NEWS UPDATE

Puasa Sebagai Ilmu

Oleh: A. Malik Ibrahim
Pemerhati Masalah Sosial dan Politik. Bermukim di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara

DALAM Eksiklopedi Al-Qur’an dijelaskan bahwa ilmu terambil dari kata Ilm berasal dari bahasa Arab. Kata jadian dari alima, ya’lamu, menjadi ilmun, ma’lumun, alimun dan seterusnya. Tiga kata yang terakhir itu menjadi kata Indonesia : Ilmi, maklum dan alim-ulama. Oleh Al-Qu’ran kata kerja ini diangkat dalam berbagai kata jadian dan pengertian moral dan etis yang mendalam.

Bagaimana sebenarnya istilah ilm ini diinterpretasikan dalam konteks berpuasa? Allah berfirman dalam surat al-Mujaadilah ayat 11 yang berbunyi : “Allah akan meninggikan martabat orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat”. Karena menuntut ilmu dinyatakan wajib, maka kaum Muslimin pun menjalankan sebagai sebagai ibadah.

Ketika Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk tunduk kepada Adam, maka merekapun tunduk , kecuali Iblis. “Dan ketika Kami firmankan kepada para malaikat ‘sujudlah kamu kepada Adam’, merekapun bersujud, kecuali iblis. Ia enggan dan menyombongkan diri. Dan iapun masuk golongan yang kafir”.(Q.S. al-Baqarah : 34).

Ahli tafsir dan tokoh pembaharu terkemuka, Maulana Muhammad Ali, dalam tafsir The Holy Qur’an, memberi penjelasan yang menarik mengenai iblis yang disebut dalam ayat 34, surat al-Baqarah tersebut di atas. Iblis dan setan, katanya, pada hakekatnya sama. Keduanya adalah makhluk jahat. Jika kejahatan itu mengenai diri sendiri, ia disebut setan. Iblis berarti yang sombong dan setan berarti yang menggoda. Iblis dan setan adalah musuh “akal sehat”. Keinginan rendah manusia, sering tidak mau tunduk pada akal (Ulumul Qur’an, No. 2 : 21).

Selama ini kita cenderung mengartikan ibadah puasa dengan membatasinya pada aspek yang bersifat ritual. Padahal puasa hadir pada manusia sebagai peraturan. Bahkan jauh sebelum atau di balik maqam kedudukan hukumnya, maka ibadah puasa pertama-tama adalah ilmu pengetahuan. Hukum tumbuh dari akar ilmu, dalam arti seseorang harus berpengetahuan terlebih dahulu terhadap konteks hukum yang menimpanya. Artinya, bila seseorang berpuasa tanpa menghayati bahwa fenomena lelaku puasa adalah ilmu hidup, pengetahuan, serta metode untuk pengembangan kemanusian tertentu, maka yang ia lakukan adalah berlapar dan berhaus, belum tentu puasa. Gambaran ini terdapat dalam hadis Nabi yang mengungkapkan :”Berapa banyak orang yang berpuasa tapi ia tidak mendapatkan dari puasa itu kecuali lapar dan dahaga”. (HR.Ibnu Majah dan Nasa’i).

Adapun makna puasa sebagai ilmu adalah memperoleh hikmah atau pelajaran, orang yang dapat memetik hikmah adalah orang yang dapat mengambil pelajaran (Ibrah) dari pengalaman berpuasa. Sebagai contoh ketika Allah menuturkan perintah berpuasa, disebutkan : “Wahai orang-orang yang beriman….”. artinya, tingkat kualitas pekerjaan berpuasa dimuati syarat oleh iman, Dan iman adalah suatu keadaan atau ekspresi kejiwaan terhadap perangkat dan fitur pengetahuan dengan batas-batasnya. Dengan demikian, orang yang tak mengembangkan pengetahuan tentang puasa akan kehilangan relevansinya terhadap konteks iman dalam perintah itu.

Ternyata untuk mengetahui, menginsyafi dan merasakan makna puasa sebagai ilmu tidak cukup dari sekedar “tahu”, karena ilm itu sinonim dengan kata ma’rifah. “Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul (wahyu), kamu lihat mereka mencurahkan air mata, disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (arafu)”. (al-Maidah : 83). Dalam Al-Qur’an sendiri kata hikmah memang berkaitan dengan pelajaran. Orang bisa “memetik hikmah” adalah orang yang “mengambil pelajaran” dari pengalaman. Sebagai sesuatu yang sangat berharga, seperti tercermin dalam al-Qur’an: ”Allah memberi hikmah kepada siapa yang dikehendaknya. Dan barangsiapa yang mendapatkan hikmah sesungguhnya ia telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran (dzikir), kecuali orang yang berakal (ulul ‘al –albaab)”.(al-Baqarah :269).

Puasa sebagai proses belajar berkaitan dengan aktivitas mental yang disebut fikir dan dzikir. Orang yang memiliki aktivitas ini dapat mencapai dan menciptakan etika hidup yang lebih fungsional. Puasa dalam perspektif ini, mungkin memberikan dasar-dasar moral dan etik pada manusia untuk aktif, berinisiatif melakukan internalisasi nilai di balik usaha puasa. Pada tingkat ini efek puasa kelak melahirkan suatu proses peralihan dan pengolahan dari suatu kondisi kejiwaan tertentu menuju kondisi lain yang lebih matang, arif dan bijaksana. Setidaknya, membangkitkan suasana batin yang lebih intens terhadap segala peristiwa kemanusian di sekitar kita.

Puasa adalah ilmu hati kesabaran. Ikhlas karenaNya, dan semata-mata untuk mencari ridha Allah. Imam al-Ghazali berkata, sabar merupakan ciri khas manusia, karena hewan dan malaikat tidak memerlukan sabar. Hewan tidak memerlukan sifat sabar karena diciptakan tunduk sepenuhnya pada hawa nafsu, bahkan hawa nafsu itulah satu-satunya yang mendorong ia untuk bergerak atau diam. Sedangkan malaikat, tidak memerlukan sifat sabar karena memang tidak ada hawa nafsu yang harus dihadapinya. Jadi, sabar termasuk maqam yang tinggi dalam perjalanan menuju dan mengenal Allah.

Puasa bekerja bersama dengan nalar dan perasaanmu, dengan pengalaman badan dan batinmu. Untuk menemukan yang paling subtil dan sejati dari hakikat ketaqwaan. Bila seseorang berpuasa tanpa menghayati bahwa fenomena laku puasa adalah ilmu hidup, pengetahuan serta metode untuk pengembangan kemanusiaan tertentu, maka yang ia lakukan adalah berlapar dan berhaus, belum tentu berpuasa : apa kata nalar kita? Karena itu, puasa merupakan fenomena ruhani yang menyesapkan isyarat berupa sebilah makna ilmu di dalamnya, dan hanya orang-orang yang ikhlas- tulus menekuninya dapat menangkap isyarat itu. (*)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top