NEWS UPDATE

Puasa Dan Kesadaran Ilahiyah

Oleh: Hasbollah Toisuta, Rektor IAIN Ambon 

SALAH satu dimensi yang paling esensial dari Agama adalah menanamkan kesadaran pemeluknya tentang adanya yang “Ada” (al-haq). Kesadaran akan adanya yang “Ada” ini dalam Islam dimanifestasikan secara simple dengan mengikrarkan pengakuan keimanan tentang adanya Allah yang Maha gaib yang bagi umat Islam disimbolkan dengan ucapan kalimat tauhid (laa ilaaha illa Llah – tiada tuhan kecuali Allah).

Pengakuan Ada dan Esa-nya Allah sebagai zat yang transenden tersebut mendasari semua pilar dari bangunan keberagamaan setiap muslim.

Dalam kalimat tauhid, laa ilaaha illa Llah ini terdapat dua pernyataan penting, yakni pernyataan negasi dan appirmasi. Pernyataan negasi terdapat pada kalimat laa ilaa ha yang berarti tidak ada tuhan. Pernyataan negasi disini berarti suatu proses pembebasan diri dari model mempertuhankan ilah-ilah yang berwujud benda, atau isme-isme selain Yang Haq.

Sementara itu pernyataan appirmasi adalah statemen penegasan yang terdapat pada kalimat illa Llah (kecuali Allah). Dengan demikian kalimat tauhid, laa ilaaha illa lLah mengandung makna proses untuk membebaskan diri dari model pemberhalaan (baca: mempertuhankan) terhadap tuhan-tuhan palsu – yang dalam dunia moderen saat ini bisa saja tuhan palsu itu berwujud pangkat, jabatan, harta, uang, ambisi (hawa nafsu) dan sebagainya – dan diikuti dengan penegasan appirmasi bahwa hanya Allah yang patut disembah (haqqul ma’bud).

Implikasi dari sikap meyakini ke-Esa-an Allah sebagai haqqul ma’bud adalah menyadari akan kehadiran-Nya. 

Allah yang kita imani sebagai satu-satunya objek sembahan adalah Dia yang Maha Tinggi (ta’aala), Maha Besar (akbar), adalah juga Dia yang Maha Dekat (qarib) dengan hamba-Nya.

Beberapa ayat dalam Al-quran secara eksplisit menggambarkan kedekatan Allah dengan hamba-Nya, misalanya dalam Q.S. Al-baqarah: 186; “Dan jika engkau Muhammad ditanya tentang Aku maka jawablah sesungguhnya Aku dekat kepadanya. Aku mengabulkan permintaanya jika iya bermohon kepada-Ku…” Pada ayat yang lain Allah juga mengingatkan kita bahwa kedekatan-Nya dengan sang hamba lebih dekat sedekat dia (hamba) dengan urat lehernya sendiri; “wa nahnu aqrabu ilaihi min hablil warid” (Dan Kami – Allah – lebih dekat kepadanya dari pada dia dengan urat lehernya sendiri (Q.S.50:16).

Maka kesadaran tentang Dia yang “Ada” sejatinya disertai dengan kesadaran tentang Dia yang Maha Dekat dan Maha Hadir (omnipresent), bahwa Allah selalu menyertai hamba di manapun dia berada. 

Pertanyaan kemudian adalah, lalu bagaimana sesorang membangun sensitifitas atau kesadaran akan kemahahadiran Allah pada darinya? Pada titik inilah, puasa Ramadhan menjadi medium utama pembelajaran untuk menumbuhkan kesadaran ilahiyah.

Puasa sebagai ibadah sirriyah yang kerahasiaannya hanya diketahui oleh Allah danorang yang berpuasa itu sendiri. Seseorang mungkin saja bersembunyi dari khalayak manusia – untuk melakukan aktifitas makan dan minum -, tapi di dalam kesendiriannya itu dia menyadari bahwa bersama dia ada Allah yang melihatnya, dia tidak mungkin bersembunyi dari Allah. Dengan begitu maka mengenal adanya Allah (ma’rifah) adalah inti dari ajaran puasa Ramadhan.

Begitu esensialnya nilai ibadah puasa di dalam membangun perspektif kesadaran ilahiyah itulah maka Allah menjanjikan pahala besar yang tidak sebanding dengan ibadah lainnya.

Dari sini kita dapat memaknai firman Allah dalam hadis qudsi; “Semua amal anak Adam adalah untuknya pribadi, kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya”.

Pertanyaan selanjutnya adalah efek apa yang secara intrinsik dan ekstrinsik bisa diperoleh dari hidup yang dilandasi dengan kesadaran ilahiyah ini? Secara intrinsik orang yang hidup dengan kesadaran ilahiyah selalu rindu akan keakrabannya dengan Allah. 

Kerinduan inilah yang membuat dia senantiasa tulus dalam menunaikan ibadah kepada-Nya. Hatinya dipenuhi dengan cinta dan cinta itu memantul dalam sikap dan perangai yang melimpah dengan kearifan. Adapun secara ekstinsik, mereka yang hidup dengan memiliki kesadaran ilahiyah akan menanggapi lingkungan sosialnya dengan penuh empati. 

Mereka bersedia berkurban untuk kepantingan masyarakat luas dan tidak menjalani hidup secara absurd. Mereka tampil ke depan membela kebenaran, menaburi semangat perdamaian dancinta sesama, serta tak putus asa menegakkan amar makruf dan nahi munkar. Wallahu ‘alam. (***)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top