OPINI

Pendidikan Berkualitas Majukan Bangsa

Mokh Fathoni

Visi Undang-undang Sisdiknas nomor 20/2003 yaitu mewujudkan sua­sana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengem­bangkan potensi dirinya untuk memiliki ke­kuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diper­lukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara, serta dite­gaskan juga dalam paragraf pembukaan UUD 1945 yaitu upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Oleh: Mokh Fathoni
Guru MAN Ambon, Ketua JSIT Wilayah Maluku

UPAYA itu tentu sangat berkaitan dalam mengembangkan kualitas manusia yang berlangsung seumur hidup lewat pendidikan. Sebab itu, pendidikan merupakan kunci utamanya. Hal ini telah dibuktikan dengan apa yang telah kita saksikan saat ini. Banyak negara-negara telah berhasil me­nguatkan pendidikan sebagai fungsi dasarnya dalam menentukan kualitas bangsanya.

Misalnya, Finlandia. Apa yang sesungguhnya terjadi di Finlandia barangkali bisa memberi pencerahan. Timothy D. Walker, dalam buku terbarunya “Teach Like Finland atau mengajar se­perti Finlandia” membocorkan beberapa kunci dan strategi sederhana tentang pendidikan di Finlandia. Tak ada yang menyangkal kalau sistem pendidikan di Finlandia diakui menjadi yang terbaik di dunia. Bahkan, beberapa waktu lalu, sistem di Negeri Nordik itu hendak diikuti Indonesia.

Seperti dimuat pada edukasi.kompas.com, ban­yak yang penasaran tentang pendidikan di negara kecil jumlah total penduduk tak lebih dari 6 juta orang tersebut. Siswa-siswa Finlandia selalu memperoleh peringkat atas pada tes PISA atau Programme for International Student Assessment. Dipikir-pikir, apa mungkin negara dengan jumlah penduduk separuh Jakarta ini bisa memiliki kualitas pendidikan tingkat dunia? Apalagi, negara ini tidak seagresif negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Jepang, Hongkong, atau Singapura misalnya, yang menyetel pendidikan mereka menjadi lebih cepat.

Sementara, Turki. Turki merupakan satu-satunya negara yang bisa dijadikan contoh tentang besarnya perhatian masyarakat bisnis terhadap pendidikan. Mereka menyisihkan sebagian pendapatannya untuk membangun pendidikan. Sehingga menurut Fajrun Najah (2006) Pendidikan di Turki dapat lebih maju dibandingkan di negeri kita, sebab pendidikan di negara dua benua itu serius dalam menata manusianya lewat pendidikan.

Sedangkan, Indonesia, prestasi anak-anak kita lebih gemilang prestasinya. Anak-anak kita banyak yang sukses dalam berbagai ajang olympiade sains. Bahkan, putra Indonesia semacam Prof Dr BJ Habibie diakui kemampuannya di dunia internasional. Namun, berbagai penelitian dari lembaga-lembaga internasional memang menempatkan Indonesia pada urutan-urutan terakhir dalam strata kualitas pendidikan. Mereka menilai, kita kurang bermutu, tapi sebenarya bukan disitu letak soalnya.

Setuju atau tidak, kita menerima fakta tersebut. Lalu, bagaimanakah kondisi pendidikan kita? Apakah selama ini, pendidikan kita telah diarahkan ke arah yang lebih baik? Sudahkah dibuat langkah-langkah strategis serta diimplementasikan secara berkala dan berkelanjutan? Tentu pertanyaan-pertanyaan semacam di atas mesti dijawab dengan aksi nyata.

Maka, penulis masih melihat sebuah harapan besar dalam mengatasi dan meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Di awal tahun ajaran baru ini, setidaknya kita sudah siap untuk memulai merencanakannya. Ada tiga hal yang akan menjadi fokus penulis. Jika tiga hal ini dimaksimalkan dengan baik, penulis yakin kualitas pendidikan bangsa ini akan membaik, yaitu guru, orang tua dan sekolah. Pertama, guru. Pendidikan memainkan peran penting dalam membentuk pola pikir seseorang. Apakah kita akan termasuk golongan pembuat masalah atau penemu solusi. Maka, guru punya andil besar di dalam membangun sebuah generasi dalam hal mendidik dan mengajar.

Menurut George Couros, penulis buku The Innovator’s Mindset, ada sepuluh tipe guru yang kita perlukan di dalam ruang kelas jika ingin berhasil menghadapi tantangan-tantangan global dan membuat anak-anak semakin maju. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru memiliki peran yang cukup penting untuk membuat ilmu-ilmu yang diajarkan dapat diterima oleh siswa-siswa yang ada. Tak hanya berperan untuk mengajarkan ilmu-ilmu saja, banyak sekali peran guru dalam proses pembelajaran.

