyataannya pada 19 Agustus 2021, soal banjir Sabaui yang tidak sesuai dengan fakta namun di besar-besarkan oleh media,” pintanya.

Usai membacakan tuntutan, Joshua kemudian menyerahkannya kepada Wakil Gubernur Maluku Barnabas Orno, yang didampingi Kepala Kesbangpol.

Usai menerima tuntutan para mahasiswa, Wagub mengatakan bahwa persoalan kedua warga Sabuai yang telah dijadikan tersangka, bukan kewenangan Pemprov, sebab hal itu sudah menjadi persoalan hukum.

“Jadi, terkait dengan permasalahan penahanan kedua warga Sabuai, alangkah bagusnya di diskusikan dengan pihak Kejati ataupun pihak pengadilan, dan tentunya kami juga berikan dukungan terkait dengan persoalan ini,” kata Wagub.

“Sedangkan untuk persoalan lain yang ada dalam isi tuntutan aksi yang disampaikan ini, selanjutnya akan dilaporkan kepada Gubernur Maluku,” tambahnya.

Usai mendengar penjelasan Wagub, puluhan mahasiswa ini kemudian meninggalkan Kantor Gubernur Maluku secara tertib dan aman. Sementara itu, sebelumnya, terkait hal ini, di SBT, Aliansi Peduli Masyarakat Adat (APMA) Seram Bagian Timur, juga berunjuk rasa di Kantor Pengadilan Negeri (PN) Dataran Hunipopu SBT, Kamis 26 Agustus 2021.

Dalam aksinya pendemo meminta Kepala PN Dataran Hunimua, Awal Darmawan Akhmad membebaskan, Stevanus Ahwalam dan Khaleb Yamarua.
Aksi demo ini bersamaan dengen sidang perdana Stevanus dan Khaleb di PN Dataran Hunimua terkait kasus pengrusakan alat berat milik CV Sumber Barakat Makmur yang melakukan pembalakan hutan d Desa Adat Sabuai.Menurut pendemo, dua pemuda itu berjuang untuk melindungi hutan adat mereka dari kejahatan pembalakan hutan yang dilakukan oleh CV Sumber Barakat Makmur.

Pendemo menggunakan kain berang merah di kepala. Aksi yang dipimpin Hardi Kwaikamtelat itu berlangsung sebelum kedua terdakwa menjalani sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan. (RIO/ Mg05)

--------------------

Berita Populer

To Top