NEWS UPDATE

Praktisi Hukum Nilai Putusan Hakim PN Ambon Tidak Adil

Dua ASN Yang Pesta Sabu Di Rumah Dinas Wagub Maluku Hanya Divonis 8 Bulan Penjara

PUTUSAN majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Ambon terhadap dua aparatur sipil negera (ASN) pada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku, Randy Stephen Hogendorp alias Rendy dan Taufan Hakim Marasabessy alias Tomi, dalam perkara Narkotika jenis Sabu, mulai menjadi sorotan publik.

Bagaiman tidak, dalam putusan yang dibacakan Ketua Majelis Hakim Hamzah Khailul didampingi dua hakim anggota Lucky R. Kalalo dan Philip Pangalila, Selasa, 16 Juli 2019, kemarin, hanya menjatuhkan hukuman pidana penjara kepada kedua terdakwa itu selama delapan bulan.

Putusan ini dinilai tebang pilih oleh publik. Sebab, banyak terdakwa dengan perkara yang sama dan fakta sidang yang sama, yakni menyalahgunakan Narkotika jenis sabu sebagaimana terbukti Pasal 127 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 Tentang Narkotika, rata-rata dijatuhi hukuman pidana penjara diatas satu tahun.

Praktisi Hukum Henry Lusikooy SH.,MH, saat dimintai tanggapannya terkait putusan majelis hakim itu mengatakan, setiap memutus suatu perkara, majelis hakim tentu melihat berbagai pertimbangan dalam fakta sidang, diantaranya keterangan saksi dan barang bukti.

Meskipun sebagian orang menilai putusan tersebut tidak adil, lanjut Lusikooy, namun bagi majelis hakim yang mengadili perkara itu sendiri telah adil. Sebab, keadilan hukum itu sifatnya relatif.

“Rasa keadilan terhadap putusan majelis hakim sifatnya relatif. Artinya, vonis delapan bulan penjara mungkin bagi hakim itu sudah adil sebagai efek jera bagi pengguna untuk berhenti mengkonsumsi narkoba. Tapi bagi sebagian orang mungkin putusan hakim itu tidak adil,” paparnya. 

Dikatakannya, jika membandingkan putusan dalam perkara dan fakta sidang yang sama, yakni penyalahgunaan Narkotika jenis Sabu, namun hukuman pidana penjaranya berbeda, menurutnya hal tersebut tidaklah adil.

“Kalau dibandingkan dengan perkara lain dengan perbuatan dan bukti yang sama namun hukuman berbeda, menurut saya itu tidak adil. Jadi sebaiknya untuk menetapkan rasa keadilan bagi semua orang, maka putusannya harus sama. Kalau yang lain divonis diatas satu tahun maka semua harus sama,” terang Lusikooy.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Pengadilan Negeri (PN) Ambon menjatuhkan hukuman pidana penjara kepada terdakwa Randy Stephen Hogendorp alias Rendy dan terdakwa Taufan Hakim Marasabessy alias Tomi selama delapan bulan.

Sebab, perbuatan dua aparatur sipil negera (ASN) pada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku itu terbukti bersalah melakukan tindak pidana memiliki dan menyalahgunakan Narkotika jenis sabu-sabu.

“Menyatakan, perbuatan terdakwa Randy Stephen Hogendorp alias Rendy dan terdakwa Taufan Hakim Marasabessy alias Tomi terbukti melanggar Pasal 127 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 Tentang Narkotika,” ucap Ketua Majelis Hakim Hamzah Khailul didampingi dua hakim anggota Lucky R. Kalalo dan Philip Pangalila, saat membacakan amar putusannya, Selasa, 16 Juli 2019.

Terhadap hukuman tersebut, baik Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku J.W. Pattiasina maupun Penasehat Hukum (PH) terdakwa, Alfred V. Tutupary SH, sama-sama menerima putusan pengadilan. Ketua Majelis Hakim Hamzah Khailul kemudian menetapkan perkaranya telah berkekuatan hukum tetap (inkrach).

Hukuman yang dijatuhi pengadilan itu lebih ringan dari tuntutan JPU, yang sebelumnya meminta majelis hakim yang mengadili perkara ini agar menjatuhkan hukuman pidana penjara kepada kedua terdakwa selama satu tahun dua bulan (1,2), dikurangi selama terdakwa ditahan.

JPU dalam dakwaannya menjelaskan, kedua terdakwa itu berhasil ditangkap petugas Direktorat Narkoba Polda Maluku saat pesta sabu di rumah dinas wakil Gubernur (Wagub) Maluku, Jalan Karang Panjang (Karpan), Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, tepatnya di dalam kamar terdakwa Markus Pattimaipau alias ​​Maku (berkas terpisah) yang adalah ajudan mantan Wagub Maluku Zeth Sahuburua, Senin, 18 Februari 2019, sekitar pukul 14.00 Wit.

Awalnya, terdakwa Tomi menghubungi terdakwa ​​Maku yang juga seorang anggota Polri berpangkat Bripka pada Senin, 18 Februari 2019, sekitar pukul 10.00 Wit, menanyakan ada barang (sabu) atau tidak. Lalu dijawab oleh terdakwa Maku “ada tapi tunggu sebentar, nanti saya hubungi kamu lagi”.

Kemudian sekitar pukul 12.00 Wit, giliran terdakwa Rendy yang menghubungi terdakwa ​​Maku menanyakan sabu, dan dijawab oleh terdakwa Maku “barang (sabu) ada, kalau mau naik sekarang langsung ke kediaman Wagub Maluku.

Mendengar barang (sabu) ada, terdakwa Rendy langsung menghubungi terdakwa Tomi untuk pergi sama-sama ke rumah dinas Wagub Maluku di Karpan. Dan sekitar pukul 12.30 Wit, terdakwa Rendy dan terdakwa Tomy yang adalah aparatur sipil negara (ASN) menuju rumah dinas Wagub Maluku.

Sesampainya di kediaman Wagub Maluku, terdakwa Maku langsung membawa terdakwa Rendy dan terdakwa Tomy ke dalam kamar terdakwa Maku. Kemudian terdakwa Maku mengeluarkan sabu dan diberikan kepada terdakwa Rendy dan terdakwa Tomy untuk dikonsumsi bersama.

Sekitar pukul 13.45 Wit, ketiga terdakwa itu sudah selesai mengkonsumsi sabu, namun masih sementara duduk bercerita didalam kamar. Dan tepatnya pukul 14.00 Wit, datanglah petugas kepolisian dan masuk ke dalam kamar dimana para terdakwa berada.

Dari hasil penggeledahan, petugas kepolisian menemukan plastik ukuran kecil kosong dan alat hisap (bong). Selanjutnya ketiga terdakwa dibawa ke kantor Direktorat Narkoba Polda Maluku di kawasan Mangga Dua, untuk diambil keterangan lebih lanjut. (RIO)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top