Kita tau, guru merupakan pendidik, tokoh, panutan serta identifikasi bagi para murid yang di didiknya serta lingkungannya. Oleh sebab itu, tentunya menjadi seorang guru harus memiliki standar serta kualitas tertentu yang harus dipenuhi. Sebagai seorang guru, wajib untuk memiliki rasa tanggung jawab, mandiri, wibawa, serta kedisiplinan yang dapat dijadikan contoh bagi peserta didik.

Kegiatan belajar mengajar akan dipengaruhi oleh beragam faktor di dalamnya, mulai dari kematangan, motivasi, hubungan antara murid dan guru, tingkat kebebasan, kemampuan verbal, ketrampilan guru di dalam berkomunikasi, serta rasa aman. Jika faktor faktor tersebut dapat terpenuhi, maka kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik. Guru harus dapat membuat sesuatu hal menjadi jelas bagi murid, bahkan terampil untuk memecahkan beragam masalah.

Demikian juga jika, proses kegiatan belajar mengajar akan berhasil manakala murid-murid di dalamnya memiliki motivasi yang tinggi. Guru memiliki peran yang penting untuk menumbuhkan motivias serta semangat di dalam diri siswa dalam belajar.

Kedua, orang tua. Dukungan orang tua sangat penting dalam mewujudkan keberhasilan pendidikan buah hatinya. Namun, masih banyak orang tua yang kurang menyadari akan perannya dalam mendukung pendidikan anak dan menyerahkan sepenuhnya pada sekolah. Padahal, keluarga merupakan pilar pertama dalam membentuk karakter anak.

Sayangnya, tak banyak orangtua menyadari bahwa perannya dalam mendukung pendidikan anak sangat mempengaruhi keberhasilan anak dalam belajar dan bersosialisasi. Tak ayal, banyak yang menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada pihak sekolah. Padahal, untuk mewujudkan keberhasilan pendidikan, dibutuhkan sinergi yang harmonis antara pihak sekolah dan orangtua. Lantas, apa saja yang bisa kita berikan untuk mewujudkan keberhasilan pendidikan anak?

Bentuk keterlibatan orang tua yang dapat dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut, penulis menyebutkannya sebagai the seven habits of parents, yaitu selalu hadir dalam pertemuan dengan wali kelas pada hari pertama masuk sekolah, mengikuti kelas orang tua yang diprogramkan sekolah, mengikuti pertemuan dengan wali kelas minimal dua kali sekali dalam satu semester, hadir sendiri pada setiap pembagian rapot, hadir sebagai narasumber dalam kelas berbagi, terlibat aktif saat acara pentas kelas pada akhir tahun ajaran, serta terlibat aktif pada paguyuban orang tua sekelas anak. Semua ini merupakan bentuk program sekolah yang dibuat oleh sekolah anak guna mengaktifkan keberadaan peran orang tua ke sekolah.

Ketiga, sekolah. Sekolah merupakan lembaga formal yang di selenggarakan oleh pemerintah. Semua peraturan dan aspeknya ditentukan oleh aturan berupa UU yang mengaturnya. Sekolah juga merupakan lembaga yang ada dalam masyarakat yang kita berikan sebagian besar tanggung jawab untuk pendidikan anak-anak kita.

Pendidikan sekolah berlangsung secara teratur dan bertingkat sesuai jenjangnya, dari taman kanak-kanak, sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), sampai pada perguruan tinggi (PT)
Pendidikan sekolah berkontribusi pada sosia­lisasi dan pendidikan moral dan karakter peser­ta didik, karena walaupun pendidikan keluarga yang merupakan pondasi awal pendidikan nilai dan moral anak, pendidikan sekolah juga sangat penting untuk mengembangkan pendidikan karakter anak yang diperoleh dari keluarganya agar diterapkan di sekolah dan di lingkungan masyarakat.

Pendidikan sekolah juga sangat penting, karena kita tahu bahwa banyak orang tua yang tidak memiliki waktu untuk memberikan pendidikan dikarenakan orang tua yang sibuk bekerja dan anak cenderung di rumah sendiri atau bahkan bersama pengasuhnya, sehingga orang tua sangat mempercayakan pendidikan anaknya kepada sekolah.
Selain itu orang tua tidak memiliki keahlian, kontak sosial, serta kecenderungan untuk menye­diakan pendidikan yang dibutuhkan anak di da­lam keluarga.

Sehingga bisa dikatakan bahwa pen­di­dikan sekolah itu mewakili orang tua atau keluarga dalam mendidik anak supaya anak mampu menghadapi kehidupan setalah anak itu mencapai kedewasaannya. Fungsi dan peranan lain pendidikan sekolah, yaitu: fungsi sosialisasi, fungsi kontrol sosial, fungsi pelestarian budaya masyarakat, fungsi seleksi, latihan dan pengembangan tenaga kerja, dan fungsi perubahan sosial. (***)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top