NEWS UPDATE

Ramadhan Ibadah Yang Berkesan

Oleh: Hasbollah Toisuta, Rektor IAIN Ambon

Bila kita diperhadapkan dengan pertanyaan, “di antara ke lima rukun Islam – syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji – manakah yang paling terasa berkesan

di dalam hidup”. Pasti jawaban kita adalah puasa Ramdhan yang paling dalam kesannya terhadap pribadi kita. 

Mengapa? Syahadatain (melafakan dua kalimat syahadat) adalah rukun Islam yang menempati urutan pertama bahkan utama diantara kelima tiang penyangga Islam, namun karena rukun Islam pertama ini menjadi ibadah lisan yang “ringan” yang mudah diucapkan, yakni cukup dengan melafalkan dua kalimat syahadat, maka kesannya tidak terasa meskipun implikasinya revolusioner ketika seseorang mengikrarkan syahadatain ini.

Sholat lima waktu adalah rukun Islam yang kedua bahkan menjadi tiang agama dalam Islam. Namun ibadah sholat, proses pembelajarannya sejak dibimbing oleh orang tua di rumah atau guru sekolah di masa kecil, tidaklah terlalu menanamkan kesan yang dalam. Meskipun setiap hari lima kali kita melaksanakan kewajiban ini.

Demikian pula dengan Zakat sebagai rukun Islam ke tiga. Zakat adalah ibadah maaliah yang berhubungan dengan harta sehingga kesan yang ditanamkan mungkin hanya dirasakan oleh orang-orang yang berharta saja. Begitu pula dengan Haji.  

Sebagai rukun Islam yang ke lima ibadah haji adalah ibadah yang mempersyaratkan kemampuan istatha’ah, baik kemampuan fisik maupun kemampuan finansial. Bagi mereka yang tidak berpunya pasti tidak merasakan kesan yang diperoleh dari rukun Islam yang ke lima ini. Lain halnya dangan ibadah puasa Ramadhan. Setiap kita pasti memiliki pengalaman yang mendalam dari sejak kecil bagaimana meriahnya menyambut bulan Ramadhan.

Pengalaman pertama mulai dibimbing membaca niat puasa. Sholat Tarawih berjamaah dan tadarusan di masjid yang terkadang diwarnai dengan “insiden” keributan semasa anak-anak. 

Bagaimana beratnya melawan rasa ngantuk ketika dibangunkan orang tua untuk sahur bersama, bagaimana pula kesan yang ditimbulkan ketika pertama-tama bejuang melawan rasa lapar dan haus selama seharian, bahkan terkadang diam-diam mengambil segelas air dan meminumnya secara sembunyi untuk tidak diketahui orang tua (karena masih dalam proses belajar berpuasa).

Selanjutnya bagaimana kesan yang begitu membekas ketika menerima baju lebaran dari orang tua, atau menerima ajakan orang tua untuk mengunjungi kaum fuqara’ dan masaakin untuk membagikan zakat fitrah, sampai kepada melaksanakan sholat ‘ied di masjid atau lapangan.

Semua pengalaman seperti ini mengukir kesan yang begitu mendalam terhadap pribadi setiap muslim, sejak masa anak-anak hingga dewasa.Bahkan tidak dapat dipungkiri pengalaman yang membekas dari tahun ke tahun ini turut membentuk kepribadian seseorang muslim bila pengalaman tersebut terus hidup dalam sebuah kesadaran transendental.

Artinya, kesan yang begitu dalam diperoleh dari puasa Ramadhan tidak berhenti dengan gugurnya kewajiban semata. Proses internalisasi terhadap nilai-nilai puasa itulah yang harus terus direnungkan untuk mendapatkan rahasia dan hikmah dibalik pengalaman spiritual yang berkesan tersebut. 

Tentu kita akan mendapati begitu banyak hikmah dari aktifitas puasa Ramadhan, dari hikmah melafalkan niat berpuasa, tadarusan, tarawih, shadaqah, sampai kepada hikmah pengendalian diri dengan menahan lapar dan haus itu sendiri. Semuanya menjadi media pembentukan karakter yang paripurna. Wallahu’alam. (***)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top