NEWS UPDATE

Pengaduan Di Bulan Ampunan

Oleh : Sudarmo, SP, MSi, Anggota Fraksi PKS DPRD Maluku

Suasana bulan Ramadhan tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Pasalnya di bulan Ramadhan ini, baru saja selesai digelar pesta demokrasi yang oleh sebagian kalangan kompetesinya sangat “brutal”. Saat ini masih belum tuntas perhitungan suara di tingkat penyelenggara. Sehingga berbagai kalangan masih penasaran terhadap pemenang dari kandidat yang dipilihnya.

Alhamdulillah, di saat panasnya hiruk pikuk perhelatan pemilu, bulan Ramadhan hadir. Ia menjadi penyejuk dan pendingin. Ia menjadi katalisator untuk mengembalikan dan merawat kebersamaan di atas perbedaan pilihan. Ia pun menjadi sarana untuk mengadu. Mengadukan kepada Yang Maha Pemberi Ampunan.

Tidak saja kita bergembira menyambut bulan Ramadhan. Namun bersamaan dengan hadirnya bulan Ramadhan, maka saat ini pula kita adukan kekurangan dan kekhilafan. Tidak saja mengadukan soal rentetan carut marut pelaksanaan demokrasi. Namun, akan lebih bijak lagi jika kita mengadukan kepada Yang Maha Menerima Aduan adalah perilaku selama menempuh perjalanan kehidupan.  

Di hadirkanya bulan Ramadhan oleh Allah SWT, sejatinya di bulan tersebut Dia menitip energi yang dahsyat bagi kehidupan. Energi untuk melahirkan kembali manusia-manusia yang nantinya akan berderajat mulia di sisi-Nya : taqwa. Energi lain yang Allah titipkan yakni memuncaknya harapan ketika dosa-dosa mendapat ampunan.

Dalam hadits shahih diriwayatkan bahwa “Sesungguhnya Nabi mengucapkan amin sebanyak tiga kali tatkala Jibril berdoa. Para Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah! Engkau telah mengucapkan amin”.

Beliau menjawab: “Jibril telah mendatangiku, kemudian ia berkata: “Celakalah orang yang menjumpai Ramadhan lalu tidak diampuni”. Maka aku menjawab: “Amin”. Ketika aku menaiki tangga mimbar kedua maka ia berkata: “Celakalah orang yang disebutkan namamu di hadapannya lalu tidak mengucapkan salawat kepadamu”.

Maka aku menjawab: “Amin”. Ketika aku menaiki anak tangga mimbar ketiga, ia berkata: “Celakalah orang yang kedua orang tuanya mencapai usia tua berada di sisinya, lalu mereka tidak memasukkannya ke dalam surga”. Maka aku jawab: “Amin”. (HR. Al Hakim).

Dari hadits ini, maka seorang Muslim yang berusaha mendapatkan ampunan dosa, akan bergembira dan berbahagia dengan datangnya bulan Ramadhan. Kegembiraan dan kebahagian itu mesti harus dibarengi dengan adanya amalan-amalan shalih agar Allah SWT menghapuskan dosa dan perbuatan jeleknya.

Termasuk amalan shalih adalah mengakui bersalah dan memohon ampunan kepada Allah. Selain itu, amalan shalih utama yang dapat menjadi factor penyebab mendapatkan ampunan Allah yakni mentauhidkan Allah.

Siapa yang tidak mentauhidkan Allah SWT, maka kehilangan ampunan dariNya. Siapa yang mentauhidkan Allah SWT maka ia telah memiliki sebab ampunan yang paling agung. Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. An-Nisâ‘: 48)

Siapa saja yang membawa dosa sepenuh bumi bersama tauhid, maka Allah SWT akan memberikan ampunan sepenuh bumi kepadanya. Jika semua itu dikehendaki oleh Allah SWT.

Oleh karena itu, siapa yang merealisasikan kalimatut tauhîd di hatinya, maka kalimatut tauhîd tersebut akan mengusir kecintaan dan pengagungan kepada selain Allah SWT dari hatinya. Ketika itulah dosa dan kesalahan dihapus secara keseluruhan, walaupun sebanyak buih di lautan.

