NEWS UPDATE

Pencemaran Mercuri Di Gunung Botak Makin Memprihatinkan

– Tim Unpatti Kerahkan Tenaga Peneliti

RakyatMaluku.com – TIM peneliti dari Universitas Pattimura Ambon, hari ini, Sabtu, 21 Juli, akan kembali melakukan pene­litian dengan mengambil sampel di kawasan tam­bang emas Gunung Botak, Kabupaten Buru.

Tim beranggotakan dua orang, yaitu Dr Justinus Male dari Fakultas Matematika dan Fisika (MIFA) dan Dr Alberth Nanlohy, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, ini mengambil sampel didampingi pegawai dari Dinas Energi dan Sumberdaya Manusia (ESDM) Provinsi Maluku.

Daerah yang menjadi sasaran pe­ngam­bilan sampel air, lumpur dan biota laut itu adalah Desa Gogorea, Desa Dava, Kecamatan Waelata, Sungai Anahoni, Gunung Botak dan Teluk Kaiyeli.

“Rektor Unpatti meminta ka­mi datang, setelah pemberitaan media beberapa hari ini. Dua hari kami disini, Jumat dan Sabtu. Ini pengambilan sampel terakhir sebelum Gunung Botak ditutup,” terang Justinus Male kepada wartawan usai bertatap muka dengan para pimpinan adat di Kabupaten Buru, Jumat, 20 Juli 2018. Setelah mengambil sampel, pihak ESDM nantinya mengirim hasil ke laboratorium terbaik di Indonesia atau luar negeri, dan hasil akan diketahui pasca oleh pihak laboratorium kemudian disampaikan ke ESDM.

“Nanti dari SDM yang akan membawa sampel untuk di teliti di laboratorium. Apakah di Indonesia atau di luar negeri. Kalau di Indonesia yang terbaik ada di Bogor. Satu sampel Rp900 ribu,” jelasnya.

Semenjak tahun 2012 sampai tahun 2017, konsetrat mercuri sudah naik bahkan melebihi Minamata di Jepang. Jika tidak segera ditangani, maka dampaknya sangat besar.

“Bulan Juli Tahun 2012 kami melakukan penelitian. Tahun 2013 tambang ditutup dan tahun 2014 kami teliti ulang ternyata konstrat sudah melebihi. Kami terkejut Gunung Botak dibuka kembali,” ujarnya.

Ia berharap, dengan hasil penelitian nanti, pemerintah dapat segera mengambil langkah-langkah selanjutnya. Sehingga dampak pencemaran lingkungan dapat teratasi.

“Nanti kami berikan rekomendasi dari hasil penelitian kami untuk pemerintah. Sehingga tambang ini bisa di kaji kembali. Karena sangat berbahaya, jika tambang ini masih berjalan,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, warga Adat Akan Melakukan Pembersihan Di Gunung BotakPemakaian Mercuri dan Ciannida di kawasan Gunung Botak, sangat meresahkan masyarakat Buru terutama warga Adat. Maraknya bahan kimia berbahaya ini sudah memakan korban jiwa. Atas dasar itulah, warga Adat Buru hendak menertibkan penambang di daerah emas tersebut. Beruntung aparat kepolisian sigap membubarkan massa yang nyaris naik ke Gunung Botak, Kamis, 19 Juli.

Pantauan Rakyat Maluku di Dusun Wamsait, Desa Dava, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru, ratusan warga baik tua maupun muda, datang dari desa mereka masing-masing dengan membawa alat tajam berupa parang dan tombak, hendak naik Gunung Botak. Sebelum menuju sasaran, warga Adat dipimpin pemuka-pemuka adat ini berkumpul di rumah salah satu masyarakat di Jalur H.

Warga pun duduk membicarakan persoalan pencemaran lingkungan. Setiap orang yang berbicara, didengar dan ditampung untuk diambil kesimpulan sebelum naik ke gunung. Waktu berkumpul, sekitar pukul 13.00 WIT, Kapolsek Waeapo Ipda Novit P, bersama anggotanya datang dan rapat bersama mereka.

Kapolsek mendengar semua keluhan warga. Ada yang ngotot agar naik guna membersihkan kolam-kolam rendaman, ada juga yang memberi waktu kepada Kapolsek untuk bagaimana polisi sendiri membersihkan rendaman-rendaman di Gunung Botak yang diduga tercepar bahan kimia, Pada kesempatan itu, Kapolsek dengan tenang melarang karena ditakutkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bersama, Pasalnya, ratusan warga Adat membawa barang tajam.

“Bukan saya tidak mau bapak-bapak naik untuk menertibkan para penambang liar, tapi kami khawatir akan terjadi hal hal yang tidak diinginkan terjadi. Seperti bentrokan. Karena penambang di atas juga banyak,” kata Kapolsek.
Mendengar ungkapan Kapolsek, sejumlah pim­pinan adat tidak terima. Bahkan mereka menuding polisi melindungi penambang ilegal yang telah jelas melakukan pencemaran yang dapat membahayakan nyawa warga.

“Bapak-bapak kenapa membela orang yang salah (penambang ilegal) Kami ke atas (Gunung Botak) bukan untuk berkonflik atau bentrok. Tapi kami ingin membicarakan secara baik baik dengan penambang. Biar tertib dan ada batas batas yang harus di jaga,” hardik sejumlah pimpinan berpakaian adat.

Sementara usai pertemuan, Ketua Panitia Adat Bersatu, Umar Nurlatu kepada wartawan, menyayangkan sikap yang dilakukan polisi. Padahal, maksud warga adat hanyalah agar tidak terjadi lagi pencemaran limbah kimia yang berujung kematian, baik dialami warga maupun hewan.

“Kami ke atas juga untuk membuat tapal batas antara Koperasi dan adat. Supaya masyarakat adat bisa tau ini kita punya batas kerja. Tapi kami di cegat oleh kepolisian. Ada apa dibalik semua ini,” ungkapnya.

Ia menduga, pencegatan yang dilakukan kepolisian ada sesuatu. Sehingga sebagai masyarakat adat tidak terima. Ia menegaskan, pihaknya akan tetap berjuang kemanapun.

“Walaupun kami tidak punya kepeng (duit), tapi kami akan terus berjuang, bila perlu sampai di pusat,” tegasnya. (AAN)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top