NEWS UPDATE

Pendiri Heka Leka Gelar Aksi “From Binaiya to Eiffel”

RakyatMaluku.com – YAYASAN Heka Leka yang berawal dari sebuah gerakan yang dimulai oleh anak-anak muda yang memiliki ke­rin­­duan adanya sebuah peru­bahan di Provinsi Maluku, saat ini sementara menggagas pembangunan sebuah Baileo yang diperuntukan bagi kema­juan pendidikan di daerah ini.

Untuk mendukung pem­bangunan Baileo Heka Leka, Stanley Ferdinandus yang adalah Pendiri dari Heka Leka akan melakukan penggalangan dana sekaligus mengkampanyekan gerakan Pendidikan di Maluku dengan aksi yang diberi tema “From Binaiya To Eiffel – dari Puncak Gunung Binaiya di Provinsi Maluku ke Puncak Menara Eiffel di Paris, Prancis“.

“Aksi “From Binaiya to Eiffel” merupakan rangkaian aksi yang dimulai dengan Pendakian selama 1 minggu ke Puncak Gunung Binaiya dengan ketinggian 3027 MDPL di Pulau Seram Provinsi Maluku, Indonesia ( Gunung Tertinggi di Provinsi Maluku dan Termasuk 7 Summit Indonesia ) dan selanjutnya pada tanggal 20 Juni – 24 Juni bersama-sama dengan beberapa rekan di Belanda Stanley akan bersepeda sejauh 708 km dari Martinitoren, Groningen – Belanda Utara ke Eiffel Tower di Kota Paris, Prancis,” ungkap Stanley dalam rilisnya, Selasa 19 Juni 2018.

Dikatakan, Rute aksi Sepedaan sejauh 708 km dari Martinitoren – Eiffel Tower berawal pada Rabu (20/6) dengan rute Martini Toren Groningen – Uddel (145 km), disusul Kamis (21/6) Uddel – Baarle Nassau (137 km), Jumat (22/6) Baarle Nassau – Zingem, Belgia (140 km), Sabtu (23/6) Zingem – Peronne, Perancis (139 km) dan Minggu (24/6) Peronne – Eiffel Tower (147 km).

Ia berharap semoga langkah penggalangan dana dan kampanye pendidikan ini bisa membantu mempercepat pengumpulan dana pembangunan Baileo Heka Leka sehingga sesegera mungkin bisa direalisasikan pembangunannya dan anak-anak Maluku bisa menggunakannya untuk kemajuan Pendidikan di Maluku.

“Selama ini untuk melakukan berbagai kegiatan Heka Leka, para pemuda memakai sebagian area dari rumah tinggal yang diberikan oleh sebuah keluarga yang terbeban untuk membangun pendidikan di Maluku. Rumah ini digunakan sebagai ruang baca, ruang bekerja, ruang untuk memikirkan setiap langkah-langkah strategis untuk membangun pendidikan di maluku, juga ruang untuk melakukan berbagai kegiatan pendidikan,” ungkapnya.

Ia mengaku, dengan begitu banyak anak yang dilayani, guru yang dibantu, dan Malessy (Relawan) yang turut bergabung, ruangan ini tidaklah mampu lagi untuk mengakomodasi pergerakan Heka Leka.

“Untuk itu, melalui aksi ini, kami mengajak teman-teman semua untuk mendukung pembangunan “Heka Leka Co-Learning Space”, yang kami sebut Baileo Heka Leka, diambil dari sebuah refleksi tentang fungsi Baileo yang merupakan Rumah Adat Orang Maluku yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat, tempat bermusyawarah, tempat untuk mendiskusikan permasalahan yang terjadi di sebuah negeri dan mendiskusikan berbagai strategi dan kebijakan untuk pembangunan negeri.

Dengan semangat yang sama Baileo Heka Leka ini dirancang untuk menjadi ruang belajar bagi para masyarakat Maluku, tempat mengembangkan diri, bertukar gagasan dan ide kreatif, juga berkolaborasi untuk berbagai kegiatan Pengembangan pendidikan di Maluku,” jelas Stanley.

Ia menambahkan, Heka Leka ini berawal dari realita masalah di Maluku yang membuat para pemuda tidak bisa tinggal diam sehingga berjuang melalui Yayasan Heka Leka.

“Dimulai dengan Gerakan 2 Jam untuk Maluku, selama hampir 7 tahun terakhir, telah bergerak ke hampir seluruh penjuru Maluku. Dari 11 Kabupaten/Kota, sudah 5 Kabupaten/Kota yang kami jangkau, 329 desa yang pernah mendapatkan manfaat dari kegiatan Heka Leka, dan 15.897 siswa dan 3737 guru dari 1379 sekolah yang pernah dilayani. Semakin Heka Leka bergerak dengan konsisten, semakin banyak kepercayaan yang didapat, harapan yang dibawa dan kesempatan yang didapat,” jelasnya. (RM)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top