Abdullah bin ‘Amr ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah akan menyendirikan seorang dari umatku (untuk dihadapkan) di depan semua makhluk pada hari Kiamat. Lalu Allah menghamparkan sembilan puluh sembilan lembaran (catatan amal) miliknya. Setiap lembaran seperti sejauh mata memandang.

Kemudian Allah berfirman: “Apakah kamu mengingkarinya? Apakah malaikat pencatat amalan menzhalimimu”. Maka ia pun menjawab: “Tidak wahai Rabbku”. Lalu Allah berfirman lagi: “Apakah kamu memiliki udzur?” ia menjawab: “Tidak ada wahai Rabb”. Lalu Allah berfirman: “(Yang benar) ada, sesungguhnya kamu memiliki kebaikan di sisi Kami, tidak ada kezhaliman atasmu pada hari ini”.

Lalu dikeluarkan satu kartu berisi syahadatain. Kemudian Allah berfirman: “Masukanlah dalam timbangan!” Ia pun berkata: “Wahai Rabbku apa gunanya kartu ini dibandingkan lembaran-lembaran itu?” Maka Allah berfirman: “Sungguh kamu tidak akan dizhalimi”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Selanjutnya lembaran-lembaran tersebut diletakkan dalam satu anak timbangan dan kartu tersebut di anak timbangan yang lain. Ternyata lembaran-lembaran terangkat tinggi dan kartu tersebut lebih berat. Maka tidak ada satu pun yang lebih berat dari nama Allah”.

Dalam hadits qudsi Rasulullah SAW bersabda : “Allah berfirman: Wahai anak keturunan Adam, seandainya kamu membawa dosa sepenuh bumi kemudian kamu menjumpai-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatu dengan-Ku (tidak berbuat syirik) tentu saja Aku akan membawakan untukmu sepenuh bumi ampunan.”  (HR. Muslim).

Dari hadits-hadits ini menjadi jelas bahwa keutamaan dan kemurahan dari Allah SWT dengan pengampunan seluruh dosa yang tidak ada tercampuri dengan kesyirikan.  Kalimat tauhid adalah kalimat ikhlas yang menyelamatkan pemiliknya dari adzab.

Allah SWT menganugerahinya surga dan menghapus dosa-dosa yang seandainya memenuhi bumi asalkan hamba tersebut telah mewujudkan tauhid.

Selain tidak syirik kepada Allah SWT, factor mendapat ampunanNya yakni : puasa di bulan Ramadhan. Seorang mu’min yang melaksanakan ibadah puasa yang terdorong oleh niat beriman kepada Allah SWT, merealisasikan ketaatan kepada-Nya dan mengharapkan pahala dari Allah SWT. maka dia layak memperoleh ampunanNya. Dalam sebuah hadits dinyatakan : “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan ingin mendapatkan pahala, maka diampuni semua dosanya yang telah lewat. (HR. Bukhâri dan Muslim).

Dalam hadits yang lain, Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah mewajibkan puasa Ramadhan dan saya menyunnahkan bagi kalian shalat malamnya. Maka barangsiapa melaksanakan ibadah puasa dan shalat malamnya karena iman dan karena ingin mendapatkan pahala, niscaya dia keluar dari dosa-dosanya sebagaimana saat dia dilahirkan oleh ibundanya.” (HR. An Nasai).

Dengan melaksanakan semua ini berarti seorang Muslim telah menjaga waktu siangnya dengan puasa, memelihara waktu malamnya dengan shalat tarawih serta berusaha mendapatkan ridha Allah SWT.

Bersamaan dengan hadirnya bulan Ramadhan inilah, saatnya para mu’minin mengadukan kepada Allah SWT. Mengadukan akan kelemahan dirinya, mengadukan kesalahannya dan sekaligus mengadukan sejumlah perilaku kedloliman yang terjadi nyata. Allah SWT pasti senang melihat hambaNya mengadu.

Sebab dengan itu Dia akan memperlihatkan kebesaranNya saat harapan hambaNya tak terbatas. Para Nabi dan Rasul pun mengajari orang-orang yang terdlolimi untuk menyebut kebesaranNya. Dan pada akhirnya kebesaranNya menghancurkan kedloliman. Wa Allahu a’lam bishab. (***)

 

======================
--------------------

Berita Populer

To Top