HUKRIM

Percobaan Pembunuhan, Polce Ririhena Dituntut 3 Tahun Penjara

RakyatMaluku.com – Terdakwa Polce Ririhena (36), warga Desa Wassu, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), dituntut tiga tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Ambon. Sebab, perbuatan terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana percobaan pembunuhan terhadap Piter Ledrik Ririhena mengunakan senjata tajam jenis parang.

“Perbuatan terdakwa Polce Ririhena terbukti bersalah melanggar Pasal 338 Jo Pasal 53 ayat 1 KUHP. Menyatakan barang bukti berupa sebilah parang berukuran panjang 70.8 cm dan sebilah parang berukuran panjang 50.5 cm dirampas untuk dimusnahkan,” ucap JPU Inggrid Louhenapessy, saat membacakan amar tuntutannya di Pengadilan Negeri (PN) Ambon, Senin, 7 Mei 2017.

JPU dalam dakwaanya menjelaskan, percobaan pembunuhan tersebut terjadi di Desa Wassu, Kamis 8 September 2017, sekitar pukul 16.15 Wit. Awalnya, saksi korban (Piter Ledrik Ririhena) bersama-sama masyarakat lainnya dan juga Pemerintah Negeri Wassu sedang bergotong-royong membuat jalan setapak di depan kuburan Negeri Wassu, tiba-tiba terdakwa muncul dan berteriak “Ledrik saya akan bunuh kamu”.

Mendengarkan kalimat tersebut yang keluar dari mulut terdakwa, saksi korban langsug mendekati terdakwa dan bertanya “Nyong bapak salah apa, bapak mengapa ?. Tak banyak bicara, terdakwa langsung mengeluarkan parang yang diselipkan di pinggangnya dan langsung mengayunkan parang tersebut ke arah saksi korban, beruntung saksi korban berhasil menghindar.

Terdakwa kembali mengayunkan parang untuk kedua kalinya ke arah tubuh saksi korban, namun saksi korban kembali menghindar. Dan untuk yang ketiga kalinya terdakwa mengayunkan parang untuk memotong saksi korban, saksi korban berhasil menangkisnya dengan balok kayu yang sementara digenggamnya untuk memukul tanah agar pada di jalan setapak yang sementara dikerjakan.

Selanjutnya, terdakwa pulang ke rumahnya untuk mengambil parang dan kembali mencari saksi korban di rumah saksi korban, namun tidak bertemu dengan saksi korban. Terdakwa kemudian kembali ke tempat pertama, namun yang ada hanya istri saksi korban. Terkdakwa kemudian memaki istri saksi korban.

Setelah malamnya saksi korban hendak pergi ke gereja untuk melakukan pergumulan karena saksi korban merasa terancam dengan terdakwa. Saksi korban tidak pernah merasa ada masalah dengan terdakwa. Saksi korban juga tidak tahu maksud dan tujuan terdakwa hingga melakukan percobaan pembunuhan terhadap dirinya.

Atas percobaan pembunuhan itu, saksi korban merasa malu terhadap masyarakat setempat dan saksi korban sangat menyesal karena saksi korban adalah seorang pelayan di gereja (majelis Jemaat Wassu sekaligus sekretaris Jemaat Negeri Wassu.

Setelah mendengar pembacaan tuntutan JPU, Ketua Majelis Hakim Felix Ronny Wiusan, didampingi dua hakim anggota Sofyan Parerungan dan Philips Pangalila, kemudian menunda persidangan hingga Rabu, 9 Mei 2018, dengan agenda sidang Pleidoi (Pembelaan) oleh Penasehat Hukum terdakwa, Misna S Weul Artafella,SH. (RIO)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top